
Di hamparan padang pasir nan luas tanpa adanya pepohonan maupun tumbuhan lain yang hidup, terlihat seorang wanita berjalan dengan terhuyung-huyung, sepertinya wanita itu sudah sangat kelelahan bahkan kehausan sehingga tidak memiliki cukup banyak tenaga untuk dirinya terus berjalan, di tambah matahari yang terik nyaris membakar kulit wanita itu. Sudah berusaha untuk bertahan tapi apa daya tenaga yang tersisa tinggal sedikit membuat tubuh wanita itu tidak mampu lagi untuk bertahan hingga akhirnya dia harus tumbang di tengah padang pasir yang sangat luas itu.
Apakah aku akan mati dalam kondisi seperti ini. Batin wanita itu
Dari kejauhan nampak lelaki berkuda menghampiri wanita itu, ia pun rela turun dari kudanya hanya untuk memberikan minuman nya kepada wanita malang itu.
" Ini buat kamu" lelaki itu menyerahkan botol minumannya
" Terimakasih " jawab wanita itu sambil menengadahkan kepalanya
" Mas Dion " imbuh wanita itu terkejut
Mata lelaki itupun menjadi terbelalak ketika melihat wanita yang di tolong nya adalah wanita yang selama ini dia kasihi.
" Raya bagaimana keadaanmu?" tanya lelaki itu panik
" Aku baik-baik saja, mas tolong ajak aku pergi bersama mu, aku tidak mau berada di tempat ini sendirian." ucap wanita itu dengan iba
" Maafkan aku sayang untuk kali ini kamu harus menghadapinya sendiri" sambil mengusap lembut pipi wanita itu
" Tidak! aku tidak mau sendiri, aku mau terus bersama mu sampai kapanpun." wanita itu masih terus berusaha mencegah lelaki di hadapan nya pergi meninggalkannya. Dengan sekuat tenaga wanita itu mencengkeram pucuk pakaian dari lelaki itu, tapi lelaki itu manapiknya lalu pergi meninggalkannya.
" Mas Dion... Mas Dion jangan tinggalkan aku" rintih Raya seraya matanya masih terpejam
Sophia yang berbaring di samping Raya, mendengar temannya mengigau berusaha membangunkannya.
" Raya bangun Raya bangun" sambil terus mengguncang tubuh Raya
Setelah terbangun dengan cepat Sophia memeluknya.
__ADS_1
" Kamu bermimpi apa Raya sampai sehisteris gitu?" Yang di tanya hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. "Yasudah kamu kembali istirahat saja ya! mimpi yang baru saja kamu alami hanya bunga tidur jadi jangan khawatir" imbuh Sophia
" Aku mau pulang Sophia" ucap Raya tiba-tiba yang membuat Sophia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. " Kamu bercanda kan?" tanya Sophia
" Aku serius, aku mau pulang " Raya menjawab dengan mukanya yang serius
" Tapi bagaimana mungkin kamu mau pulang sedangkan suamimu saja meragukan kehamilan mu, aku tidak mengerti kenapa kamu bisa berubah pikiran secepat itu, apa ini ada kaitannya dengan mimpi yang barusan kamu alami?"
Mendengar pernyataan dari sahabatnya itu membuat Raya terdiam sejenak, dia seperti orang yang linglung.
" Raya sebaiknya kita bicarakan ini besok, kamu istirahat saja dahulu." Sophia memberi saran sembari menidurkan Raya
Keesokan harinya, cuaca tidak secerah seperti biasanya itu di karenakan awan hitam yang mendominasi langit, sepertinya tidak akan lama lagi hujan akan menyapa penduduk bumi.
Sementara itu di dalam kamar yang cukup luas dengan berbagai furniture mewah di dalamnya serta fasilitas yang cukup bisa memanjakan ada seorang perempuan yang sedang berjalan mondar mandir dengan segala kegelisahan di dalam hatinya, wanita itu tidak lain adalah Raya, sudah hampir tiga puluh menit dia melakukan hal itu.
Apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar ingin pulang dan bertemu mas Dion, seharusnya aku tidak meninggalkannya, karena itu semua bukan murni kesalahannya dia hanya bertindak berdasarkan apa yang sedang dia pikirkan.
" Sophia aku mau kamu mengantarku kembali pulang" pinta Raya tiba-tiba dengan nada suara yang lemah
" Kenapa? Dion bukan lelaki baik yang bisa membahagiakanmu, dia hanya bisa memberi duka. Pokoknya sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menemui Dion." jawab Sophia dengan sedikit membentak
" Mengapa kamu jadi seperti ini Sophia? biasanya kamu selalu mendukung ku?" tanya Raya dengan tatapan pilu
Segera Sophia memegang pundak sahabatnya " Karena aku sangat sayang dan peduli kepadamu, aku tidak mau jika hal buruk kembali muncul setelah kamu bersama Dion lagi " ujar Sophia
" Kali ini beda Sophia, aku merasakan kalau Dion akan meninggalkan ku dan aku tidak bisa hidup tanpa dirinya, jadi kumohon tolong antarkan aku menemui suamiku!"
Sophia sangat kesal dengan sikap batu sahabatnya itu, dia tidak lagi meladeni apapun yang di ucapkan olehnya. Tanpa pamit Sophia segera meninggalkan kamar Raya dan mengunci pintunya dari luar sebab dia takut jika sahabatnya itu nekat untuk kabur dari kamar dan menemui suami yang telah menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Bagaimana ini Sophia terlihat sangat kesal setiap aku memintanya untuk mengantar pulang, tapi aku tidak bisa jika terus berada di sini, aku harus menemui mas Dion dan mencoba meluruskan segala kesalah pahaman di antara kita. Apa sebaiknya aku kabur dari sini saja.
Setelah membulatkan niatnya Raya pun mencari cara agar dirinya bisa keluar dari kamar itu, sudah hampir lima belas menit lamanya dirinya mencari celah untuk kabur tapi apa daya tingkat keamanan di rumah Sophia sangat tinggi jadi sangat mustahil untuk dirinya bisa kabur dari sana.
Ketika dilanda keputusasaan tiba-tiba dirinya teringat akan sesosok Asep, tanpa berpikir panjang segera Raya menelepon Asep.
" Hallo Asep" Raya memulai pembicaraan
" Ada apa teh?" tanya Asep
" Sep aku butuh bantuanmu untuk mengeluarkan aku dari kamar ini"
" Tapi teh, aku tidak berani soalnya teh Sophia mengancam jika ada yang membuka pintu kamar teh Raya maka dia akan membuat perhitungan." jelas Asep dengan suara getirnya
" Asep aku memohon kepadamu tolonglah aku, apa kamu tidak merasa iba lihat aku di sekap di dalam kamar seperti ini, terlebih aku dilarang menemui suamiku sendiri." bujuk Raya
Asep yang awalnya menentang keinginan Raya pada akhirnya luluh juga dengan semua kata-kata manis yang keluar dari bibir Raya.
Dengan diam-diam di ambilnya kunci kamar yang berada di atas meja panjang yang letaknya tidak jauh dari kamar tidur Raya, secara perlahan sambil terus mengamati keadaan sekitar Asep membuka pintu kamar Raya. Begitu pintu berhasil di buka segera Raya keluar dari kamar tersebut dan mengendap-ngendap keluar dari rumah Sophia yang diikuti Asep. Sesampainya di depan gerbang Raya pun berpamitan.
" Sep Terima kasih kamu mau membantuku, aku berharap kamu masih mau bermain dengan Athala disana sampai aku kembali bersama Dion untuk menjemputnya."
" Teteh tenang saja urusan Athala biar Asep yang mengurusnya lagipula Asep sudah menganggapnya sebagai adik sendiri."
" Sekali lagi Terima kasih sekarang teteh pamit dulu."
" Tunggu, ini buat teteh semoga bisa bermanfaat dan teteh bisa secepatnya bertemu dengan kak Dion." ucap Asep sambil tangannya memberikan uang dua lembar pecahan seratus ribuan.
Raya sangat tersentuh dengan kebaikan yang di berikan Asep kepadanya, dengan tanpa ragu di peluknya Asep sambil bibirnya terus mengatakan ucapan Terima kasih.
__ADS_1
" Kamu benar-benar seperti adik bagiku Sep, aku tidak bisa lagi mengatakan apapun kecuali ucapan Terima kasih." sambil terus memeluk
Kamu menganggapku sebagai adik tapi aku menganggapmu lebih dari hanya seorang kakak.