
Kesepakatan pra nikah yang akan membuat kehidupan Raya berubah 180°, karena di kesepakatan itu dia di wajibkan melakukan semua kewajiban istri kepada suaminya kecuali aktivitas ranjang. Awalnya dia merasa keberatan tapi setelah tahu kalau ternyata Ruben mempunyai perasaan yang tulus kepadanya dia tak kuasa untuk menolaknya karena bagaimana pun juga Ruben telah banyak membantunya maka tidak berlebihan jika dia juga membalas kebaikan itu dengan sebuah kebahagiaan kecil untuk Ruben.
Setelah melakukan kesepakatan Ruben pamit sedangkan Raya kembali ke ruang keluarga menemui Sophia, dia menceritakan semua pembicaraan antara dirinya dengan Ruben.
" Kamu yakin akan melakukan itu? bagaimana kalau Dion tahu? pasti dia akan sangat marah karena cemburu" ujar Sophia mewanti-wanti
Raya nampak berpikir sesaat, "Oke kalau begitu aku akan membicarakan semua ini dengan Dion supaya dia tidak merasa dikhianati" ucapnya
" Kalau Dion tidak setuju bagaimana?"
" Benar juga, tapi kalau aku tidak memberitahunya terlebih dahulu aku takut nanti dia salah paham lagi"
" Terus apa rencanamu? oh iya aku hampir lupa, tadi pagi Dion kesini dia punya niatan untuk mengantarkan kamu ke rumah sakit buat buka perban, tapi aku bilang saja kalau kamu sudah pergi sama Ruben trus tidak lama dia pergi juga" jelas Sophia
" Kok aneh? ga mungkin Dion biasa saja tanpa reaksi apa-apa, pasti kamu belum lengkap ceritanya kan?" sambil menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke Sophia
" Iya deh aku akan jelaskan semuanya, jadi seperti biasa kalau dia tahu kamu pergi dengan orang lain pasti heboh mau nyusulin, tapi aku mencoba memberi dia pemahaman kalau sering berduaan denganmu itu bisa membuat rumor baru"
" Kamu yakin cuma ngomong kayak gitu doang?" tanya Raya memastikan
" Iya benar aku sekarang udah enggak bohong lagi, kenapa masih tidak di percaya? bikin sakit hati saja" keluh Sophia dengan wajah murungnya.
" Iya.... iya... percaya, gitu aja ngambek" sambil mencolek dagu Sophia
Sophia tidak bisa lagi menahan ketawanya, dia merasa senang jika sahabatnya masih bisa menerima nya walau dirinya sudah berulang kali membuat Raya kecewa dan sakit hati karena tingkahnya.
__ADS_1
Di sela ketawanya Sophia langsung memasang mimik serius "Raya kamu memang perempuan yang berhati mulia, tidak salah jika aku menjadikanmu sebagai sahabatku, tapi maaf aku belum bisa menjadi sahabat terbaik buat kamu. Aku selalu membuatmu kecewa dan sakit hati dengan segala tingkahku yang sok paling benar sendiri" menatap penuh ke arah Raya.
Raya segera memeluk Sophia "Kamu jangan bicara seperti itu Sophia, kamu adalah sahabat terbaik buatku karena banyak sekali kebaikan yang kamu beri hingga aku sendiri sampai bingung bagaimana caraku membalasnya.
Mendengar perkataan itu Sophia menjadi tersanjung hingga dia tidak mampu berkata-kata. " Terima kasih Raya" hanya kalimat itu yang mampu Sophia ucapkan, tanpa melepas pelukan Raya.
Di sore harinya Asep mengajak Raya pergi ke suatu tempat yang Raya sendiri tidak tahu tepatnya di mana tempat itu, karena Asep menutup kedua mata Raya menggunakan kain.
Selama dalam perjalanan Raya sangat berisik bertanya-tanya terus kepada Asep dirinya akan dibawa kemana, tapi jawaban Asep selalu saja "Teteh tenang saja".
Beberapa saat perjalanan mereka terhenti di sebuah danau yang di hias sedemikian rupa indahnya lengkap dengan sebuah perahu kecil yang berada di pinggirnya.
" Sekarang kita sudah sampai teh, teteh boleh membuka kain penutupnya" ujar Asep
Secara perlahan Raya membuka kain penutup matanya, ia nampak terkesima melihat indahnya pemandangan di depan matanya.
" Aku senang jika teteh suka, tapi sayangnya ini semua bukan aku yang membuatnya melainkan lelaki yang berada di perahu kecil itu" sambil menunjuk ke satu arah
Raya pun dengan reflek menengok ke sosok lelaki yang berada nan jauh di sana, secara perlahan di dekatinya lelaki itu hingga wajahnya kini terlihat nyata oleh Raya.
" Mas Dion? apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya
" Ayo sayang naik dulu" Dion membantu Raya menaiki perahu kecilnya.
Dengan tatapan hangat Dion menatap lekat ke wajah wanita di depannya sambil tangannya mulai mendayung.
__ADS_1
Raya yang di tatap hanya bisa salah tingkah tidak tahu harus berbuat apa.
" Mas please jangan tatap akun kayak gitu dong! bikin salting aja" seru Raya sambil mengalihkan pandangannya
" Aku tidak bisa berpaling dari wajahmu Raya" Dion terdiam sesaat setelah mengucapkan kalimat itu, lalu dengan mimik seriusnya dia kembali berkata "Menikahlah denganku! aku akan membawamu jauh dari Indonesia, kita akan memulai kehidupan sederhana di luar negeri agar tidak ada lagi yang bisa membuat rumor jahat tentang kita"
" Tapi mas, pernikahanku dengan Ruben akan di gelar dua hari lagi aku tidak bisa membatalkannya begitu saja kasihan Ruben" jelas Raya
"Jadi kamu menolakku?" dengan nada suara yang cukup keras
" Bukan begitu mas, aku hanya tidak bisa membiarkan Ruben menanggung malu. Lagipula kenapa mas bisa berubah pikiran? bukankah ini semua rencana yang mas bilang sebagai solusi dari sebuah permasalahan?" Raya mulai protes
Dion berhenti mendayung, kepalanya tertunduk "Aku merasa keputusan ku kali ini salah, karena harus merelakan orang yang paling aku cintai seatap dengan seorang lelaki, walau mungkin kalian berusaha untuk tidak saling kontak fisik tapi yang namanya cinta bisa tumbuh akibat sering bertemu dan berinteraksi. Aku tidak mau jika kamu suatu saat membagi cintamu untuk Ruben" ucap Dion dengan putus asa
" Bukankah mas punya kesepakatan dengan Ruben jika dia menikahiku hanya tiga bulan?" tanya Raya
" Ternyata kamu sudah tahu kesepakatan itu, iya memang benar tapi tetap saja aku tidak bisa tenang, jangankan tiga bulan sedetikpun aku tidak bisa membayangkan kamu berada di dekat lelaki lain"
" Lantas maunya mas apa? mas mau menarik lagi ucapan yang telah di publikasikan lewat media? maaf untuk kali ini aku tidak bisa mengikuti kemauan mas" ucap Raya dengan yakin
" Tapi kenapa Raya? apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" sambil memegang kedua tangan Raya
" Aku sangat mencintaimu mas, tapi aku tidak bisa membiarkan Ruben menanggung malu dan hinaan dari berbagai kalangan, coba mas pikir dia itu sudah berkorban banyak demi kita selama ini, masa kita tega membuatnya menderita secara batin hanya demi kebahagiaan kita. " Raya terus memberi pengertian kepada Dion
" Lalu bagaimana dengan perasaan kita?"
__ADS_1
" Aku mohon mas sabar dulu untuk sesaat bukankah hanya tiga bulan? biar tidak terasa lebih baik mas liburan saja ke luar negeri sampai tiga bulan, bagaimana?" Raya berusaha mencarikan solusi
Dion terdiam merenungi keputusannya yang salah, seharusnya dulu dia mendengarkan masukan dari Raya supaya tidak terlalu terburu-buru dalam membuat keputusan agar tidak menyesal di kemudian hari.