
Perasaan kecewa terhadap suaminya merajai seluruh hati Raya, sehingga membuat dirinya enggan untuk berhadapan lagi dengan suaminya, walau namanya secara berulang di panggil oleh suaminya dari luar Raya yang sudah terlanjur patah hati tetap pada pendiriannya untuk tidak membuka pintu kamarnya. Sampai pada akhirnya Raya mendengar ketukan yang berasal dari luar balkonnya, dengan penasaran Raya membuka pintu balkon untuk melihat siapa yang berada di luar balkonnya, Raya langsung membelalakkan matanya tatkala dia melihat sesosok lelaki yang amat sangat dia kenal.
" Mas Dion! apa yang mas lakukan disini? sampai harus naik balkon, inikan berbahaya" tanya Raya khawatir
" Aku ingin menemuimu dan meminta maaf karena sudah membuat kecewa." tutur Dion terlihat menyesal
" Mas kira dengan melakukan hal gila seperti ini bisa membuat aku lebih tenang? Mas benar-benar tidak mengerti perasaanku." Raya berpaling dan bersiap-siap untuk pergi tapi di halangi oleh Dion
" Tunggu sayang, aku benar-benar tidak mengerti kenapa kamu begitu marah, padahal aku hanya ingin ke Padang untuk beberapa hari saja tidak sampai satu minggu."
" Mas masalahnya bukan satu minggu atau satu bulannya tapi perasaanku enggak enak, aku belum bisa melepaskan mas pergi kemanapun untuk saat ini, perlu mas tahu perasaan tidak enak seperti ini pernah juga aku alami ketika aku berusia tujuh tahun. Pada saat itu kedua orang tuaku ingin berkunjung ke rumah saudara yang ada di Bandung menggunakan bus umum, sebelum mereka berangkat aku sudah merasakan sesuatu yang tidak enak dan perasaan ku itu aku curahkan kepada ibu tapi ibu seperti tidak mempercayaiku dia hanya tersenyum sambil berkata bahwa mereka akan pulang dengan selamat tanpa luka sedikitpun, mau segimana aku berusaha mencegah tetap saja mereka pergi, baru tiga jam mereka meninggalkan rumah sudah tersiar kabar kalau bus yang mereka tumpangi terjatuh di jurang, semua penumpang beserta sopir dan keneknya meninggal di tempat tidak ada yang selamat, termasuk kedua orang tuaku." Raya menutup setengah mukanya dengan telapak tangan sambil sesenggukan mengenang tragedi yang paling pahit di dalam hidupnya.
" Sudah sayang tenang, aku akan baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir, cukup doakan aku agar terhindar dari mara bahaya." sambil membelai pipi Raya
Raya hanya bisa menatap pilu ke arah suaminya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan suaminya di masa depan yang dia tahu saat ini bahwa sisa waktu yang ada ingin dia habiskan bersama dengan suami tercintanya.
" Mas boleh tidak kalau malam ini kita jalan-jalan berdua sampai waktu fajar tiba?" tanya Raya
" Boleh, memangnya kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Dion balik
" Terserah mas aja asalkan bisa bersama kemanapun aku mau." ujar Raya dengan senyum manisnya
Raya kamu memang perempuan yang sangat baik, sederhana, dan juga tulus. Aku bingung pada diriku yang dulu kenapa bisa sangat di butakan dengan dendam sehingga tidak bisa melihat betapa berharganya dirimu.
__ADS_1
" Mas kenapa diam saja? apa yang kamu pikirkan? oh ya bagaimana dengan Maya?"
" Kamu tenang saja urusan Maya biar aku yang mengaturnya, sekarang lebih baik kamu bersiap-siap untuk acara kita nanti malam" sambil mengedipkan matanya
" Ih genit amat mas sekarang, bikin geli aja" celetuk Raya yang membuat Dion tertawa
" Mas pergi dulu " ketika Dion hendak turun lewat balkon Raya dengan segera menghentikannya " Ngapain juga mas lewat balkon, lewat pintu saja bisa" kata Raya terkekeh
" Memang nya sudah boleh lewat pintu?" sindir Dion
" Sudah deh jangan mulai lagi, pergi sana" Raya mendorong punggung Dion dengan maksud agar suaminya itu segera meninggalkan kamarnya.
Di depan pintu kamar Raya, sebelum pergi Dion mencium kening istri pertamanya dengan mesra, momen itu di lihat langsung oleh Maya.
" Iya nanti saja malu kalau disini. " Dion mencoba menolak dengan kata-kata yang halus
" Enggak mau pokoknya aku mau sekarang, sayang kamu jangan berperilaku tidak adil seperti itu dong." keluh Maya
Untuk sejenak Dion terdiam sambil melirik ke arah istri pertamanya, dia ingin melihat apakah istri pertama nya itu merasa kesal atau tidak, Raya yang merasa dirinya mendapat lirikan dari suaminya segera dia balas lirikan itu dengan sorot mata yang tajam seakan-akan sorotan mata Raya itu mengisyaratkan sebuah ancamanan. Dion yang mengerti isyarat dari mata istrinya itu akhirnya memilih untuk tetap menolak permintaan istri keduanya.
" Iiiiiiihhh..... sayang kamu benar-benar pilih kasih padahal aku ini lagi mengandung anak kamu lo, yaudah karena kamu tidak mau mencium kening aku sekarang aku punya permintaan yang lain sebagai gantinya dan kamu wajib hukumnya untuk mengabulkan." Maya terus memojokkan Dion agar permintaannya di kabulkan
" Oke kali ini akan aku kabulkan, sebutkan apa permintaan mu?" tanya Dion tenang
__ADS_1
" Beneran lo ya enggak pakek acara menolak lagi? lagian permintaanku simple kok aku hanya ingin malam ini kita dinner mewah di salah satu restoran ternama di kota ini, bagaimana?" tanya Maya memastikan
" Malam ini aku enggak bisa keluar sama kamu karena aku sudah punya janji dengan seseorang" jelas Dion
" Tuh kan nolak lagi, sayang apa kamu tidak menyayangi anak kita? aku lagi hamil lo seharusnya kamu bisa menjaga mood seorang ibu hamil agar tumbuh kembang bayinya tetap optimal bukan hanya memberi rasa kecewa seperti ini, aku benar-benar kecewa sama kamu." setelah berkata Maya mengeluarkan senjata andalan setiap wanita yaitu menangis, benar saja setelah melihat Maya menangis Dion segera menghampirinya sambil mengelus punggungnya.
" Sudah jangan menangis lagi, baiklah malam ini kita dinner, tapi Raya juga ikut." Dion mencoba mengambil jalan tengah agar kedua istrinya bisa sama-sama menikmati malam ini bersama dirinya.
" Tidak perlu, malam ini aku mau tidur lebih awal" Ucap Raya membalas pernyataan Dion
" Kenapa tidak mau ikut? bukannya tadi kamu ingin menghabiskan malam ini bersama?" tanya Dion
iiihh... dasar cowok tidak peka, bisa-bisanya dia bilang kayak gitu di hadapan Maya.
" Sekali enggak tetap enggak, kalian pergi saja sendiri." selesai dengan perkataannya Raya segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Ketika Dion ingin menyusul Raya dengan cepat Maya mencegahnya.
" Sudahlah sayang tidak usah di paksakan kalau Raya tidak mau ikut lagian dia mungkin tidak suka kalau makan malam bersama aku, aku bisa memakluminya karena bagaimana pun juga dia dulu kan pernah aku jahati tapi apa Raya tidak bisa memaafkan walau aku sudah benar-benar berubah." Maya mencari simpati Dion
" Mungkin kamu benar, yasudah kita pergi berdua saja, sana kamu siap-siap dulu." perintah Dion
" Baik sayang malam ini aku akan berdandan sangat cantik biar kamu bangga punya istri kayak aku." sambil tersenyum centil ke arah Dion dan berjalan pergi menuju kamarnya.
__ADS_1