Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Tekad bulat


__ADS_3

Selama perjalanan Ruben terus memikirkan cara untuk mengulur waktu agar tidak terlalu pagi datang ke rumah sakit, karena dirinya khawatir jika Nyonya mudanya menunggu dokter terlalu lama disana.


" Maaf Nyonya saya belum sarapan, apakah anda keberatan jika kita mampir dulu ke rumah makan dekat sini?" ucap Ruben mengawali pembicaraan


" Oh kamu belum sarapan? ya sudah kita mampir dulu ke rumah makan, lagipula aku juga sudah lapar karena tadi hanya meminum susu" ujar Raya


Dengan semangat Ruben pun melajukan mobilnya ke rumah makan dekat jalan raya. Disana mereka memesan beberapa menu makanan untuk di santap bersama, sambil sarapan mereka sempatkan untuk saling berbincang-bincang ringan.


Di tengah perbincangan tiba-tiba ponsel Raya berdering ternyata panggilan itu dari Rian yang mencemaskan nya karena sedari pagi tidak melihat dirinya berada di hotel. Raya dengan gaya berbicaranya yang santai sanggup menaklukan rasa kesal dan cemas di hati Rian. " Yasudah kita bertemu di rumah sakit saja, jangan lupa kamu jemput Tiara karena dia bilang ingin ikut ke rumah sakit " itulah kata terakhir yang di ucapkan oleh Raya, setelah itu dia memutus sambungan teleponnya.


Beberapa menit kemudian Raya dan Ruben selesai sarapan, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit untuk bertemu dengan dokter yang mereka yakini bisa menjawab semua rasa penasaran di hati mereka.


Raya dan Ruben yang sudah berada di area rumah sakit tidak segera turun dari mobil karena mereka masih menunggu Rian dan juga beberapa teman lainnya.


" Ruben apakah kamu sudah membuat janji dengan dokter neurologi yang menangani mas Dion dulu?"


" Sudah Nyonya, kita tinggal menemuinya saja" sambil menengok ke belakang, ketika Ruben kembali menghadap ke depan dia melihat Rian, Tiara dan juga Asep berjalan mendekati mobilnya. "Nyonya di depan ada Rian, Tiara dan juga Asep sedang berjalan ke arah mobil kita" ucap Ruben memberi tahu Raya


" Kalau begitu sebaiknya sekarang kita turun dari mobil " ajak Raya


" Baik Nyonya " sahut Ruben sambil turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu belakang untuk membukakan pintu Nyonya mudanya.


" Raya aku khawatir sekali sama kamu, aku kira kamu di culik lagi" tegur Rian


" Kamu kalau berbicara jangan sembarangan dong, amit-amit " ujar Raya


" Habis pagi-pagi kamunya udah ngilang, gimana gak cemas coba. Lain kali kalau kemana-mana bilang aku dulu ya!" sambil mengusap kepala Raya dengan lembut

__ADS_1


" Anda tidak perlu khawatir karena masih ada saya yang selalu berada di samping Nyonya besar" ucap Ruben dengan muka dinginnya yang seakan-akan tidak suka bila Rian mendekati majikannya.


" Sudah-sudah hal kecil seperti ini tidak perlu di besar-besarkan, sekarang kita berangkat menemui dokter saja!" ajak Raya


Ruben dan Rian yang masih bersitegang langsung melunak saat mendengar ajakan dari Raya, dengan mimik kurang mengenakan mereka berdua membimbing Raya menuju ruang neurologi. Sesampainya disana Raya yang mendapat kesempatan untuk bertanya akhirnya menanyakan semua hal yang mengusik hatinya saat ini, tapi sayang jawaban yang di lontarkan oleh dokter itu tidak membuatnya puas karena masih ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya.


" Maaf dok selain ingatan suami saya sewaktu masih kecil sudah pulih apa masih ada lagi keluhan yang dia rasakan?" tanya Raya yang masih penasaran


" Tidak ada lagi, hanya saja pada saat itu suami anda sempat mengunjungi dokter andrologi " jawab dokter


" Apa? kenapa suami saya bisa mengunjungi dokter andrologi padahal setahu saya dia tidak ada masalah dengan reproduksi nya" Raya merasa heran sekaligus bingung


" Kalau untuk urusan itu saya tidak tahu, sebaiknya anda langsung saja bertanya pada dokter Syaiful karena setahu saya beliaulah yang menangani suami anda." ujar dokter


" Kalau begitu saya pamit dulu dok, Terima kasih sudah meluangkan waktunya buat saya " Selesai berpamitan Rian yang berada di ruangan itu segera memapah Raya keluar ruangan.


Raya menjawab pertanyaan Tiara dengan gelengan yang penuh kekecewaan.


" Yaudah tidak apa-apa lagipula masih ada banyak hari untuk mencari jejaknya Dion" ucap Tiara sambil memaksakan untuk tersenyum


" Kamu salah, waktuku terbatas karena aku harus pulang secepatnya sebab ada anak yang harus aku urus." jelas Raya


" Kalau begitu apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Tiara lagi


" Kita harus menemui dokter Syaiful" jawab Raya singkat


" Dokter Syaiful itu siapa? terus hubungannya sama Dion apa? bukankah seharusnya kita hanya menemui dokter neurologi saja? " Tiara semakin tidak terkendali di dalam keingintahuannya.

__ADS_1


" Sebaiknya anda jangan banyak bicara jika masih ingin mengikuti Nyonya Raya mencari jejak Tuan Muda Dion" Ruben berbicara dengan ketusnya, karena menganggap Tiara sangat mengganggu ketenangan Nyonya mudanya.


Tanpa banyak berbicara lagi merekapun pergi menuju alamat yang telah di berikan oleh dokter neurologi. Tanpa adanya kendala selama perjalanan mereka kini telah tiba di halaman yang cukup luas dengan tanaman hijau yang menghiasinya, rumah itu nampak sangat asri dan sejuk.


Di saat yang lainnya berjalan santai sambil menikmati indahnya taman, Ruben berinisiatif mengetuk pintu dan meminta izin untuk bertemu dengan sang pemilik rumah. Tapi tanpa dia duga dirinya mendapatkan penolakan dari sang pemilik rumah.


Mendengar suara pintu yang di banting cukup keras, Raya beserta teman-temannya bergegas mendekati Ruben.


" Ada apa Ruben? kenapa aku mendengar suara pintu di tutup dengan keras?" tanya Raya khawatir


" Pemilik rumah tidak mau bertemu dengan kita, karena dia merasa sakit hati terhadap tuan muda Dion" jelas Ruben


" Sakit hati? memangnya apa yang di perbuat oleh mas Dion terhadap dokter Syaiful?" Raya semakin penasaran


" Saya tidak tahu Nyonya karena sang pemilik rumah langsung menutup pintunya" ungkap Ruben


Raya mendekati pintu lalu mengetuknya " Pak, saya Raya istri dari Dion Perkasa yaitu pasien yang dulu pernah anda tangani, saya ingin bertanya tentang sesuatu kepada anda. Apakah anda bisa membukakan pintu ini sebentar?"


Cukup lama tidak ada respon dari dalam rumah hingga membuat Raya sedikit putus asa.


" Sudah Raya kita pulang saja yuk! kita serahkan saja urusan ini kepada Ruben biar dia yang membujuk dokter Syaiful" ucap Tiara sambil memegangi pundak Raya


" Enggak bisa, ini adalah masalahku, masalah rumah tangga ku jadi tidak mungkin kalau aku melimpahkan semua ini kepada Ruben" bantah Raya


Raya kembali mendekati pintu " Pak, saya mewakili mas Dion untuk meminta maaf kepada bapak, walau rasa sakit di hati bapak tidak sepenuhnya bisa hilang paling tidak anda bisa merasa puas jika bisa melihat istri dari orang yang menyakiti anda menderita. Mulai sekarang saya akan bersujud di halaman rumah anda sampai anda berkenan membukakan pintu untuk saya" setelah menyelesaikan kalimatnya Raya berjalan menuju halaman rumah dan mulai bersujud.


Teman-teman Raya yang melihat dirinya melakukan hal yang di anggap *bodoh* segera menghampiri dan membujuk agar dirinya mau berubah pikiran, tapi Raya yang mempunyai tekad yang bulat di dalam hatinya tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


Aku akan buktikan kepadamu mas, rasa cinta di dalam hatiku ini tidak main-main, semoga pengorbananku kali ini bisa berbuah manis.


__ADS_2