Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Kembalinya sang Ratu ular


__ADS_3

Hubungan antara Dion dan Raya lambat laun semakin membaik, bahkan sekarang Dion berani terang-terangan mengungkapkan perasaannya terhadap Raya, Raya yang awalnya merasa aneh karena perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Dion kepadanya kini menjadi terbiasa, hari demi hari mereka lewati dengan penuh kehangatan. Semua orang yang berada di rumah itu juga merasakan kebahagiaan karena tuan muda mereka yang seperti kulkas dua pintu sekarang menjadi hangat sehangat mentari pagi.


" Sayang kamu lagi masak apa? wangi sekali? jadi lapar pengin cepat memakannya" sambil menciumi leher Raya dan memeluknya dari belakang


" Mas sudah dong geli, aku kan lagi masak nanti kalau gosong gimana coba? lagian banyak pelayan tuh yang melihat kita, apa mas tidak malu? " ujar Raya


" Enggak " sambil terus memeluk Raya


" Ya ampun mas sekarang kenapa berubah jadi tidak tahu malu seperti ini?" ledek Raya


" Itu karena aroma tubuh kamu yang bikin candu." jelas Dion


" Apaan sih " pipi Raya merona menahan malu.


" Udah sekarang mas tunggu di meja makan dulu aku mau menyiapkan semuanya, lagian ini masaknya sudah selesai." ujar Raya sembari mendorong punggung suaminya agar mau pergi dari dapur.


" Baiklah aku tunggu di meja makan, jangan lama-lama kalau tidak aku akan menghukummu." ancam Dion sambil berbisik di telinga Raya.


Raya tidak menjawab dia hanya tersenyum lalu kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah selesai dia masak, dengan bantuan beberapa pelayan semua masakan yang Raya masak sudah tersaji di atas meja.


" Ini mas nasi nya, silahkan mau memilih sayur yang mana" sambil menyerahkan sepiring nasi


" Kamu masak terlalu banyak sayang, kalau begini aku jadi bingung harus mulai makan dari mana dulu" keluh Dion


" Ya sudah sini aku saja yang memilihkan" sambil mengambilkan beberapa sayur dan lauk


Mereka pun memulai menyantap makanan yang tersaji di atas meja, suasana yang dulu penuh kecanggungan kini berubah menjadi akrab dan penuh senda gurau, karena tak jarang di tengah-tengah mereka sedang menyantap makanan Dion mengatakan sesuatu hal yang membuat Raya tertawa, benar-benar kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis yang selama ini Raya impikan.


" Oh ya mas boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Raya tiba-tiba


" Sejak kapan kamu kehilangan hak untuk bertanya " tanya Dion balik

__ADS_1


" Ehm... Maya kan sudah hampir tiga minggu keluar dari rumah ini kira-kira kelanjutannya bagaimana?" tanya Raya lagi dengan hati-hati


" Kamu mau Maya tinggal lagi di sini?" jawab Dion


" Ya enggak gitu juga, maksud aku hubungan mas Dion sama Maya kelanjutan nya bagaimana? " tanya Raya lagi dengan sedikit malu


" Oh maksudnya, kamu mau aku menceraikan Maya dan menjadi milikmu selamanya? gitu kan? " goda Dion


Mendengar kata-kata dari suaminya membuat pipi Raya merah seketika bahkan dia menjadi sedikit salah tingkah, melihat perubahan sikap yang di tujukan oleh istrinya membuat hati Dion tergerak ingin menggodanya kembali.


Dion beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Raya dan berdiri tepat di belakang Raya.


" Sayang kamu tenang saja, tidak akan lama lagi aku akan menjadi milikmu selamanya, karena dua hari yang lalu aku sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama." sambil berbisik di telinga Raya di barengi tangan yang memeluk istrinya dengan erat.


Raya tidak menjawab apa-apa, hanya air mata penuh haru yang membasahi pipinya.


" Kamu kenapa menangis, apa ada perkataan ku yang menyinggung? " tanya Dion heran


" Enggak kok mas, ini air mata kebahagiaan " sambil menyeka air yang keluar dari kelopak matanya


Tidak lama berselang bel pintu berbunyi yang menyebabkan aktivitas yang sedang mereka lakukan harus segera di akhiri.


" Mas aku mau membuka pintu dulu" ujar Raya


" Kenapa mesti kamu, masih banyak pelayan yang bisa membukakan pintu" jawab Dion agak kesal karena kesenangannya di ganggu


" Tidak apa-apa lagian cuma sebentar" beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu utama


Ketika Raya membuka pintu netranya secara otomatis membelalak melihat sesosok manusia yang berada tepat di hadapannya.


" Hello Maduku tersayang apa kabarmu?" sapa Maya sambil melambaikan tangannya

__ADS_1


" Buat apa kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi? " tanya Raya dengan ketus


" Loh kamu lupa ya kalau aku ini kan masih istri sah nya Dion, jadi aku berhak dong tinggal di rumah suamiku, minggir kamu aku mau lewat" sambil mendorong pundak Raya


" Enggak kamu tidak boleh masuk, aku akan menyeret kamu keluar dari rumah ini." sambil menarik tangan Maya


" Lepasin.! kamu tidak ada hak untuk mengusir ku dari sini." sambil berusaha melepaskan tangan Raya


" Dia punya hak sepenuhnya untuk mengusirmu dari sini, karena Raya satu-satunya nyonya besar di rumah ini." kata Dion yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah


" Sayang kamu tidak boleh bersikap tidak adil terhadap aku terlebih anak kita" memasang muka sedih sambil mengusap perutnya


" Apa maksud kamu dengan anak kita? " tanya Dion penasaran


" Sayang sini deh usap perut aku, di dalamnya ada benih kamu, calon pewaris keluarga Anggara satu-satunya." sambil memegang tangan Dion dan meletakkan di perutnya


" Kamu yakin ini darah dagingku?" tanya Dion curiga


" Aku berani bersumpah kalau ini benar-benar darah daging kamu, anak kita." berkata dengan penuh penekanan


Untuk sejenak Dion berpikir, sebenarnya dia agak ragu dengan apa yang di ungkapkan oleh Maya tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menerimanya kembali.


" Tapi mas belum tentu kalau Maya ini benar-benar hamil siapa tahu dia hanya berbohong." Raya mencoba menentang keputusan suaminya


" Aku tidak berbohong, aku punya buktinya" sambil menyerahkan selembar kertas kepada Raya


Ini tidak mungkin, baru beberapa menit yang lalu aku merasakan menjadi istri satu-satunya di rumah ini tapi sekarang aku harus membagi lagi kasih sayang suamiku.


" Sayang kamu kenapa? kelihatan sangat pucat, apa kamu sakit?" tanya Dion khawatir sambil tangannya menyanggah tubuh Raya


" Mas ternyata apa yang di katakan Maya benar adanya kalau saat ini dia sedang hamil." ujar Raya dengan nada suara yang lemas

__ADS_1


" Kamu tenang saja walaupun Maya aku izinin untuk tinggal di rumah ini, tapi aku pastikan dia tidak akan bisa mencelakaimu lagi." jelas Dion sambil memeluk istrinya


Sial.... baru juga dua minggu aku tidak ada di rumah, tapi mereka sudah seromantis ini, lihat saja aku tidak akan tinggal diam, pasti aku akan merebut kembali perhatian Dion dengan menggunakan bayi yang ada di dalam kandungan ku. batin Maya


__ADS_2