
Di taman bermain yang ramai dengan para pengunjung yang membawa anak kecil membuat Raya merasakan rindu yang teramat kepada buah hatinya yang kini tinggal bersama sahabat nya di sebuah apartemen. Ruben yang melihatnya langsung bisa menebak jika Raya saat ini sedang merindukan sosok anaknya tanpa dia harus bertanya terlebih dahulu.
" Kamu pasti sedang merindukan Athala ya? bagaimana kalau kita temui dia sekarang?" tanya Ruben sambil merangkul Raya
" Tidak perlu lagipula kita sudah berada disini, jadi nikmati saja semua permainan yang ada" sambil tersenyum lebar
Ruben memegang pundak Raya "Jangan di paksakan jika kamu tidak ingin, aku bukan orang jahat yang akan menyulitkan hidupmu"
" Sebenarnya aku mau pulang tapi aku ingin menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri yaitu melayanimu, ya walaupun aku tidak bisa melayanimu di ranjang setidaknya aku masih bisa melayanimu untuk bermain di tempat ini" balasnya
" Aku menjadi tersanjung dengan usahamu untuk menjadi istri terbaik buat aku" ucap Ruben
" Oke karena aku sudah memutuskan untuk menjadikanmu sebagai suamiku selama tiga bulan ini maka aku akan memanggilmu mas Ruben bagaimana? agar ada kesan hormat aku ke kamu"
" Apapun yang kamu inginkan aku sih oke, oke saja" jawab Ruben dengan senangnya
" Terima kasih, kalau begitu kita masuk ke dalam yuk" ajak Raya dengan antusias
Ruben melihat Raya seantusias itu merasa sangat senang, semuanya di luar prasangkanya selama ini. Dia berprasangka jika Raya akan bersikap dingin dan tidak mau menerimanya sama sekali setelah menikah dengannya.
Ternyata Raya memang seorang wanita yang sangat luar biasa, bukan hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya, dia masih ada rasa takut dosa jika menghiraukan suaminya, walau suami yang dia nikahi sekarang bukanlah pilihan hatinya tapi dia masih mau berusaha berbakti padanya. Aku benar-benar sangat terharu.
Ruben pun menggandeng tangan Raya sambil pandangannya terus dia arahkan ke depan, sedangkan Raya sesekali melirik ke arah Ruben lelaki yang kini menjadi pasangan hidupnya. Mereka berdua menghabiskan waktu untuk bermain semua wahana yang ada di dalam taman bermain tersebut mulai dari permainan yang extreme hingga permainan bocah sekalipun mereka coba semuanya.
Sedang asyiknya bermain tiba-tiba dari arah langit turunlah tetesan-tetesan air yang sontak membuat para pengunjung berhamburan mencari tempat untuk berteduh tidak terkecuali Ruben dan Raya.
" Raya rambutmu basah, harus segera di keringkan kalau tidak akan membuatmu sakit. Kamu disini dulu, aku mau pergi sebentar" ucap Ruben dengan muka cemasnya
Walau Raya bingung dengan apa yang akan di lakukan Ruben tapi dia mematuhinya untuk tetap diam di tempat. Beberapa saat kemudian Ruben kembali dengan membawa handuk kecil dan satu payung berukuran sedang.
" Sini aku keringkan rambutnya!" sambil menaruh handuk kecilnya di kepala Raya
__ADS_1
" Terima kasih tapi aku bisa melakukannya sendiri " jawab Raya
" Enggak, pokoknya kamu diam saja biar aku yang mengeringkannya" Ruben tetap memaksa agar Raya patuh dengannya, sambil kedua tangannya sibuk mengusap rambut Raya dengan handuk yang dia pegang.
Awalnya Raya merasa canggung dan malu karena perlakuan Ruben terhadap dirinya, tapi mendengar bisik-bisik di antara para pengunjung yang mengatakan kalau mereka iri dengan dirinya sebab memiliki kekasih yang perhatian membuatnya menjadi sedikit bangga.
" Sepertinya hujan ini akan lama redanya karena langit terlihat sangat gelap, lebih baik kita pulang saja!" ajak Ruben
" Iya aku setuju, kalau begitu kita berjalan bersama saja menggunakan payung ini" sambil membuka payung yang baru saja Ruben beli.
" Tidak perlu, payungnya buat kamu saja! lagipula aku sudah terlanjur basah kuyup, aku ke mobil duluan kamu menyusul di belakang ku" selepas memberi instruksi Ruben segera berlari di tengah lebatnya hujan menuju parkiran mobil sedangkan Raya berjalan di belakang Ruben sambil memegang payung.
Di dalam mobil Raya sangat cerewet mengkhawatirkan Ruben yang seluruh tubuhnya basah karena hujan.
" Seharusnya tadi beli payungnya dua biar kamu tidak basah kuyup seperti ini, aku takut nanti kamu masuk angin" kata Raya sambil terus memandang ke arah Ruben yang terlihat sedikit pucat
" Kamu tenang saja aku tidak apa-apa lagipula aku sudah terbiasa sewaktu masih kecil main hujan-hujanan." Jawab Ruben dengan santainya.
" Karena kamu istriku, jadi aku sebagai suamimu berkewajiban untuk melindungi, menjaga dan menyayangimu" ujarnya
Mendengar jawaban dari Ruben membuat Raya menjadi terharu karena baru kali ini dia merasa seperti menjadi seorang ratu yang selalu di utamakan.
Sesampainya di hotel Raya dan Ruben bergantian membersihkan tubuh mereka di kamar mandi, di mulai Ruben terlebih dahulu baru setelah itu Raya. Raya yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Ruben yang terbaring di atas ranjang dengan muka pucatnya segera mendekatinya guna mengecek suhu tubuh Ruben.
" Masya Allah suhu tubuhnya 40°derajat celcius, aku harus segera mengompresnya" Raya segera mencari kain dan wadah untuk mengisi air.
Dengan sigap Raya mengompres dahi Ruben sambil melepas bajunya untuk di gantikan dengan baju yang agak tipis.
" Mas kayaknya kamu masuk angin, bagaimana kalau aku kerokin? biar cepat sembuh" tanya Raya
Ruben yang merasa tubuhnya lemah hanya bisa menganggukkan kepalanya, melihat Ruben mengangguk Raya segera membuka kembali baju yang baru saja dia pakaikan ke tubuh Ruben.
__ADS_1
Dengan posisi telungkup Raya mengeroki Ruben penuh kehati-hatian.
" Lihat mas kerokannya merah banget, ini pasti kamu masuk angin karena hujan-hujanan tadi, makanya kalau sudah tua jangan sok-sokan hujan-hujanan " Raya mencoba mencairkan suasana
" Heemm... " balas Ruben
Selesai dengan kerokan Raya membaluri seluruh punggung Ruben dengan minyak kayu putih agar tubuhnya terasa hangat, setelah itu dia mengusap-usap punggungnya sambil sesekali memijitinnya.
" Cukup Raya! kamu istirahat saja" ucap Ruben tiba-tiba
" Aku belum mengantuk jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku" sambil terus memijit
" Aku bilang sudah cukup Raya!" Ruben sedikit meninggikan suaranya.
Sontak hal itu membuat Raya kaget karena selama ini dia belum pernah mendengar Ruben berbicara keras kepadanya.
" Ada apa mas? apa aku terlalu keras memijitnya? maaf kalau aku malah memperburuk keadaan" kata Raya sambil menggeser tubuhnya.
" Tidak Raya harusnya akulah yang meminta maaf karena sudah membentakmu tadi, tapi sungguh aku tidak bermaksud melakukannya hanya saja tadi aku merasa tidak nyaman" Ruben mencoba menjelaskannya
" Tidak nyaman di bagian mana mas? coba biar aku periksa, atau kita ke rumah sakit saja" Raya semakin khawatir
" Tidak perlu aku baik-baik saja sekarang, sebaiknya kamu istirahat saja!" jawab Ruben dengan muka seperti orang yang sedang menahan sesuatu
" Aku tidak akan meninggalkan mas dengan keadaan seperti ini coba sini biar aku lihat bagian mana yang sakit!" Raya terus memaksa
" Enggak Raya enggak! kamu jangan mendekat, karena aku takut tidak akan bisa lagi menahannya" jelas Ruben dengan penuh keraguan
" Sebenarnya ada apa sih mas? katakan saja! " Raya semakin penasaran
" Sentuhan-sentuhan yang kamu berikan membuatku amat sangat menginginkanmu Raya, aku sudah berusaha menahannya tapi tetap saja tidak bisa di lemaskan. Semakin kamu terus berada disini semakin itupula aku akan tersiksa"
__ADS_1
Penjelasan Ruben membuat Raya merasakan keputusasaan yang dialami Ruben. Setelah cukup lama terdiam akhirnya dengan mantap Raya berkata "Aku siap! mas lakukan saja apa yang mas mau".