Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Suasana baru


__ADS_3

Suasana perkampungan di malam hari menurut Raya sedikit mencengkam itu di karenakan minimnya penerangan di perkampungan itu, kebanyakan warga masih menggunakan lampu petromak tapi ada juga yang sudah menggunakan genset itupun hanya orang-orang yang mempunyai uang berlebih yang menggunakannya, Raya yang duduk sendirian di teras depan rumah termenung memikirkan nasib yang menimpa dirinya.


" Neng jangan ngelamun nanti kalau ada jurik lewat bisa kesambet" tegur nenek Asih


" Enggak kok nek, aku hanya berpikir kenapa aku hidup selalu dalam kesialan memangnya aku punya salah apa sehingga Allah menghukumku seperti ini". keluh Raya


" Husstt..... ulah ngomong kayak gitu pamali!!


Allah memberikan cobaan itu sebagai wujud rasa cinta Allah kepada hambanya, bukan sebagai hukuman itu beda cerita. Karena nenek yakin sekali kalau neng Raya itu orang baik makanya Allah ingin mengangkat derajat neng Raya dengan cara memberi beberapa cobaan, jadi neng sebaiknya bersabar dan selalu bertawakal sama Allah, InsyaAllah semua akan indah pada waktunya." nenek Asih memberikan beberapa nasehat kepada Raya, Raya yang mendengar nasehat nenek Asih langsung teringat akan sahabatnya Sophia yang dulu sering sekali menyemangatinya dengan memberikan nasehat-nasehat agama. Tanpa terasa airmata Raya berderai membasahi pipinya yang tirus.


" Ada apa neng? apa ada ucapan nenek yang menyinggung?" tanya nenek Asih kebingungan karena melihat Raya yang tiba-tiba menangis.


" Nenek Asih tidak mengucapkan kata yang menyakiti aku kok justru nenek mengucapkan kata yang membuat aku jadi semangat kembali menjalani hidup, hanya saja nasehat yang nenek berikan membuat aku teringat akan sahabat yang selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang sebagai tempat bersandar." jelas Raya


" Oh begitu kirain neng tersinggung, yasudah Neng sebaiknya tinggal saja disini temani nenek sampai nenek menutup mata, daripada neng di luar sana tanpa ada tujuan." bujuk nenek Asih


" Terima-kasih nenek sudah mengizinkan untuk tinggal di sini tapi maaf aku tidak bisa karena masih mempunyai suami yang harus aku rawat seumur hidupku." jelas Raya


" Loh... bukankah suami neng Raya sudah punya istri lagi, jadi biar dia saja yang merawat suami neng lagian untuk apa neng hidup dengan lelaki yang tidak bisa tulus menyayangi dan menjaga hati neng Raya."


" Suamiku tidak seperti yang nenek bayangkan dia itu suami yang penyayang dan penuh kehangatan hanya saja dia pernah melakukan kekhilafan dengan menikahi seekor ular." jelas Raya sekenanya


" Hah menikahi seekor ular? maksudnya siluman gitu neng?" tanya nenek Asih sedikit syok mendengar cerita dari Raya

__ADS_1


" Hahahaa.....bukan begitu nek, yang aku maksud ular itu sifatnya bukan orangnya, istri kedua suamiku ya wanita pada umumnya." jelas Raya sambil tertawa lepas


" Ealah... neng.. neng kirain nenek, suaminya beneran menikahi seekor ular, atuh ngeri kalau gitu mah" canda nenek


Ketika Raya dan nenek Asih sedang asyik bercengkerama tiba-tiba datang seorang pemuda mendekati mereka.


" Assalamu'alaikum " sapa seorang pemuda


" Walaikumsalam " jawab Raya dan nenek Asih bersamaan


" Nek, siapa teteh cantik ini" bisik pemuda itu setelah berada di samping nenek Asih


" Biar saling kenal sini nenek kenalin, teteh cantik yang kamu maksud itu namanya Raya dia tersesat di kampung sebelah makanya nenek membawanya kemari" jelas nenek Asih kepada pemuda itu.


" Hai namaku Raya kamu siapa?" sapa Raya sambil mengulurkan tangannya


" Dia ini cucu satu-satunya yang mau menemani nenek disini, yang lain tidak ada yang mau mereka bilang tinggal di perkampungan tidak bisa memperluas pergaulan apalagi disini belum ada listrik dan internet, tapi Asep bilang justru dia sudah bosan hidup di perkotaan makanya dia memilih tinggal disini walau setiap hari harus menempuh jarak 25km untuk sampai di sekolahnya." jelas nenek Asih bersemangat


Raya melirik motor yang terparkir di halaman rumah nenek Asih, Itukan motor trail yang harganya cukup mahal, mungkin memang benar kalau Asep anak orang kaya yang sudah bosan dengan kehidupan mewahnya.


" Oh ya Asep kamu keberatan tidak kalau hari minggu besok membawa aku ke kota?" tanya Raya tiba-tiba


" Memangnya teh Raya mau cari apa?" tanya Asep balik

__ADS_1


" Aku mau cari pekerjaan dan kos-kosan, aku tidak mau jika terus-terusan menjadi beban buat nenek Asih." jelas Raya


" Ya... Allah neng Raya jangan sungkan seperti itu, nenek benar-benar bahagia kalau neng Raya sama neng Athala bisa tinggal disini masalah uang mah jangan di pikirkan InsyaAllah nenek bisa mencukupi kebutuhan neng Raya dan neng Athala"


" Justru itu yang membuat aku jadi semakin tidak enak tinggal di sini nek, aku tidak mau berhutang budi banyak sama nenek." tutur Raya kembali


" Nek biarkan saja teh Raya cari pekerjaan daripada tinggal disini bingung mau ngapain" Asep mencoba menengahi


" La kan ada anaknya neng Raya yang masih bayi, jadi neng Raya fokus saja merawatnya daripada mencari pekerjaan." sanggah nenek


" Hah.... jadi teh Raya sudah mempunyai anak?" tanya Asep kaget


" Iya Sep, aku sudah punya anak" jawab Raya singkat


" Tidak kelihatan kalau teh Raya sudah menikah karena masih terlihat sangat muda kayak gadis berusia sembilan belas tahun." goda Asep


Raya hanya bisa tersipu malu mendengarnya, Raya yang semakin akrab dengan Asep membuat nenek Asih senang sehingga nenek berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua mengobrol di teras rumah sampai larut malam.


" Sep sepertinya kita sudah lama berada di luar sini, coba kamu lihat jam berapa sekarang!" Suruh Raya


Asep pun melihat arlojinya yang menunjukkan pukul sebelas malam, alangkah terkejutnya mereka yang tidak sadar bisa mengobrol sampai larut malam.


" Wah sudah malam ternyata, kamu harus segera istirahat karena besok harus berangkat pagi, aku juga harus nemenin bayi aku yang sudah terlelap, yasudah aku masuk dulu. " Raya pun meninggalkan Asep sendirian di teras depan rumah.

__ADS_1


Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan yang tidak manja dan begitu tangguh dalam menghadapi cobaan hidup, coba saja aku terlahir lima tahun lebih cepat mungkin saat ini aku ada kesempatan untuk mengejarnya, tapi sayang itu hanya angan-angan yang tidak akan pernah terwujud terlebih dia bercerita kalau dirinya sangat mencintai suaminya, beruntung sekali yang menjadi suaminya. batin Asep


Di rumah sakit Dion yang baru saja terbangun melihat Ruben yang terlelap di sofa dekat ranjangnya hanya bisa tersenyum, lalu perhatiannya terfokus pada ponsel miliknya yang berada di meja depan Ruben, ingin sekali dia menelepon istrinya tapi dia teringat akan perkataan Ruben jika sebaiknya dirinya jangan menelepon terlebih dahulu, tapi rasa rindu yang bersemayam di hati Dion membuatnya tak kuasa untuk menahannya lagi, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon istri tercintanya saat ini juga. Dengan perlahan Dion menuruni ranjangnya sambil mendorong infusnya berjalan menuju meja yang berada di depan Ruben. Setelah di dapatnya ponsel miliknya segera dia menghubungi istrinya tapi sayang ponsel milik istrinya tidak bisa di hubungi, Dion mulai curiga jika sesuatu telah terjadi pada istri tercintanya.


__ADS_2