
Muncul ide jahil di otak Raya membuat dirinya tersenyum tipis, dengan segera dia mendatangi dapur lalu menyiapkan segalanya untuk menjalankan rencananya itu.
" Lihat saja nanti aku bakal membuat kalian tidak bisa lagi bermesraan di depan mataku." gumam Raya sambil terus merekahkan senyuman nya
Beberapa pelayan yang melihat majikannya yang berada di dapur terus mengembangkan senyuman nya sambil membuat adonan merasa bingung di buatnya.
" Menurut kamu apa yang membuat nyonya muda sebahagia itu ya?" tanya salah satu pelayan ke pelayan lainnya
" Mana aku tahu to mbak yu lawong aku ini kan bukan dukun yang bisa menebak-nebak, coba mbak yu tanyakan langsung ke nyonya muda barang kali nyonya mau memberitahu." jawab pelayan lainnya
" Kamu benar juga, kalau begitu aku mau langsung bertanya kepada nyonya muda perihal kebahagiaan nya, siapa tahu nyonya mau cerita, yaudah aku mau kesana dulu, kamu lanjut bersih-bersih ke ruang tamu ya!" perintah pelayan satu ke pelayan yang lainnya.
" Baik mbak yu"
Segera pelayan yang satu mendatangi majikannya di dapur yang sedang membuat adonan kue.
" Selamat siang nyonya, ada yang bisa saya bantu kelihatannya nyonya begitu sibuk membuat kue." pelayan itu berusaha basa basi terhadap nyonya mudanya
" Siang juga.....tidak usah, aku bisa menyelesaikannya sendiri lagi pula aku hanya mau membuat sedikit tidak banyak." jawab Raya dengan senyum manisnya
" Nyonya kalau boleh saya tahu nyonya membuat kue itu buat siapa? kelihatannya nyonya begitu bahagia membuatnya." tanya pelayan itu dengan penuh hati-hati
" Benarkah? memangnya kelihatan ya kalau aku lagi bahagia? aku membuat kue ini untuk suami dan juga maduku yang ada di kamar depan situ." Raya menjelaskan sambil menunjuk ke arah kamar Dion yang letaknya nya tidak jauh dari dapur.
" Anda begitu sangat berhati mulia sekali nyonya, jarang-jarang lo ada istri pertama yang menyajikan makanan khusus buat suami dan istri keduanya dengan hati yang tulus dan bahagia seperti nyonya pancarkan." puji pelayan
__ADS_1
" Ah kamu ini bisa saja" Raya tersipu malu dengan pujian yang di lontarkan pelayannya
Kamu belum tahu saja kalau aku melakukan ini karena ada sesuatu yang sedang aku rencanakan buat mereka, memangnya masih ada orang berhati mulia seperti itu, pelayan ini polos sekali.
" Lebih baik selesaikan dulu apa yang menjadi tugas kamu, aku bisa sendiri kok menyelesaikan ini semua." ujar Raya sambil tersenyum
" Baiklah kalau begitu nyonya, saya pamit dulu.
Selepas pelayan itu pergi Raya kembali sibuk dengan pekerjaannya yaitu membuat kue dan minuman khusus buat sang suami beserta madunya.
Beberapa menit kemudian kue yang di letakkan di dalam oven pun telah matang kini Raya siap mengantarkannya menuju kamar sang suami, dengan penuh semangat Raya mengetuk pintu setelah dirinya berada tepat di depan kamar suaminya. Seperti yang telah dia duga bahwa yang membuka pintu adalah Maya.
" Mau apa kamu kesini? ganggu saja" ucap Maya ketus
" Oh gitu bagus deh kalau kamu punya niatan baik, sini biar aku saja yang bawa masuk teh sama kuenya." kata Maya sambil tangannya mau mengambil alih nampan yang di bawa Raya.
" Eits biar aku saja, kamu kan lagi hamil ntar terjadi sesuatu sama bayi dalam kandunganmu aku lagi yang di salahkan." Elak Raya
" Yasudah lah sana masuk" Maya menarik pintunya ke belakang agar terbuka lebar sehingga Raya bisa masuk dengan leluasa.
" Terimakasih " Raya berjalan melewati Maya
" Mas ini aku bawakan kue kesukaanmu beserta teh hijau yang bisa meningkatkan energi dan menghilangkan rasa lelah semoga kamu suka ya." kata Raya sambil meletakkannya di meja yang berada di samping Dion
" Dan ini buat kamu Maya, bagus lo buat mengatur tekanan darah" Raya berjalan ke arah Maya sambil membawa secangkir teh hijau.
__ADS_1
" Aauuww apa-apaan kamu Raya? pasti kamu sengaja melakukannya? ayo ngaku!" Maya merasa sebal karena pakaiannya basah terkena teh hijau yang terlempar dari tangan Raya.
" Sorry May, aku kan tersandung jadi enggak sengaja melempar secangkir teh ke arahmu." Raya memasang muka imutnya.
" Sayang kamu lihat kan kelakuan istri pertama mu ini, dia sengaja mengguyur aku dengan air teh supaya dia bisa puas berada di sampingmu menggantikan aku, pokoknya aku enggak mau tahu kamu harus menghukum Raya demi anak yang aku kandung." rengek Maya
" Sudah sudah masalah sepele kayak gini sebaiknya jangan di besar-besarkan, buat aku tambah pusing saja, Maya kamu pergi ganti baju sana biar tidak masuk angin, dan kamu Raya cepat bersihkan bikin kamarku berantakan saja."
Mendengar ucapan dari suaminya Maya segera keluar kamar untuk mengganti pakaiannya yang basah dan kotor sedangkan Raya segera membersihkan kekacauan yang telah dia buat.
" Raya kamu pasti sengaja melakukan kekacauan ini kan?" tanya Dion sambil berdiri tepat di hadapan Raya yang sedang mengelap lantai dengan kain pel.
Dengan penuh keberanian Raya menghembaskan kain pel nya ke atas lantai lalu dia bangkit dan berhadapan dengan Dion.
" Kenapa mas tidak terima kalau aku mengerjai Maya? mas marah karena tidak bisa berduaan dengan Maya? Atau mas kesal tidak bisa bermesraan dengan Maya? ingat ya aku ini juga istrinya mas, aku berhak mendapatkan kasih sayang dan perlakuan baik. Kenapa sih kalau di rumah sikap mas berubah seakan-akan mas memperlakukan aku seperti pembantu bukan seorang istri, aku benar-benar kecewa." Setelah meluapkan segala kekesalan yang ada di dalam hatinya Raya segera membalikkan badan dan bersiap meninggalkan ruangan, tapi baru selangkah Raya berjalan Dion sudah menarik dan menghimpitnya di dinding.
" Aku tidak keberatan kamu mengerjai Maya, aku juga tidak marah kamu menyiramnya dengan air teh, bahkan aku merasa senang tidak bisa bermesraan dengan Maya jadi buat apa kamu marah? sudah aku bilang kalau perempuan yang aku cintai di dunia ini cuma satu yaitu kamu Raya." Dion menjelaskan apa yang dia rasakan pada Raya
" Tapi kenapa harus nyuekin aku kalau ada Maya di samping mas? " tanya Raya lagi
" Kamu begitu banyak bicara kali ini Raya, apa kamu sedang cemburu?" Dion mendekatkan wajahnya pada Raya
" Ya aku cemburu" jawab Raya dengan tegas
Mendengar jawaban itu Dion segera menyerang bibir manis Raya, hasratnya kali ini benar-benar sudah tidak bisa di bendung lagi, dengan sangat aktif tangan Dion menjelajahi seluruh bagian sensitif milik wanita yang berada di hadapannya, dengan kekuatannya Dion membopong tubuh Raya dan meletakkannya di atas kasur miliknya. Segera setelah itu dengan cepat Dion membuka seluruh kain yang menutupi tubuh istri nya, Raya hanya bisa pasrah dan mengikuti semua permainan suaminya itu.
__ADS_1