
Matahari mulai meninggi dan pancaran sinarnya semakin terasa di kulit Raya yang pada siang itu hanya mengenakan kaos berlengan pendek dengan bawahan berupa celana berukuran 3/4 berbahan katun.
Raya yang bersujud di depan rumah dokter Syaiful sudah menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam, selama itu teman-teman Raya sudah melakukan berbagai upaya untuk membujuknya mengurungkan niatnya bersujud hingga dokter Syaiful mau membukakan pintu untuknya. Rian yang mencoba memayungi Raya agar dirinya tidak kepanasan malah di bentak oleh Raya agar pergi meninggalkannya, bahkan Asep yang membawakan makanan dan minuman pun di usir oleh Raya.
" Aduuuh.....bagaimana ini kalau dia terus-terusan berada di bawah terik sinar matahari bisa-bisa dia dehidrasi dan pingsan" ucap Tiara sambil berjalan mondar mandir dengan muka cemasnya "Ayo dong lakukan sesuatu" imbuhnya
" Anda bisa tenang sedikit tidak? disini kami sedang berupaya" kata Ruben ketus
" Sudah Tiara sebaiknya kamu duduk santai disana saja!, biar urusan Raya kami yang mengatasi" Rian mencoba menenangkan Tiara.
Dengan berat hati Tiara pun mematuhi ucapan Rian untuk duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari dirinya berdiri saat ini.
" Sekarang apa rencanamu? " Rian meminta saran dari Ruben
" Entahlah, kita lihat saja nanti" jawab Ruben singkat
Karena tidak banyak yang bisa mereka lakukan saat ini akhirnya mereka memutuskan untuk duduk diam sambil memandang Raya yang sedang melakukan aksinya di dalam memperjuangkan cintanya yang telah hilang.
Entah sudah menghabiskan waktu berapa jam Raya bersujud di halaman hingga sang surya mulai kembali ke peraduannya, hal itu mengakibatkan langit yang tadinya terang secara perlahan menjadi gelap dan dingin.
Raya yang merasakan kepalanya semakin lama semakin berat berusaha untuk tetap terjaga, tapi apa daya tubuhnya yang lemah sudah tidak bisa lagi menahannya sampai pada akhirnya Raya pun tumbang.
Ruben yang melihat majikannya pingsan segera berlari kearahnya dan mengangkat tubuhnya dengan lembut. Pintu yang semula tertutup rapat kini terbuka lebar lalu keluarlah lelaki paruh baya dengan tergopoh-gopoh.
" Cepat bawa wanita itu masuk ke dalam rumah! " teriaknya
Mendengar teriakan dari seseorang membuat Ruben menoleh ke arahnya, terlihat senyuman tipis merekah di bibir Ruben.
" Selamat Nyonya anda berhasil" bisik Ruben di telinga Raya, sambil menggendongnya berjalan menuju teras rumah.
" Cepat kamu bawa dia masuk dan letakkan dia di kamar tamu! " ucap dokter Syaiful
__ADS_1
Dengan patuh Ruben membawa tubuh Raya masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di kamar tamu sesuai dengan perintah lelaki paruh baya itu. Segera setelah di letakkan tubuh Raya di atas kasur, dokter Syaiful memeriksa Raya dengan menggunakan stetoskop nya. Ruben yang masih berada di dalam kamar tersebut tak kuasa menahan mulutnya untuk bertanya.
" Dok, apa yang terjadi dengan Nyonya muda saya?"
" Dia tidak apa-apa hanya dehidrasi saja" jawab dokter Syaiful singkat
" Sebenarnya apa yang membuat wanita ini nekad melakukan aksi ekstrim seperti itu" tanya dokter Syaiful balik
" Suaminya telah pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, hal itu yang membuat Nyonya saya ini mencari alasan kenapa suaminya harus pergi meninggalkannya, dia sangat percaya jika andalah orang yang bisa memberinya petunjuk " jelas Ruben
Mendengar penjelasan dari Ruben mimik muka lelaki paruh baya itu langsung berubah menjadi murung.
" Apa ini ada kaitannya dengan hasil tes itu? " gumamnya
" Boleh saya tahu kelanjutan ceritanya?" tanya Raya dengan nada suara yang pelan
Dokter Syaiful dan juga Ruben yang tersentak karena mendengar suara langsung mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang sedang terbaring di atas ranjang.
" Saya sudah merasa sehat jadi tidak perlu di khawatirkan, yang terpenting bagi saya untuk saat ini adalah cerita Anda tentang suami saya" lanjut Raya
" Maaf saya tidak bisa menceritakan apapun pada anda, sebaiknya anda pulang saja! " jawab dokter Syaiful
" Dok, saya mohon ceritakan apa yang terjadi pada suami saya?" sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya.
Dokter paruh baya itu melihat gerak gerik dari wanita di hadapannya merasa curiga.
" Apakah kamu tidak bisa melihat? " tanya dokter Syaiful tiba-tiba
" Iya benar dok saya tidak bisa melihat setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya, kami bertengkar karena dia tidak mau mengakui janin yang ada di perut saya sebagai anaknya" jelas Raya
Penjelasan dari Raya membuat sang dokter menitikkan air mata, tapi segera di seka dengan punggung tangannya.
__ADS_1
" Ini memang kesalahan saya, karena kelalaian yang saya perbuat kalian mendapatkan nasib yang malang, maafkan saya" ujar dokter Syaiful dengan suara paraunya karena menahan tangis.
" Saya akan memaafkan semua kesalahan dokter asalkan anda bersedia menceritakan apa yang terjadi dengan suami saya" ucap Raya
" Baik akan saya ceritakan" sambil duduk di pinggir ranjang bersebelahan dengan Raya.
" Jadi waktu itu suami anda menemui saya untuk tes kesuburan, dan keesokan paginya hasilnya sudah keluar yang menyatakan bahwa suami anda mandul, awalnya dia tidak bisa terima dan meminta saya untuk mengulang tes nya, tapi saya menolak dengan dalih kalau tes yang di lakukan memiliki keakuratan sebanyak 90%, singkat cerita suami anda percaya dan pergi dari ruangan dengan wajah masamnya" jelas dokter Syaiful
" Pantas saja mas Dion tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri, seandainya saja dia tidak melakukan tes itu mungkin semua akan baik-baik saja" ucap Raya sambil berurai air mata
" Maafkan saya nak Raya" sambil mmegang punggung tangan Raya
" Kalau saja waktu itu saya lebih teliti di dalam membaca nama yang ada di sampel ****** suami anda, mungkin hasil tes nya tidak akan ketukar" keluh dokter Syaiful
" Maaf dok memangnya selain suami saya apa ada lagi pasien dengan nama Dion hingga anda melakukan kesalahan?"
" Nama pasien lain bukan Dion tapi Lion Perkasa, nama yang hampir mirip dengan suami anda yaitu Dion Perkasa" imbuhnya
" Oh pantas saja anda mengalami kesalahan, tapi ya sudahlah semua sudah menjadi takdir sang Pencipta, ini semua cobaan buat saya" ucap Raya dengan getirnya
" Maaf dok, jika anda tidak keberatan tolong anda ceritakan apa saja yang di lakukan suami saya hingga anda terlihat sangat membencinya" tanya Raya lagi
" Dua hari setelah kepergian suami anda dari rumah sakit, saya baru menyadari bahwa hasil tes yang saya berikan salah, awalnya saya enggan untuk memberitahunya karena rasa ego yang ada di hati. Sampai pada akhirnya saya meminta asistennya untuk mengambil hasil tesnya kemari, saya kira dengan hasil tes yang menyatakan bahwa dirinya subur maka masalahnya selesai tapi ternyata dia justru mendatangi saya di rumah sakit dengan sangat arogannya mencaci maki saya di hadapan banyak orang hingga membuat saya sangat malu di buatnya" sambil mengepalkan tangannya
" Maafkan suami saya dok" ujar Raya dengan suara yang penuh penyesalan
" Tidak nak tidak, justru saya yang harus meminta maaf karena kelalaian saya membuat rumah tangga kalian retak bahkan membuat anda menjadi tidak bisa lagi melihat" tertunduk lesu
" awalnya saya merasa marah dengan kearoganan suami anda yang membuat saya malu hingga kehilangan pekerjaan tapi kini saya sadar bahwa akibat dari kelalaian saya rumah tangga kalian harus retak seperti ini, mungkin inilah harga yang pantas saya dapatkan " kata dokter Syaiful menyesali perbuatannya
" Sudah dok, anda tidak perlu menyalahkan diri anda sendiri karena semua ini sudah takdir dan saya sudah mengikhlaskannya" jelas Raya mencoba membuat suasana menjadi tenang kembali.
__ADS_1