Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Terima kasih telah menemaniku


__ADS_3

Mengandalkan indera perabanya Raya mencoba memverifikasi kondisi buah hatinya saat ini, terus dia meraba-raba buah hatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, hatinya terenyuh tatkala dia menjumpai tangan mungil malaikat kecilnya terdapat jarum infus yang melekat.


" Maafkan ibu nak, maafkan ibu!" ucap Raya menyesali perbuatannya di iringi mengalir nya butiran-butiran bening yang keluar dari sudut matanya.


" Sekarang bisa merasakannya kan? untung saja pada saat itu aku langsung bawa Athala ke rumah sakit, kalau tidak mungkin sekarang kamu sedang menangisi kepergiannya" kata Sophia ketus


" Naudzubillah.... kamu jangan bicara seperti itu Sophia! aku tahu kamu kecewa sama aku tapi tolong jangan bicara yang macam-macam di hadapan Athala"


" Maaf aku tidak bermaksud untuk mendoakan jelek, hanya saja aku merasa kesal karena sikap batumu itu, aku mau nanya memangnya kamu masih mengharapkan Dion untuk kembali?" tanya Sophia sambil duduk di dekat Raya


" Setelah aku melakukan perjalanan ke Padang aku jadi semakin yakin kalau mas Dion memang pantas untuk di tunggu kedatangannya" jawab Raya dengan penuh optimis


" Jadi kalian pergi ke Padang? pantas saja kalian tidak ada yang berani berpamitan kepadaku, kalian keterlaluan meninggalkanku sendirian bersama Athala, memangnya aku ini kalian anggap apa sih? sampai harus diam-diam menyelidiki Dion tanpa melibatkan ku sedikitpun" seru Raya kesal


" Bukannya begitu, tapi kan terakhir kali aku membahas soal mencari jejak mas Dion kamu langsung menentangnya, jadi kami terpaksa menyelidikinya tanpa sepengetahuanmu, maafkan aku jika membuatmu merasa terabaikan" Raya mencoba menenangkan Sophia


" Oke aku akan maafkan asalkan kamu janji jangan pernah lagi mencari Dion, dia itu sudah meninggalkanmu jadi please lupakan dia! " ujar Sophia dengan tegas


" Kenapa kamu berkata seperti itu Sophia? seakan-akan kamu begitu sangat membencinya, kalaupun aku sekarang tidak bisa mencarinya tapi aku akan selalu menunggunya"


" Aku tidak membencinya hanya saja aku merasa muak dengan tingkahnya yang arogan dan mau menang sendiri, memangnya mau sampai kapan kamu menunggunya? ingat Raya kamu punya anak yang membutuhkan sosok seorang ayah" sambil memegang pundak Raya


" Apa maksud perkataanmu Sophia? Athala punya ayah kenapa kamu harus sekhawatir itu? " tanya Raya dengan penuh ketidaksenangan


" Kamu jangan salah paham dulu Raya, aku hanya tidak mau kamu terlalu fokus pada satu pria padahal di sekitar kamu masih banyak pria yang lebih baik dan tentunya mau menerima kamu apa adanya" ucap Sophia dengan tenangnya


" Cukup Sophia! aku sudah tahu arah pembicaraanmu, perlu kamu ketahui sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan mas Dion kecuali dia menceraikanku, sekarang aku minta kamu keluar dulu! karena aku ingin berduaan dengan Athala disini" kata Raya dengan sedikit emosi


" Baiklah jika itu kemauanmu aku akan pergi" Sophia pergi meninggalkan Raya sendiri di samping ranjang Athala.


Perasaan campur aduk yang Raya rasakan saat ini begitu menyiksanya, ingin dia curahkan segala kegondokan di hati tapi tidak tahu harus mencurahkan kepada siapa, sahabat yang selama ini selalu ada untuk mendukung dan mendengarkan keluhan hidupnya kini berubah menjadi sesosok yang paling menentang keinginannya. Di saat Raya bergelut dengan pikirannya tiba-tiba dia di kejutkan oleh suara yang akhir-akhir ini selalu menemaninya.

__ADS_1


" Nyonya ada masalah? " sapa Ruben


" Ah tidak ada, kamu masih disini? sebaiknya kamu kembali lagi ke perusahaan! bagaimanapun juga sekarang ini kamu yang bertanggung jawab mengelolanya" jawab Raya


" Tapi aku harus menjaga Nyonya disini, karena aku lihat Sophia sahabat Nyonya itu terlihat begitu sangat kesal ketika berhadapan dengan anda" ucap Ruben


" Kamu jangan khawatir aku dengan Sophia baik-baik saja, dia hanya sedikit kesal saja terhadapku" jelas Raya mencoba membuat Ruben tidak khawatir lagi


" Kalau anda menganggap semua baik-baik saja saya mau pamit untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu setelah semuanya selesai saya akan kemari lagi untuk menemani anda" ujar Ruben


Setelah berpamitan Ruben pun pergi meninggalkan Raya sendirian menjaga anak semata wayangnya.


Dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang Raya berusaha menuruti apa saja yang Athala inginkan termasuk menggendongnya. Walau dengan segala keterbatasan Raya tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.


Sophia yang keluar sedari siang sampai menjelang malam belum menampakkan batang hidungnya, Raya yang menyadari jika sahabatnya belum juga kembali terbesit pikiran negatif di kepalanya.


Kira-kira Sophia pergi kemana ya? sampai terdengar suara adzan isya' dia belum juga kembali, apa dia benar-benar marah kepadaku tapi kenapa? kenapa dia harus sangat marah bukankah sangat wajar jika seorang istri mencari suaminya? kalau masalah Athala aku memang sedikit keterlaluan tapi yang terpenting sekarang kondisi Athala baik-baik saja, huuh.... terserah lah aku pusing memikirkannya, lebih baik sekarang aku istirahat sebentar di sofa.


Dua puluh menit kemudian Ruben datang dengan membawakan beberapa cemilan dan juga minuman untuk sang majikan, dia langsung mencari selimut tatkala menjumpai Raya tertidur di sofa dengan bagian roknya yang tersingkap sehingga memperlihatkan sebagian pahanya yang putih dan mulus bagaikan boneka porselen.


Di tutupi nya sebagian tubuh Raya dengan sangat hati-hati agar Nyonya mudanya tidak terbangun. Tapi usahanya sia-sia karena sang Nyonya muda langsung terbangun ketika selimut itu sampai di dadanya.


" Sophia! apa itu kamu? " tanya Raya


" Maaf Nyonya ini saya Ruben"jelasnya


" Ruben? kenapa kamu ada disini? memangnya pekerjaanmu sudah selesai? " tanya Raya lagi


" Sudah Nyonya, saya kemari karena di telepon oleh Sophia untuk menemani anda disini sebab dia ingin istirahat di rumah katanya" jawab Ruben


Sambil mengangkat kedua kakinya ke atas sofa Raya menghembuskan napas dengan kasar "Oh jadi dia tidak bisa menemaniku disini karena capek kirain karena muak lihat mukaku ini" celoteh Raya

__ADS_1


Melihat tingkah Raya yang seperti anak kecil terkesan sangat imut di mata Ruben hingga dirinya sempat terpana untuk beberapa saat. Ketika tersadar jika dirinya sedang memandang kagum ke arah istri majikannya cepat-cepat dia palingkan pandangannya ke lain arah.


Astaghfirullah, apa yang barusan aku lakukan? aku harus tetap profesional di dalam bekerja lagipula dia itu adalah istri dari orang yang sangat berjasa di dalam kehidupanku, tapi memang tidak bisa di pungkiri kalau Nyonya muda memiliki pesona untuk bisa menarik lawan jenis, pantas saja Tuan muda, Rian bahkan Asep berlomba-lomba di dalam menaklukan hatinya.


" Ruben, Ruben, Ruben kamu sudah tidur?" ucap Raya


Ruben langsung tersentak tatkala namanya di panggil "Belum Nyonya" jawab Ruben dengan sedikit terbata.


" Kamu sedang apa? kenapa diam saja?" tanya Raya penasaran


" Maaf Nyonya tadi saya sedikit melamun" ujarnya


" Kamu pasti kepikiran soal pekerjaan yang ada di kantor ya? atau kamu kepikiran seseorang yang ada di kantor?" goda Raya


" Tidak Nyonya " jawab Ruben malu-malu


Apa yang harus aku katakan jika yang aku pikirkan adalah dirinya.


" Dari suaramu terdengar kalau kamu sedang malu-malu, kelihatannya memang benar kalau kamu sedang kasmaran ya? tidak apa-apa Ruben itu wajar kok, lagipula selama ini kamu selalu hidup monoton, seluruh hidupmu kamu abdikan untuk mas Dion dan juga perusahaannya jadi inilah saatnya kamu untuk mengejar kebahagiaanmu sendiri" kata Raya dengan antusiasnya


" Tidak Nyonya tidak ada yang sedang saya sukai" Ruben tetap berusaha mengelak


" Kalau kamu tidak suka perempuan berarti kamu menyimpang dong?" goda Raya lagi


" Tidak Nyonya, saya berani bersumpah kalau saya ini normal" kelak Ruben dengan nada suara yang lantang


Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Ruben membuat Raya tertawa terpingkal-pingkal, Ruben yang bingung dengan tingkah majikannya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Aku percaya Ruben kalau kamu itu pria sejati, aku tadi hanya menggodamu saja tidak aku sangka reaksimu sangat berlebihan seperti itu" jelas Raya sambil berusaha mengendalikan tertawanya


" Maaf Nyonya saya tidak tahu" ujar Ruben sedikit menyesal

__ADS_1


" Jangan kaku gitu biasa saja, aku sangat terhibur kamu ada disini menemaniku, terima kasih ya" ucap Raya sambil tersenyum menatap Ruben


__ADS_2