
Semenjak kejadian di danau pada malam itu Dion sudah tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di depan muka Raya. Raya merasa bimbang karena di hari sakralnya dia tidak bisa menemukan sesosok orang yang sangat penting di dalam hidupnya.
Kenapa Mas Dion tidak menyaksikan akad antara aku dengan Ruben? padahal aku sangat butuh sekali support darinya, aku masih tidak percaya jika orang di sampingku adalah Ruben bukan Dion
" Sah" para saksi serentak mengatakannya ketika penghulu sedang bertanya kepada mereka
Mendengar kata itu membuat tubuh Raya lemas seketika, keringat dingin mengucur deras di punggung dan telapak tangannya bahkan Raya kehilangan konsentrasinya ketika penghulu menyuruhnya untuk salaman kepada Ruben suami yang baru saja menikahinya.
" Raya.....Raya" Sophia memanggilnya dengan samar-samar
Raya yang termenung langsung kembali sadar ketika namanya di panggil
" Nak Raya apa yang kau pikirkan? ayo cium dulu tangan suamimu! " ucap penghulu itu sambil tersenyum.
Dengan sedikit malu Raya lantas melakukan apa yang di perintahkan kepadanya. Selesai bersalaman dan di tutup dengan doa beberapa orang di antaranya membantu para pengantin untuk kembali masuk ke dalam kamar mereka agar bisa istirahat terlebih dahulu karena nanti malam mereka akan menyelenggarakan resepsi pernikahan di salah satu hotel mewah milik orang tua Sophia.
Di kamar Raya menumpahkan rasa kecewanya melalui butiran-butiran yang keluar dari kedua sudut matanya. Ruben yang melihatnya segera menghampiri Raya dan duduk di sebelahnya.
" Raya kenapa kamu menangis? kamu menyesal telah menikahi ku?" tanya Ruben pelan sambil memegang pundak Raya
" Bukan begitu aku hanya merasa kecewa karena tidak bisa melihat mas Dion disini. Semenjak pertemuan di danau pada malam itu aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya, aku benar-benar takut jika terjadi sesuatu kepadanya. " jelas Raya
Raya menangis bukan karena pernikahan ini melainkan karena tuan muda tidak hadir disini, ternyata rasa cintanya terhadap tuan muda memang tidak bisa di anggap enteng, aku jadi menyesal berada di tengah hubungan mereka.
" Raya maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk hubungan kalian, tapi tenang saja setelah tiga bulan aku pasti akan menyerahkan kamu kembali kepada tuan muda. Jadi tolong kamu jangan bersedih lagi ya! karena nanti sore kita harus terlihat happy di pesta resepsi pernikahan" ujar Ruben
Raya mulai menyeka tangisnya ucapan Ruben membuatnya berpikir kalau untuk kali ini dia tidak boleh hanya memikirkan perasaannya saja karena dia harus menjaga perasaan banyak orang.
__ADS_1
" Terima kasih Ruben, aku janji mulai sekarang sampai tiga bulan ke depan akan menjadi istri yang baik buat kamu, agar semua orang tidak ada yang curiga dengan pernikahan kita" ucap Raya dengan semangat
Ruben merasa lega jika Raya bisa kembali bersemangat menjalankan rencana mereka.
Di malam harinya pesta berlangsung sangat ramai dan megah, semua orang nampak bersuka cita menikmati pesta itu berbeda hal nya dengan Dion yang sedari tadi hanya bisa diam di sudut ruangan sembari mengamati sekitar, dia begitu nampak misterius dengan menggunakan setelan serba hitam dan masker yang menutupi setengah dari wajahnya.
Sophia yang dari kejauhan melihat lelaki misterius itu bisa langsung bisa menebak jika dia adalah Dion, tanpa lama-lama di dekatinya lelaki itu.
" Ngapain kamu ada di sini? kamu enggak mau bergabung dengan mereka menikmati pestanya" sapa Sophia
Melihat kehadiran Sophia secara tiba-tiba membuat Dion nampak tidak senang.
" Sebaiknya kamu jangan di sini! aku ingin sendiri " Dion mencoba mengusir Sophia
Bukannya pergi Sophia malah menarik kursi dan meletakkan pantatnya di sana. "Jangan galak-galak, yang ada nanti kamu jadi pusat perhatian lagi terlebih dengan setelan yang sedang kamu kenakan ini" sambil menunjuk pakaian yang dikenakan oleh Dion "Di tambah dengan masker, waah... bisa-bisa kamu diusir dari gedung tanpa hormat karena di sangka *******" imbuhnya dengan tertawa kecil
Dion semakin kesal dengan Sophia yang menjadikannya sebagai bahan olok-olokan.
" Tunggu! jangan bilang setelah ini kamu mau menghilang lagi?" tebak Sophia
" Sudahlah jangan banyak bertanya, cukup kamu serahkan kado ini saja!" jawabnya sambil berjalan meninggalkan Sophia
Sikap Dion selalu saja membuat penasaran, tapi yasudah lah untuk kali ini aku tidak perlu ikut campur lagi urusan mereka.
Sophia berjalan mendekati Raya di atas pelaminan sambil berbisik jika baru saja dirinya bertemu dengan Dion.
" Lalu dimana dia sekarang?" ucap Raya dengan antusias
__ADS_1
" Kendalikan dirimu! ingat pesta ini masih berlangsung, Dion sudah pergi dia hanya menitipkan kado ini buat kamu" sambil menyerahkan sebuah bingkisan
Ruben yang melihat Raya menerima sebuah bingkisan segera di ambilnya.
" Sebaiknya jangan sekarang di buka karena kita harus tetap fokus dengan para tamu" ujar Ruben
Raya sebenarnya ingin berontak dan meninggalkan pesta itu, tapi dia sudah berjanji kepada Ruben akan menjadi istri yang baik baginya.
" Baiklah aku akan menurutinya" ucap Raya lemas
Pesta itu berjalan dengan lancar hingga akhir acara, Raya yang sudah tidak sabar membuka kado dari Dion segera memintanya dari Ruben lalu pergi menuju kamar yang sudah Sophia siapkan untuk mereka berdua tempati selama satu minggu mendatang.
Di dalam kamar Raya membuka bingkisan itu dengan hati yang berdebar-debar sambil otaknya terus menebak-nebak apa isi di dalamnya.
Alangkah terkejutnya dia melihat sebuah kalung yang sangat indah berbalut berlian dan mutiara di tengahnya. Menatap kalung itu membuat hatinya sesak hingga tidak terasa air matanya meluncur dengan bebas di pipi mulusnya.
" Kamu kenapa Raya?" tanya Ruben
" Aku merasa terharu melihat hadiah dari mas Dion, tidak kusangka dia masih mengingat kalung yang selama ini aku impikan." air matanya semakin berurai dengan deras
" Tuan muda selalu mengatakan kalau kamu itu adalah sebagian dari nyawanya, dan dia pernah cerita sebenarnya dari kecil dia tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat melainkan kekasih, mungkin itulah yang tertanam di dasar hatinya hingga membuatnya lupa kalau kamu dulu pacar dari Rian. Intinya kamu adalah sesuatu yang paling berharga di kehidupannya tuan muda" jelas Ruben
" Kalau aku paling berharga kenapa dulu dia tega menyakiti hatiku? dan yang paling aku tidak mengerti hal sepele seperti ini saja dia ingat tapi kejadian yang penting dia selalu melupakannya" keluh Raya
" Itulah uniknya otak manusia, siapapun tidak bisa menebaknya. Kalau masalah kenapa tuan muda tega menyakiti hatimu itu aku tidak mengerti, tapi menurut ku ini adalah waktu yang tepat untuk membalas semua rasa sakitmu dulu" sambil mendekati Raya
" Maksudnya " Raya merasa bingung dengan ucapan Ruben
__ADS_1
" Tuan muda menikahi Maya dan melakukan malam pertamanya di depan matamu, karena kita sekarang sudah menikah bagaimana kalau kita juga melakukan malam pertama? seperti yang tuan muda lakukan" bisik Ruben
" Tidaaaaaaaakkkkkkk......." teriak Raya