
Rasa canggung menyelimuti mereka tatkala Ruben meninggalkan keduanya di dalam sebuah ruangan. Rasa canggung itu muncul karena sebuah rasa yang dulu pernah ada di hati. Dion yang sudah muak dengan kondisi yang tidak menyenangkan ini akhirnya berusaha untuk memecah keheningan dengan cara memberi sebuah pertanyaan yang terkesan hanya sebuah basa basi biasa semata.
" Raya ehm... apa kamu sudah makan?" Sambil menjuruskan pandangannya ke lawan bicara.
Mendengar pertanyaan dadakan dari mulut Dion, Raya sedikit gugup di dalam menjawab "Su.. Sudah" Jawabnya singkat, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah luar pintu, Dion yang gregetan dengan jawaban singkat yang di berikan Raya segera beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati wanita yang duduk di seberangnya.
Raya tersentak setelah sadar jika mantan suaminya itu telah berada di hadapannya.
" Mas Dion? Mas mau apa? " Tanya Raya terbata-bata karena rasa takut yang dia rasakan ketika Dion mencondongkan tubuhnya sambil menekan sofa tempat Raya bersandar dengan kedua tangannya. Dalam posisi terhimpit itu Dion berkata "Kenapa Raya? Apakah kamu takut denganku? Bukankah kita dulu adalah sahabat? Tapi mengapa saat ini kamu terkesan menghindari ku, setelah aku mengorbankan perasaan ku agar kamu bisa hidup bahagia bersama lelaki pilihanmu?" Kata-kata Dion membuat Raya sesak seketika itu buliran-buliran bening terjun bebas di pipi Raya. Dengan tenaga yang susah payah dia kumpulkan Raya berusaha mendorong tubuh Dion agar lebih jauh darinya. "Maaf mas aku tidak bermaksud menghindarimu hanya saja aku merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati kepercayaan yang kamu berikan kepada ku" Balasnya.
Dion yang tumbang mencoba bangkit dan perlahan duduk di samping Raya. "Untuk apa kamu minta maaf dan merasa bersalah? Ini semua kesalahan ku, aku yang telah memaksamu untuk mengikuti semua permainanku hingga pada akhirnya kamu larut dalam permainan itu. Raya percaya padaku! Aku tidak akan pernah mengganggu rumah tanggamu bersama Ruben, yang aku inginkan kita bisa akrab seperti dulu di saat kamu dan aku masih menjadi sahabat, jujur aku tidak bisa Raya jika hidup tanpa kamu di sisiku tapi demi kebahagiaanmu aku rela untuk hidup sendiri asalkan kamu masih bersedia untuk menjadi sahabatku" Terangnya
Mendengar curhatan hati sang mantan membuat Raya semakin tidak bisa mengendalikan air matanya untuk tidak bisa jatuh.
" Baik mas aku akan berusaha untuk bisa bersikap biasa seperti dulu asalkan kamu menepati apa yang telah kamu katakan barusan" Ucap Raya sambil melihat lekat ke arah Dion.
Dion menganggukkan kepalanya tanda setuju, selepas perbincangan itu Ruben datang dengan membawa Athala di gendongan nya.
__ADS_1
" Maaf menunggu lama soalnya tadi Dea membawa anak-anak agak jauh dari rumah" Ujar Ruben setelah masuk ke dalam rumah.
Bergegas Dion mendekati Ruben lalu menyuruh nya supaya menyerahkan Athala kepadanya. Tapi sayang Athala yang masih asing dengan sosok Dion menolak untuk di gendong, melihat darah dagingnya menolak untuk di gendong seketika membuat hatinya terasa patah hati. "Ternyata darah daging ku sendiri lebih nyaman denganmu Ruben" Sambil tersenyum masam.
" Tidak tuan, Anda salah paham sebenarnya Athala adalah anak yang penurut dan mudah dekat dengan siapapun hanya saja untuk saat ini dia sedang mengantuk hingga membuat moodnya jelek. Jika Anda ingin membawanya pergi lebih baik ketika dia sudah tertidur lelap agar lebih mudah. Kalaupun nanti di sana Athala rewel itu sangat lumrah sekali karena dia belum terbiasa dengan lingkungan barunya" Jelas Ruben
" Benarkah? Baiklah kalau begitu aku akan membawanya ketika dia sudah terlelap" Ucap Dion
" Yasudah biar aku saja mas yang menidurkan Athala! Kamu temani mas Dion saja di sini!" Kata Raya sembari mendekati Ruben dan mengambil Athala dari gendongannya
Di tinggal oleh Raya membuat hati Dion tidak senang, dia merasa jika Raya sengaja melakukan hal itu demi menghindarinya.
" Tuan kenapa diam saja? Apa yang sedang Anda pikirkan?" Tanya Ruben tiba-tiba
Seketika itu lamunan yang ada di otak Dion langsung bercerai berai.
" Bukan apa-apa! " jawab Dion Singkat
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit Raya keluar dari kamar sambil menggendong Athala yang sudah terlelap dengan pulasnya.
" Mas ini aku serahkan Athala kepadamu, aku berharap kamu bisa lebih sabar lagi di dalam menghadapinya" seru Raya sambil menyerahkan Athala kepada Dion.
" Tenang saja aku akan menjaganya dan berusaha untuk membuat dirinya lebih bisa menerimaku" balas Dion sambil membopong Athala.
Karena apa yang diinginkannya sudah dia dapatkan Dion pun pamit dari hadapan Raya dan Ruben. Raya yang belum pernah berpisah lama dengan putrinya merasa sangat bersedih hati, walau rasa itu dia tidak tunjukkan di depan Dion. Selepas mobil yang mengangkut putri kecilnya telah hilang dari pandangan di situ Raya sudah tidak mampu lagi untuk menahan gejolak yang ada di dalam hatinya. Maka pecahlah tangisan Raya meratapi kepergian sang putri tercinta. Dengan sigap Ruben memeluk istrinya "Sayang jangan bersedih, seharusnya kamu bahagia karena pada akhirnya Tuan Muda mau mengakui bahkan memiliki itikad baik untuk merawat putri kandungnya yang selama ini dia sia-siakan" sambil membelai rambut Raya dengan lembut.
" Iya mas apa yang kamu ucapkan benar tapi tidak bisa di pungkiri jika aku merasa belum ikhlas berpisah dengan Athala karena bagaimanapun juga aku seorang ibu, mana ada ibu yang bisa bertahan lama jauh dari anaknya yang masih balita?" sambil terus menangis
" Iya sayang aku paham apa yang sedang kamu rasakan saat ini, hanya saja kamu jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan karena kasihan bayi yang ada di perut kamu itu dia pasti juga merasa sedih" Ruben mencoba menasehati istrinya
" Maaf mas aku lupa, jika aku masih punya bayi yang harus aku jaga" imbuhnya.
Ruben tersenyum mendapati istrinya kembali tersadar dan mau mendengarkan nasehatnya, ia pun memeluk istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
" Sayang kamu istirahat saja di sini jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam dan kalau kamu membutuhkan sesuatu jangan ragu untuk menyuruh Dea, oh ya dia akan segera pulang setelah selesai menyuapi Dion junior" jelas Ruben
__ADS_1
" Iya mas kamu tenang saja aku akan berusaha mengalihkan pikiranku dari mengingat Athala yaitu dengan cara melakukan beberapa kegiatan ringan, kamu pergi saja ke minimarket dengan tenang" ujar Raya
" Oke kalau begitu aku pamit pergi, kamu baik-baik disini ya sayang" sambil mencium kening istrinya