
Sebuah kenyataan yang memilukan hati, ingin kembali tapi tak bisa lagi, ingin berlari tapi tetap harus kembali demi seseorang yang sudah menanti. Segala kegundahan yang Raya rasakan saat ini membuatnya terhimpit pada suatu kondisi dimana dirinya harus memilih tetap melanjutkan atau mundur ke belakang.
Sebenarnya dia ingin kembali hidup bersama Dion yang selama ini selalu ada di dalam hidupnya, tapi dia tidak bisa membatalkan begitu saja kesepakatan yang dia jalin dengan Ruben, lelaki yang akhir-akhir ini menemani setiap langkahnya.
" Raya kenapa hanya diam saja, tidak segera memakannya? kamu tidak suka dengan hidangannya?" tanya Dion sembari memandang lekat ke arah Raya
" Maaf mas bukannya aku tidak suka hanya saja aku masih belum bisa makan setelah apa yang baru saja terjadi" ucap Raya lemas
" Oh ternyata kamu masih trauma? baik kalau begitu aku antar kamu istirahat di apartemen ku saja, biar kita bisa saling mengobrol santai disana"
Dengan cepat Raya menolaknya "Tidak perlu, lagipula aku sudah punya tempat menginap di salah satu hotel yang tidak jauh dari sini"
Dion sedikit curiga dengan penolakan yang di lakukan oleh Raya.
" Memangnya menginap di hotel selain dengan anak-anak dengan siapa lagi? jangan bilang kalau kamu tinggal dengan Ruben?" Dion mulai mengintimidasi nya
" Ya memang kita satu hotel tapi kan beda kamar, enggak mungkinkan kita tidur satu kamar memangnya kita suami istri" jawab Raya sedikit gugup
" Benar juga ya, bodohnya aku berpikiran yang macam-macam" ucap Dion sambil tertawa
Huh, untung saja Dion percaya kalau aku tidak sekamar dengan Ruben bisa runyam masalahnya kalau dia tahu aku sekamar dengan Ruben, ya walau kami beda ranjang tapi tetap saja kalau Dion tahu dia pasti sangat marah.
Tiba-tiba ponsel Raya berdering, dengan cepat Raya mengangkatnya. Ternyata yang menelepon adalah Ruben yang sedang bertanya posisi Raya saat ini, Ruben khawatir karena tidak dapat menemuinya di tempat terakhir Ruben meninggalkan dirinya.
" Maaf tadi aku sakit perut jadi aku pergi ke toilet, dan sekarang aku ada di restauran dekat dengan pusat informasi mall, sebaiknya kamu kesini saja dengan Athala!" Selesai berbicara Raya pun memutus sambungan telepon nya.
" Yang menelepon barusan apakah Ruben?" tanya Dion penasaran
" Iya benar mas, itu Ruben" jawab Raya singkat
__ADS_1
" Kebetulan sekali Ruben kemari karena banyak yang ingin aku tanyakan kepada dirinya, sambil menunggu dia datang sebaiknya kamu makan sedikit saja untuk menambah tenaga setelah lelah berlarian" Dion memberikan beberapa lauk ke piring Raya
" Iya baiklah" sambil menyuapkan makanan ke mulutnya
Selang beberapa menit Ruben datang dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong Athala.
" Raya kamu tidak apa-apa? aku benar-benar khawatir takut terjadi sesuatu sama kamu dan juga baby Dion" Ruben langsung mendekati Raya tanpa melihat ke sekeliling.
Dion yang masih duduk di kursinya melihat tajam ke arah Ruben yang sedang berbicara dengan Raya.
" Ruben! baru aku tinggal sebentar kamu sudah berani mengabaikan ku disini dan kamu juga berani memanggil Raya dengan namanya? apakah kamu sudah bosan hidup? " tanya Dion sambil beranjak dari tempat duduknya
Ruben langsung menengok ke belakang, dia sangat terkejut ternyata Tuan Muda yang selama ini dia cari berada tepat di hadapannya.
" Tuan muda" Ruben langsung memeluk Dion sebagai tanda bahwa dirinya sangat merindukan sosok Tuan mudanya
" Sudah cukup meluknya, kasihan anakku kamu himpit, sini serahkan Athala kepada ku! aku benar-benar sangat merindukannya" kata Dion
" Sayang maafkan papa yang sudah lama mengabaikanmu, papa janji setelah ini papa, kamu, dan juga mama akan hidup bersama selamanya tidak akan terpisahkan" ucap Dion sambil memeluk dan terus menciumi Athala
Kata-kata yang di ucapkan Dion seakan-akan menampar Ruben, dia sekarang tersadar jika dirinya kini hanya sebuah batu kerikil yang menghalangi perjalanan cinta antara Dion dan Raya.
Mungkin ini adalah saatnya bagiku pergi dari kehidupan Raya, dan melepaskan dia untuk selamanya karena bagaimana pun juga Tuan Muda dan juga Raya mereka saling mencintai terlebih mereka juga punya buah hati, beda dengan aku yang tidak memiliki ikatan apa-apa dengan Raya.
" Ruben ayo duduk, makan dulu! aku yakin kamu belum makan karena sibuk mencari Raya, iya kan?"
Ruben hanya bisa tersenyum dan menuruti apa yang di perintahkan oleh majikannya.
" Oh ya bagaimana perusahaan? aman?" tanya Dion lagi
__ADS_1
" Perusahaan untuk saat ini masih terkendali hanya saja para pemegang saham mendesak saya agar segera menyuruh anda pulang dan kembali ke perusahaan, bahkan mereka memberi waktu saya enam bulan jika anda tidak segera kembali maka mereka akan mengadakan rapat pemegang saham dengan agenda pemecatan anda dari CEO" jelas Ruben
" Berani sekali mereka, aku yakin pasti biang keladi dari semua ini adalah si tua Broto, benar tidak?"
" Iya anda benar sekali, Tuan" balas Ruben
" Memang sudah tidak bisa di biarkan lagi, aku harus segera kembali dan membungkam orang-orang yang berniat buruk kepadaku."
" Tapi sudahlah kita bahas lagi masalah ini ketika sudah sampai di Indonesia, untuk saat ini kita senang-senang saja dulu"
Dion yang masih dalam posisi berdiri sambil menggendong Athala melihat sebuah mainan di seberang restauran berniat ingin membelikannya untuk buah hatinya.
" Kalian habiskan makanannya, aku mau ke toko mainan di seberang sana, Ruben tolong kamu jaga Raya dan juga baby nya" sambil menepuk pundak Ruben
" Baik Tuan" sambil mengangguk
Di rasa Tuan mudanya sudah pergi agak jauh segera Ruben bertanya kepada Raya soal rencana pernikahan mereka.
" Apakah Raya sudah memberi tahu Tuan Muda jika kita berniat untuk melangsungkan pernikahan?"
" Aku tidak bisa memberitahukan nya Ruben, karena kamu tahu kan jika mas Dion cemburu seperti apa reaksinya"
" Lantas apa rencana Raya sekarang?" tanya Ruben kembali
" Mas Dion mengajakku untuk rujuk kembali, tapi aku belum memberikan jawaban karena aku pikir aku harus menyelesaikan dahulu kesepakatan yang telah kita buat, semua tergantung kepadamu Ruben kalau kamu ikhlas untuk membatalkannya aku akan dengan senang hati menerimanya tapi jika sebaliknya aku akan berusaha ikhlas menerima kamu untuk jadi suamiku" terang Raya sambil sesekali meminum juz buahnya
Ruben terdiam sejenak untuk memikirkan keputusan yang benar sehingga tidak akan membawa dampak penyesalan di kemudian hari. Bagai makan buah simalakama, jika dia maju maka akan membuat orang yang paling berjasa di hidupnya kecewa tapi jika dia mundur maka dia akan kehilangan orang yang sangat di cintainya.
Raya yang menganggap Ruben terlalu lama memberi jawaban akhirnya Raya sendiri yang menjawabnya.
__ADS_1
" Ruben dari awal kita tidak saling mencintai seandainya kita menikah pun yang ada rumah tangga kita tidak lebih hanya sebatas status belaka dan itu akan membuat kita akan saling tersakiti, bukankah lebih baik jika kita membatalkannya saja. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan perempuan baik yang bisa kamu jaga dan cintai seumur hidupmu, yang jelas itu bukan aku" Kata-kata Raya menusuk hati Ruben hingga membuatnya benar-benar merasakan patah hati.