
Rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah yang selalu menjadi impian setiap pasangan suami istri akhirnya kini bisa Raya rasakan walau tanpa orang yang selama ini ada di kehidupannya. Misteri kehidupan tidak ada satu orang pun bisa menebaknya begitupula dengan JODOH tidak ada orang yang bisa memprediksi nya. Awalnya Raya begitu yakin jika Dion lah jodoh yang di siapkan Tuhan untuknya tapi ternyata semua itu salah, justru jodohnya adalah orang yang selama ini selalu dekat dengan suaminya tapi tidak pernah dia hiraukan sama sekali kehadirannya.
" Selamat pagi sayang! bagaimana tidurnya nyenyak?" sapa Ruben yang langsung bertanya ketika tahu sang istri tercinta membuka matanya
Raya di tatap tajam oleh suaminya merasa malu hingga pipinya merona. Dengan cepat Raya menutupi wajah merahnya dengan selimut.
" Lah kok di tutup gitu wajahnya? aku kan belum puas lihat wajah cantik istriku " goda Ruben
" Udah dong pagi-pagi jangan gombal, memangnya kamu tidak berangkat kerja, ini sudah siang lo" ujar Raya masih di bawah selimut
" Aku tidak akan kemana-mana sebelum mendapat penyemangat kehidupan " balas Ruben sambil tersenyum kecil
Dengan perlahan Raya membuka selimut yang menutupi seluruh wajahnya, dengan cepat dia mencium bibir suaminya itu lalu kembali menutup wajahnya dengan selimut.
" Sudah aku kasih sekarang kamu pergi sana! " usir Raya di balik selimutnya
" Mana kerasa cepat gitu, sini biar aku saja yang melakukannya" ujar Ruben sambil membuka selimut yang menutupi wajah istrinya lalu dia mulai menciuminya dengan penuh kasih sayang.
" Sudah nanti kesiangan berangkat ke mini marketnya" ucap Raya
" Baiklah aku tunggu kamu di bawah untuk sarapan, sekarang kamu bersih-bersih saja dulu"
" oke " kata Raya antusias seraya memberi isyarat dengan tangannya
Ruben tersenyum sambil meninggalkan kamar menuju ruang makan yang letaknya berada di lantai dasar.
__ADS_1
Melihat suaminya sudah keluar Raya pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian Raya keluar kamar dengan mengenakan celana seperempat di padu dengan blues warna salem yang memberikan kesan santai dan manis. Dengan perlahan dia menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk menghampiri suaminya yang telah menunggunya sedari tadi.
" Mas maaf kalau menunggu lama, ngomong-ngomong Dea dan anak-anak kemana? kok sepi sekali?" sambil menarik kursi di sebelah Ruben
" Dea menyuapi anak-anak di halaman depan, kamu tidak perlu khawatir Dea bisa menaklukan para bocil itu" kata Ruben dengan senyum lebarnya. "Lebih baik sekarang kamu menyuapi aku saja!" lanjutnya dengan nada menggoda
Muka Raya langsung memerah "Apaan sih" sahutnya
Ketika Raya hendak menyuapkan makanan ke mulutnya tiba-tiba Ruben menyerobot dan menggigit makanan itu dari tangan Raya.
" Mas! " tatapan Raya langsung menjurus ke wajah Ruben. "Iseng banget deh" celotehnya sambil memukul manja lengan Ruben
Dengan sigap Ruben menahan kedua tangan Raya yang sedang memukulinya, lalu di tatap nya wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta.
" Tuan? " ucap Ruben selepas melihat kehadiran seseorang disana.
Raya terperanjat mendengar suaminya memanggil Tuan kepada seseorang yang dia yakini pasti orang itu adalah Dion mantan suaminya. Merasa tidak enak hati Raya merasa ragu untuk menengok ke belakang, Ruben yang peka akan kegalauan hati sang istri langsung menyapa Dion dan mengajaknya ke ruang tamu.
" Maaf kalau kehadiranku mengganggu kalian" kata Dion dengan ekspresi datarnya sambil duduk di sofa
" Tuan muda tidak perlu meminta maaf, justru saya yang seharusnya meminta maaf karena sudah " Ruben tidak melanjutkan perkataannya karena dia merasa sulit untuk mengucapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
" Sudah semestinya kamu meminta maaf karena sudah mengkhianatiku tapi selepas dari itu semua, aku mau berterima kasih kepadamu karena sudah membahagiakan wanita yang sangat penting di dalam hidupku, keputusan untuk melepas Raya nampaknya sudah benar sebab aku melihat dia jauh bahagia bersamamu daripada hidup bersama ku. Kalian tidak perlu khawatir kedatangan ku kesini bukan untuk mengganggu kebahagiaan kalian melainkan aku kesini untuk menjemput Athala supaya tinggal bersama ku selama seminggu setiap bulannya sesuai dengan kesepakatan yang aku buat bersama Raya tempo lalu." jelas Dion memberitahukan maksud dan tujuannya.
" Terima kasih Tuan mau merelakan Raya untuk hidup bersama dengan saya, tadinya saya berpikir jika Tuan akan sangat marah jika suatu saat nanti kita bertemu tapi ternyata dugaanku salah. Walau demikian rasa bersalah terhadap Tuan sering muncul di dalam pikiran saya"
__ADS_1
" Sudahlah kamu tidak perlu sentimentil seperti itu, jika kamu merasa tidak berkenan kamu boleh kok mengembalikkan Raya kepadaku! aku akan sangat senang hati menerimanya" canda Dion yang mencoba mencairkan suasana.
Raya datang dengan membawa dua cangkir teh dan beberapa toples camilan yang berada di atas nampan.
" Ini aku bawakan minuman dan beberapa camilan agar mengobrol nya lebih seru lagi" sambil meletakkannya di meja
Melihat kehadiran mantan istrinya Dion langsung terfokus kepadanya, sampai-sampai Dion tidak berkedip satu detikpun. Dion merasa sangat rindu hingga ingin sekali dirinya memeluk untuk melepaskan rasa rindu yang berkecamuk di dalam hatinya tapi semua itu sangat mustahil Dion lakukan karena dirinya sadar betul jika sang kekasih hati telah menjadi milik orang lain.
" Terima kasih Raya, oh ya apa kabar kamu? Athala dimana? aku tidak melihatnya sedari tadi" tanya Dion
" Aku baik-baik saja, Athala sedang bersama Dea tadi sih di luar sana. Apa Mas mau membawanya sekarang? kalau iya biar aku siapkan dulu segala kebutuhan Athala" balas Raya
" Tidak perlu, keperluan Athala semua sudah aku persiapkan mulai dari pakaiannya hingga susu dan mainannya" jelas Dion
" Oh ya? bagus dong kalau begitu jadi tidak ribet lagi, sekarang aku mau cari Athala di depan sambil menunggu silahkan di cicipi teh dan camilannya!" Raya mempersilahkan mantan suaminya.
" Sayang biar aku saja yang mencari Dea dan anak-anak, kamu disini saja istirahat sambil menemani Tuan Muda" cegah Ruben
" Tapi mas" Belum sempat melanjutkan perkataannya Ruben sudah mencegah Raya untuk bicara.
" Husst! tidak ada tapi-tapian, yang namanya bumil tidak boleh kecapean kasihan dede yang ada di dalam perutmu itu " ucap Ruben lemah lembut
Dengan muka yang di bikin cemberut Raya pun akhirnya memilih untuk menuruti perkataan suaminya."Yasudah kalau begitu kamu hati-hati ya!" lanjutnya
Sepeninggal Ruben membuat kecanggungan di antara Raya dan Dion, Raya yang merasa kurang nyaman satu ruangan dengan mantan suaminya itu lebih memilih untuk terdiam sambil sesekali melihat keluar pintu berharap suami dan anaknya segera kembali agar dirinya bisa segera lepas dari situasi yang amat sangat membuat dadanya sesak di buatnya.
__ADS_1