Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Pesan terakhir


__ADS_3

Kedatangan Raya secara tiba-tiba membuat Dion tersentak. "Kenapa kamu ada disini Raya? bukankah kamu harus banyak istirahat, sini aku antar kamu kembali ke kamar" Dion perlahan menghampiri Raya


" Tidak mas, aku mau disini melihat mas Ruben untuk yang terakhir kalinya. Oh ya masalah rekaman video jangan terlalu di besar-besarkan mengingat itu semua keinginan mas Ruben" ucap Raya sambil menyentuh tangan Dion.


" Tapi mereka sudah lepas tanggung jawab sebagai tim medis? seharusnya mereka segera bertindak karena aku sangat yakin sekali jika mereka lebih cepat menangani, Ruben pasti masih bisa di selamatkan" terang Dion dengan menggebu-gebu


" Sudah mas jangan di besarkan masalah ini, aku hanya ingin mengikhlaskan dengan tenang tanpa ada konflik apapun" jelas Raya


Sejenak Dion menatap ke arah Raya dengan tatapan simpati.


" Jangan memasang mimik seperti itu mas, membuat aku jadi merasa orang yang paling merana di muka bumi ini" Raya tersenyum getir


" Maaf Raya dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah bisa membantumu di saat kemalangan datang menghadang" Dion menundukkan kepalanya seakan-akan dia malu menatap orang yang selama ini dicintainya karena merasa tidak berguna.


" Mas jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri, selama ini kamu sudah banyak sekali membantuku hanya saja kita sebagai manusia tidak bisa menentang apa yang sudah menjadi takdir Illahi. Bagaimana jika sekarang kita melihat apa pesan terakhir yang di sampaikan mas Ruben untuk kita." ujar Raya sambil tersenyum tipis


" Oh iya aku hampir lupa " Dion segera mengeluarkan ponsel Ruben dari sakunya.


Dion dan Raya mulai melihat rekaman video Ruben. Di situ di perlihatkan Ruben yang masih bersimbah darah sambil menahan sakitnya memberi pesan kepada istri dan juga mantan majikannya.


" Sayang jika kamu melihat video ini, itu artinya aku sudah menghadap ke Yang Maha Kuasa. Melalui video ini aku ingin meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janjiku padamu untuk menemani dalam proses persalinan anak kita. Tapi aku cukup lega karena tuan muda bersedia menggantikan ku untuk menemanimu, sayang jika anak kita laki-laki tolong beri dia nama belakang dari tuan muda yaitu PERKASA karena aku berharap anak kita bisa menjadi lelaki yang perkasa seperti tuan muda( Ruben mulai kesusahan di dalam bernapas), Sayang aku berharap kamu dan tuan muda bisa lagi bersatu, maafkan aku yang menjadi orang ketiga di dalam hubungan kalian. Inilah takdir dari Sang Maha Kuasa bahwasanya Dion dan Raya akan hidup bersama dan bahagia sampai tua (Ruben mulai merasakan lemas dan dingin di seluruh tubuhnya). Sasayang... aku merasa dingin, aku rindu kamu... " Ruben menghela napas panjangnya.


Seketika itu Raya menangis sejadi-jadinya melihat rekaman video terakhir dari suaminya, Dion yang berada di samping Raya hanya bisa mengelus-elus pundak Raya sambil berbisik "Raya kita kembali ke kamar kamu ya?"

__ADS_1


Raya menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat Dion yang sedang berdiri tepat di samping kursi rodanya.


" Tidak aku tidak akan pergi kemana-mana sebelum melihat jasad suamiku untuk yang terakhir kalinya" ucap Raya sambil menyeka air matanya.


" Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkan mu " kata Dion sembari mendorong kursi roda Raya hingga berada di hadapan jasad Ruben.


Dengan hati yang penuh kepedihan Raya mencoba mengendalikan dirinya agar tidak terlihat terpuruk di hadapan jasad suaminya.


" Mas terima kasih sudah menjadi imam yang baik buat aku, aku berjanji akan menjaga anak kita sebaik mungkin dan aku akan menamakannya sesuai dengan apa yang kamu inginkan, sekali lagi terima kasih sudah menjadi kekasih yang selalu menjaga dan mencintaiku terima kasih, terima kasih sayang" ucap Raya sambil sesenggukan, Dion yang menyadari perubahan emosi yang Raya tunjukkan membuatnya segera mendorong kursi rodanya meninggalkan ruangan.


" Raya kamu baik-baik saja? " tanya Dion ketika sudah berada di luar ruang ICU.


Raya tidak menjawab pertanyaan Dion karena hatinya masih pilu, dia masih belum bisa menerima kenyataan jika suami yang di cintainya telah kembali ke Sang Pencipta.


Masih sama Raya tidak menanggapi apapun yang Dion katakan, Dion agak cemas dengan mental Raya, dia sangat takut jika Raya menjadi depresi. Tanpa pikir panjang lagi Dion segera mengantar Raya kembali ke kamar dan mendatangkan dokter untuk memeriksa kejiwaan wanita yang selalu dicintainya itu.


" Bagaimana keadaaan Raya dok?" Dion bertanya dengan penuh kekhawatiran.


" Tubuh pasien baik hanya kejiwaannya sedikit terganggu, semua itu bisa terjadi karena pasien baru saja melahirkan, biasanya ibu yang baru melahirkan mudah mengalami perubahan suasana hati, dan kondisi emosional menjadi tidak stabil apalagi pasien mendengar kabar jika orang yang di cintainya sudah meninggal itu adalah pukulan yang sangat hebat buat dirinya." terang dokter


" Lalu apa yang bisa kita lakukan dok?"


" Berusaha membuat pasien melupakan kepiluan hidupnya, keluarga harus terus berusaha membuat pasien selalu bahagia. Kalau bisa bawa dia ke tempat yang sekiranya tidak membuatnya ingat akan sosok orang yang di cintainya " jelas dokter sambil menepuk pundak Dion

__ADS_1


" Terima kasih atas saran yang di berikan, saya akan berusaha untuk membuat Raya melupakan kesedihannya" balas Dion dengan semangat sambil menjabat tangan sang Dokter


Usai dengan penjelasannya dokter pun pergi meninggalkan Dion yang masih sibuk dengan pemikirannya.


Ketika Dion larut dalam pikirannya ia pun di kejutkan dengan kehadiran sahabat-sahabat yang dulu selalu ada di sekitar dirinya dan juga Raya.


" Bagaimana keadaan Raya? kenapa semua bisa jadi seperti ini Dion?" tanya Sophia tiba-tiba


" Entahlah semua terjadi begitu cepat hingga aku sendiri bingung untuk memulai ceritanya dari mana, yang jelas aku mengharapkan supaya kalian jangan pernah menyinggung tentang kematian Ruben di hadapan Raya karena saat ini kondisi Raya tidak stabil alias kejiwaan nya sedikit terguncang, kata dokter kalau bisa Raya di bawa ke tempat yang sekiranya di tempat itu dia tidak bisa memikirkan sesosok Ruben lagi. Kira-kira kalian punya masukan untuk masalah ini?" Dion ingin mendengar pendapat dari sahabat-sahabatnya.


" Bagaimana kalau Raya tinggal bersamaku di Apartemen? biar nanti aku bisa membantu dia mengurus semua anaknya" kata Sophia


" Tidak bisa, bukankah apartemen mu itu sering di kunjungi oleh Ruben? aku takut jika Raya akan kembali mengingat sesosok Ruben di sana dan membuatnya kembali sedih " jelas Dion


" Bagaimana kalau di Apartemen ku saja? Ruben tidak pernah menginjakkan kakinya di tempatku" usul Rian


" Aku kurang setuju karena kamu tinggal sendiri di apartemen itu, jika kamu kerja siapa nanti yang akan membantu Raya di dalam menjaga ketiga anaknya?" balas Dion


" Lalu apa rencanamu?" tanya Sophia memotong perkataan Dion


" Aku ingin membawanya ke Korea Selatan bersamaku, di sana aku punya beberapa pembantu yang siap membantu Raya untuk menjaga ketiga anaknya. Terlebih di sana Raya benar-benar hidup di tempat yang baru jauh dari kenangan-kenangan pahitnya di sini." jelas Dion


" Sebenarnya aku sedikit kurang setuju tapi berhubung ini demi kesembuhan Raya aku terpaksa menyetujuinya " ujar Sophia dengan napas beratnya.

__ADS_1


__ADS_2