
Sebuah harapan yang tak pernah pupus oleh waktu akan menjadi indah tatkala harapan itu menjadi kenyataan seperti harapan Raya untuk bertemu suaminya, walau banyak halangan dan rintangan yang harus di hadapinya tapi rasa percayanya terhadap sebuah harapan menjadikannya sesosok wanita yang tangguh. Kesabaran nya saat ini berbuah manis karena suami yang selama ini dia harapkan kedatangannya akhirnya berada di hadapannya, dengan penuh rasa haru Raya mendekati sang suami selangkah demi selangkah, ketika berada tepat di hadapan suaminya Raya membelai dengan lembut pipi lelaki yang selama ini dia rindukan itu sambil air matanya terus membanjiri pipi tirusnya. Dion yang sudah tak kuasa menahan hasrat yang ada di dalam hatinya langsung memeluk istri tercintanya dengan erat bahkan tanpa ada rasa canggung Dion mencium bibir istrinya, sontak hal itu
membuat heboh dikalangan warga yang sedari awal ikut mengharu biru melihat pertemuan antara Raya dengan Dion. Rian yang peka dengan situasi itu memerintah anak buah Dion untuk mengahalau para warga masuk ke dalam tempat penampungan, sedangkan dirinya dengan sedikit risih dan malu mendekati pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.
Dengan ragu di tepuknya pundak Dion
" Bro, kalau mau bermesaraan jangan di tempat terbuka dong" tegur Rian dengan mata yang tidak berani menatap.
" Ganggu aja " ucap Dion tidak senang
Raya yang seperti tersadar dari hipnotis cintanya Dion merasa sangat malu dan salah tingkah.
" Sorry kita enggak bermaksud melakukan hal yang tidak senonoh hanya saja.. hmm..mm " Raya tidak mampu meneruskan kalimatnya
" Sudah sayang kamu tidak perlu menjelaskan secara detail seperti itu, sebaiknya kita pergi sekarang" ajak Dion sambil merangkul pundak Raya
" Tunggu mas, sebelum pergi alangkah baiknya kita berpamitan kepada seluruh warga dan kalau bisa aku mau meminta sesuatu dari kamu boleh tidak." tanya Raya dengan ragu-ragu
Melihat ekpresi istrinya yang seperti sedikit takut terhadap dirinya membuat Dion merasa tidak senang.
" Sayang kamu dengarkan aku baik-baik! aku Dion Perkasa suami kamu satu-satunya yang akan menyayangi, melindungi dan menemanimu sampai tua nanti jadi aku minta mulai saat ini kamu jangan pernah lagi takut untuk meminta sesuatu dariku karena apa yang jadi milikku itu juga jadi milikmu." kata Dion sambil memegang pundak istrinya
" Benarkah? Terima kasih mas, aku sangat terharu mendengarnya. Sebenarnya aku ingin mas membantu para warga merenovasi rumah mereka yang di bakar oleh preman yang sedang mencariku tempo hari yang lalu." jelas Raya
" Preman? apa kamu mengenalnya " tanya Dion
" Aku tidak tahu mas, karena aku belum sempat bertemu dengan preman itu tapi Asep sudah pernah bertemu dengan mereka." ujar Raya
__ADS_1
" Siapa Asep?" tanya Dion curiga
" Asep itu orang yang sudah menyelamatkan aku dengan baby Athala, bahkan selama ini aku tinggal di rumahnya bersama neneknya juga." jelas Raya
" Apa? kamu tinggal dengan lelaki?" Dion mulai menampakkan kecemburuan nya
" Iya memang dia itu lelaki tapi dia masih anak SMA kok, lagipula kami tinggal dengan neneknya seperti yang aku jelaskan di awal tadi." Raya mulai panik
Dion segera memerintahkan anak buahnya untuk memanggil seseorang yang bernama Asep. Tidak lama berselang anak buah Dion membawa seorang anak laki-laki yang memiliki postur tubuh cukup tinggi dan wajah yang lumayan walau gaya berpakaian nya sedikit kampungan jika di bandingkan dengan kebanyakan remaja saat ini yang outfitnya sudah berkiblat ke korea. Walaupun demikian Dion masih saja merasa cemburu kepada lelaki itu.
" Kamu yang katanya tinggal satu atap dengan istriku kan?" tanya Dion dengan tatapan elang nya
" Iya benar, tapi om tenang saja aku tidak ngapa-ngapain teh Raya kok." ujar Asep sekenanya
" Om memangnya sejak kapan aku menikahi bibimu? panggil aku tuan Dion" kata Dion dengan sombongnya
" Tidak perlu Sep! kamu cukup panggil dia kakak saja." sanggah Raya
" Anda tenang saja setelah ini mungkin aku tidak akan bisa lagi bertemu teh Raya karena aku akan pindah ke rumah orang tua aku yang berada di kota dan teh Raya juga pasti tidak akan pernah menginjakkan kaki kesini lagi kan."
" Jadi kamu akan tinggal selamanya dengan orang tuamu?" tanya Raya memastikan
" Iya teh, karena aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tinggal disini." Asep berkata dengan lemah
" Kalau begitu tolong tuliskan alamat rumah kamu, biar aku dengan mudah menemukannya." pinta Raya
" Tidak perlu, buat apa kamu menemui anak ingusan ini lagi?" tanya Dion tidak senang
__ADS_1
" Iya teh lebih baik tidak usah, teteh hidup bahagia saja dengan sang suami." ucap Asep
" Maaf ya Sep, kalau semuanya jadi seperti ini." Raya nampak kecewa
" Sudahlah kita sebaiknya menemui para warga dulu untuk memberi tahu mereka dengan rencana kita tadi setelah itu kita langsung pulang." kata Dion sambil menggandeng Raya dan mengajaknya berjalan mengikuti langkahnya. Dion yang sudah di butakan cinta sampai lupa awal niatnya untuk bertemu Asep. Asep yang di tinggal pasangan suami istri itu hanya bisa berdiri mematung.
Betapa beruntungnya lelaki itu bisa mendapatkan hati teh Raya, aku sangat iri sekali dengannya.
Di dalam tempat penampungan Dion beserta istrinya memberikan janji kepada para warga untuk membangun kembali rumah mereka yang telah terbakar, mendengar itu banyak warga yang mengucapkan terimakasih kepada Dion dan Raya, bahkan di antara mereka ada juga yang bersujud di hadapan Raya perihal sifat buruk yang mereka tampakan tatkala rumah mereka baru terbakar. Dengan lapang dada Raya memaafkan mereka semua.
" Keinginan mu sudah aku penuhi sekarang giliranmu untuk membayar semuanya." bisik Dion
Tanpa menjawab sepatah katapun Raya pergi begitu saja menemui Sophia dan berbincang-bincang dengan sahabat yang dia rindukannya itu, tanpa Raya sadari sorot mata tajam Dion terus membidik nya. Dari kejauhan Dion merasakan gelagat aneh yang di tunjukkan istrinya itu tanpa menunggu lama Dion segera menghampiri nya.
" Sayang kamu kenapa? perut kamu sakit?" tanya Dion panik
" Iya mas perutku sakit aku merasa sangat mual sekali ingin muntah" keluh Raya
" Yasudah kita segera ke rumah sakit untuk memeriksanya." Dion pun mengangkat tubuh Raya yang mulai lemas
Para ajudan dengan sigap segera membuka jalan agar tuan mereka bisa dengan mudah untuk lewat.
" Kaaakk.... tunggu!" Asep meneriaki Dion agar berhenti berjalan, Dion yang di teriaki akhirnya mau menghentikan langkah kakinya dan menengok ke arah Asep yang berlari menghampiri nya.
" Ada apa lagi?" tanya Dion ketus
" Begini kak, aku punya motor yang bisa kita gunakan untuk membawa kak Raya ke depan jalan sana, jadi kak Dion tidak perlu membopongnya seperti ini." jelas Asep
__ADS_1
" Yasudah cepat ambil" perintah Dion
Dengan segera Asep mengambil motornya lalu menghampiri Dion kembali, Dion menaikkan Raya terlebih dahulu baru dirinya. Setelah semua sudah naik Asep segera menjalankan motor nya dengan penuh kehati-hatian.