Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Desa tak berpenghuni


__ADS_3

Setelah di tinggalkan begitu saja di tempat asing, Raya mencoba berjalan mencari rumah warga, Dia berjalan tanpa letih sambil menggendong anak dan juga membawa sebuah tas yang cukup berat.


Aku harus terus berjalan sampai menemukan rumah warga sebelum matahari semakin terik


Setelah cukup jauh melakukan perjalanan Raya melihat dari kejauhan ada beberapa atap yang berjejeran, dia yang awalnya putus asa menjadi sangat bersemangat tatkala dia memikirkan akan ada warga yang membantu dirinya untuk mencarikan tempat berteduh, sepertinya tempat yang akan di kunjungi Raya sebuah perkampungan yang mungkin warganya hanya beberapa kepala keluarga saja mengingat rumah yang nampak di mata Raya hanya sedikit.


" Alhamdulillah..... akhirnya sampai juga di perkampungan, lebih baik aku istirahat dulu di depan teras rumah itu saja, sambil menyusui baby Atala dan menggantikan pokoknya yang mungkin sudah banyak." Raya pun menuju ke tempat yang dia maksud.


Setelah selesai menggantikan popok Raya pun beralih untuk menyusui anaknya yang mungkin sangat kelaparan karena belum menyusu sedari pagi. Ketika Raya sedang menyusui anaknya sembari melihat ke sekeliling kampung nampak ada kejanggalan.


Aneh kampung ini sepi sekali seperti tidak berpenghuni, rumah-rumahnya juga sudah banyak yang mau roboh belum juga sedari tadi aku tidak melihat ada seseorang yang melintas sekitar sini, tunggu kayaknya aku pernah lihat kampung ini di sebuah artikel yang ada di sosial media. Oh my God aku baru sadar kalau kampung ini kan memang tidak berpenghuni karena sudah di tinggal cukup lama oleh warganya bahkan banyak tersebar rumor kalau kampung ini sangat angker, aduh bagaimana ini aku harus segera keluar dari sini sebelum terjadi sesuatu.


Raya yang sudah pucat pasi serta tangannya yang gemetaran berusaha untuk tetap kuat, dan segera mengemasi semua barang-barangnya, ketika dia hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba ada yang memanggilnya.


" Nak, tunggu "


Raya yang mendengar suara itu hanya bisa mematung, degup jantungnya berdetak sangat cepat bahkan keringat dingin sudah membasahi punggungnya.


" Nak badhe kamana? " suara itu mendekati Raya tapi Raya tetap mematung dia benar-benar tidak berani menengok ke belakang, sampai pada akhirnya ada sebuah tangan yang menepuk punggungnya. "Allahu Akbar" Raya tersentak karena saking kagetnya.


" Nak ulah sieun nenek mah manusia bukan hantu, nih lihat kaki nenek masih nyentuh tanah" jelas nenek itu


" Astaghfirullah.... maaf nek, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan hanya saja saya benar-benar sedang ketakutan." Raya mencoba menjelaskan situasi yang sedang dia alami


" Yasudah ikut ke rumah nenek aja daripada di sini bahaya apalagi neng bawa bayi."

__ADS_1


" Boleh-boleh tapi rumah nenek masih jauh tidak dari sini?" tanya Raya untuk memastikan


" Lumayan jauh neng, yasudah ngobrol nya di lanjut sambil jalan saja jangan disini." ucap nenek itu


Akhirnya Raya memutuskan untuk mengikuti nenek yang ada di depannya itu daripada dia harus berada di perkampungan tak berpenghuni manusia. Setelah cukup jauh dari perkampungan tadi, Raya pun berani membuka mulutnya kembali.


" Maaf nek kalau boleh saya bertanya, nenek ke perkampungan itu ada urusan apa ya?" tanya Raya penasaran


" Nenek baru saja dari kota dan sebenarnya tadi nenek naik ojek langganan, Tapi pas nenek melewati perkampungan itu dan melihat ada neng di perkampungan yang tidak berpenghuni rasa kasihan keluar dari diri nenek, nenek takut neng terkena apa-apa makanya nenek putuskan untuk menemui neng di sana dan menyuruh tukang ojeknya putar balik" jelas nenek itu


" Terima kasih banyak nek karena sudah peduli dengan saya, saya benar-benar sangat bersyukur bisa bertemu nenek disini, kalau tidak mungkin saya sudah menangis frustasi di sana karena tidak tahu arah mau pulang."


" Neng bisa berada di perkampungan itu bagaimana ceritanya? kelihatannya neng bukan warga sini ya?"


" Ceritanya panjang sekali nek tapi intinya saya di buang ke perkampungan itu sama istri kedua suami saya."


" Nenek salah paham suami saya baik kok, yang jahat itu istri keduanya" Raya mencoba membela suaminya


" Apapun itu neng kalau seorang lelaki sudah memutuskan untuk menikah lagi berarti suami neng bukan lelaki baik karena tega membiarkan istri-istrinya merasakan rasa sakit akibat cemburu dan rasa sakit lainnya yang timbul akibat dari poligami."


Kayaknya bakal panjang nih kalau aku masih membela mas Dion, sepertinya nenek ini mempunyai pengalaman buruk tentang poligami, sebaiknya aku diam saja.


" Neng kok diam saja? apa ada perkataan nenek yang menyinggung?" tanya Nenek itu sambil menghentikan langkahnya


" Enggak kok nek hanya saja saya merasa capek karena terlalu lama berjalan." Raya mencoba mengelak

__ADS_1


" Sabar dulu ya sebentar lagi kita sampai di tempat tujuan." Nenek mencoba menyemangati Raya


" Baik nek "


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di perkampungan warga yang kalau di hitung kepala keluarganya hanya ada dua belas orang dan kebanyakan warganya berjenis kelamin perempuan. Raya yang baru saja sampai di sana sudah di kelilingi banyak warga bak seorang artis yang masuk desa.


" Neng geulis saha namina?" tanya salah satu ibu-ibu


" Nama saya Raya bu " jawab Raya dengan sopan sambil mencium punggung tangan ibu-ibu yang ada di depannya.


" Neng Raya dari kota ya? kok bisa berada di sini bersama nenek Asih? neng siapa nya nenek Asih?" tanya salah satu warga


" Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan nenek Asih, saya bisa ada di sini karena kebetulan saja." Raya mencoba menjawab satu persatu pertanyaan yang di ajukan beberapa warga di situ.


" Sudah Neng Raya nya jangan di cecar banyak pertanyaan kasihan, dia sudah kecapean biarkan dia masuk ke rumah nenek untuk beristirahat, Hayu neng masuk ke sini" ajak nenek Asih


" Baik nek" sebelum masuk Raya pun menyempatkan diri untuk berpamitan dengan warga sekitar


Setelah masuk Raya di tunjukkan kamar yang akan dia gunakan untuk beristirahat bersama anaknya dalam beberapa hari ke depan.


" Neng untuk sementara waktu tinggal saja di rumah nenek dulu sampai neng benar-benar sudah siap untuk kembali ke rumah, maaf kalau rumah nenek apalagi kamarnya kotor dan jelek."


" Nenek jangan sungkan seperti itu, dengan nenek memberi saya izin untuk tinggal disini saja saya sangat bersyukur, terima kasih banyak ya nek"


" Neng ini dari tadi ngucapin terima kasih terus, sudahlah neng jangan terlalu berterima kasih sama nenek, nenek juga tidak bisa membantu terlalu banyak untuk neng." ujar nenek Asih sambil tersenyum malu.

__ADS_1


Aku sangat bersyukur Allah telah mempertemukan aku dengan nenek Asih kalau tidak mungkin saja aku sudah frustasi karena bisa berada di perkampungan tadi, aku tidak menyangka kalau Maya begitu jahat dia tega membuang aku ke tempat yang benar-benar tidak ada manusianya, lihat saja nanti Maya aku akan membalas semua kejahatanmu.


__ADS_2