
Dengan adanya bukti-bukti yang sudah terkuak membuat Darwin secara perlahan meninggalkan rumah Dion tanpa di sadari oleh siapapun yang berada di rumah itu, dia melarikan diri lewat pintu belakang meninggalkan kekasih hatinya berada dalam masalah besar.
Maya yang sudah terpojokkan hanya bisa pasrah jika dirinya akan di bawa oleh polisi, melihat Maya yang tanpa perlawanan membuat Dion perlahan mendekatinya.
" Katakan dimana kamu menyembunyikan Raya? jika kamu mau bekerjasama maka aku pastikan hukumanmu jauh lebih ringan tapi kalau tidak bersiap-siaplah untuk membusuk di penjara bersama bayimu itu." ucap Dion lirih
" Iblis kamu Dion! kamu sudah menghancurkan kehidupanku, aku kira dengan menikahimu hidupku akan bahagia bak seorang putri, tapi aku salah di matamu aku hanya sebuah boneka yang kamu gunakan sebagai alat untuk balas dendam setelah semua berakhir kamu buang aku seperti sampah, kamu bertanggung jawab penuh atas apa yang aku perbuat Dion, karena kamulah yang membuat aku menjadi seorang iblis" Maya mengatakan itu semua dengan suara yang keras dan emosi yang meledak-ledak
" Dan satu lagi yang perlu kamu ingat bahwa sampai matipun aku tidak akan pernah memberi tahu dimana Raya berada karena aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia di atas penderitaanku." imbuh Maya sambil tersenyum menyeringai
Polisi pun membawa paksa Maya keluar dari rumah itu meninggalkan Dion yang termenung memikirkan semua perkataan Maya yang menusuk hatinya, melihat bosnya termenung Ruben berinisiatif mendekatinya.
" Maaf tuan apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Ruben bertanya dengan penuh kehati-hatian.
" Kamu sebaiknya jangan ikut campur karena ini masalah pribadiku, lebih baik kamu urus orang-orang ini aku mau istirahat di kamar dahulu."
Selepas mengatakan itu Dion berjalan menuju kamarnya untuk merenungkan semua kejadian-kejadian yang beberapa hari ini dia alami sampai pada detik ini.
Dua hari telah berlalu semenjak kejadian itu Dion lebih suka berdiam diri di kamarnya sambil menunggu hasil dari anak buahnya yang dia perintahkan untuk mencari istri tercintanya, Ruben merasa sedih setiap kali melihat bos nya yang dulu selalu bersemangat dan pantang menyerah kini menjadi sesosok suami yang kesepian dan tidak memiliki gairah untuk hidup.
...Apa yang harus aku lakukan untuk menolong tuan muda? oh ya sebaiknya aku mendatangkan sahabatnya saja mungkin itu bisa membantu....
Tanpa pikir panjang lagi segera Ruben menemui Rian di apartemennya, disana Ruben menceritakan apa yang terjadi pada majikannya, mendengar itu semua Rian sedikit emosi dia kecewa terhadap Dion yang hanya bisa pasrah menunggu Raya kembali tanpa berusaha secara keras untuk menemukannya, Rian segera menghubungi Sophia untuk memberitahukan jika sahabatnya telah menghilang dan menyuruhnya untuk menemui dirinya di apartemennya sekarang juga.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Sophia datang dengan napas yang masih tersengal-sengal dia berusaha berbicara pada Rian.
" Bababagaimana keadaan Raya sekarang?" tanya Sophia yang masih kesusahan mengatur napas
Rian menghampirinya lalu mengusap punggung Sophia " tenangkan dirimu dan bernapas lah perlahan-lahan, kamu duduk di sini biar aku ambilkan air mineral dulu" selesai berkata Rian pergi ke dapur untuk mengambil satu botol kecil air mineral.
" Ruben bagaimana kronologi kejadiannya sampai Raya menghilang?" Sophia bertanya pada Ruben yang duduk bersebelahan dengannya.
" Nyonya Raya di buang oleh Maya tapi kami tidak tahu kemana dia membuangnya" jelas Ruben
" Kok bisa sih? memangnya Dion dan kamu kemana sehingga kejadian itu bisa terjadi? kalau tahu bakalan seperti ini kejadiannya seharusnya dari dulu Raya tinggal sama aku." ucap Sophia dengan kesal
" Sudah Sophia tenangkan dulu pikiranmu dengan minuman ini" ujar Rian sambil menyodorkan botol mineral
Sophia menerima botol tersebut lalu menenggaknya setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya kemudian meminta Ruben dan Rian untuk pergi ke rumah Dion bersamanya.
" Raya maafkan aku karena tidak mendengarkan peringatan yang kau berikan, seandainya waktu itu aku tidak pergi ke padang mungkin kita berdua masih bisa bercengkrama disini. Ini semua memang kesalahanku terlalu egois menginginkan apa yang menjadi tujuanku bukan memikirkan apa yang kamu rasakan pada saat itu." Dion pun kembali meneguk minumannya sambil sesekali menangis
Tidak lama berselang pintu kamar Dion di ketuk oleh seseorang, Dion yang sedang larut dalam kesedihannya tidak memperdulikan hal itu, justru dia dengan tenangnya kembali menenggak minumannya sampai dia benar-benar mabuk di buatnya. Tak kunjung di bukakan oleh empunya akhirnya pintu itupun di dobrak paksa hingga masuklah Sophia yang sudah di kuasai amarah dengan di ikuti Rian beserta Ruben di belakangnya.
" Dion Perkasa berani sekali kamu mengabaikanku, kamu pikir kamu ini penting hah? cepat berdiri!" teriak Sophia
" Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam kamar pribadiku? Ruben bawa perempuan gila ini keluar dari kamarku sekarang!"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Ruben tidak mengindahkan perintah dari bos yang sangat dia segani itu.
" Ruben apakah kamu sudah tuli? kenapa kamu hanya diam disana? cepat usir perempuan ini!" teriak Dion
" Dion cukup! aku tidak akan keluar dari sini sebelum menyadarkan otakmu yang sudah oleng itu" teriak Sophia tidak mau kalah
" Apa katamu? menyadarkanku?" ucap Dion sambil tersenyum tipis
Sophia yang sudah gregetan dengan tingkah Dion segera meraih kerah baju laki-laki itu dan tanpa adanya rasa takut di hatinya secara membabi buta dia pukuli wajah Dion sampai lebam, Ruben yang hendak melerai di halangi oleh Rian.
" Biarkan saja kita cukup mengamati dari sini." kata Rian tenang
Ruben mendengar perkataan Rian langsung mengurungkan niatnya dan berjalan mundur.
" Apa yang kamu lakukan cewek gila?" teriak Dion dengan kesalnya
" Masih belum tahu kesalahan apa yang kamu lakukan hah?" tanya Sophia dengan suara yang lantang
" Aku tahu aku salah karena tidak mendengarkan ucapan Raya mengenai firasat jeleknya " ucap Dion sambil tertunduk lesu dan ketika mau mengambil botol minumannya Sophia segera menendang botol itu hingga pecah
" Dasar bodoh! kesalahan terbesar kamu adalah kamu menyerah dengan Raya, bagaimana bisa kamu santai-santai disini sedangkan Raya di luaran sana sedang menunggu kehadiranmu untuk menolongnya, Dion perlu kamu ketahui walau Raya sering kamu sakiti tapi dia tidak pernah menyerah dengan perasaannya, bukan karena kamu satu-satunya sahabat yang dia miliki dari kecil tapi lebih dari itu dia menganggap kamu adalah belahan hatinya yang sudah ditakdirkan untuk menemaninya selama sisa hidupnya jadi aku mohon kamu harus mempunyai tekad yang sama seperti Raya, kamu harus bangkit tunjukkan kepadanya bahwa kamu layak mendapatkan hatinya". jelas Sophia
Mendengar penjelasan dari Sophia membuat Dion kembali semangat.
__ADS_1
" Kamu benar Sophia aku harus bangkit dan mencari Raya sampai ketemu bagaimanapun kondisinya." kata Dion dengan tatapan nanarnya
" Kamu harus yakin kalau Raya masih hidup dan dalam kondisi sehat wal'afiat" lanjut Sophia sambil menepuk pundak Dion