
Melalui obrolannya dengan Tiara mulai terungkap sebuah fakta bahwa Dion selama ini sedang mencari ingatannya yang telah hilang tepatnya tiga tahun yang lalu, Raya sendiri tidak mengerti mengapa suaminya melakukan hal seperti itu, padahal yang dia inginkan justru mengubur dalam-dalam kejadian tiga tahun yang lalu.
" Raya kalau boleh aku tahu sebenarnya apa yang kalian bicarakan ketika berada di atap kampus? sampai Dion terlihat sangat murka dan kamu sampai menangis tersedu-sedu" tanya Tiara sambil menggenggam tangan Raya
Raya menghembuskan napasnya dengan kasar "Saat itu aku sedang hamil anaknya Dion, jadi aku bermaksud minta pertanggung-jawaban, bukannya dia bertanggung jawab tapi malah marah karena menganggap bahwa anak yang aku kandung hasil dari perselingkuhan ku dengan Rian"
" Gimana-gimana? kok aku jadi bingung, bukannya kamu dulu pacarnya Rian terus kenapa Dion marah dan menganggap kamu berselingkuh?" Tiara semakin penasaran dengan cerita Raya
" Bukannya Dion kemarin sudah menceritakan tentang gangguan otaknya?" tanya Raya balik
" Iya benar dia cerita kalau mengalami amnesia disosiatif, terus hubungannya dengan kehamilanmu apa?" tanya Tiara semakin penasaran
" Jadi malam dimana aku mengantarkan Dion pulang ke rumah adalah malam dimana kesucianku di renggut paksa oleh sahabatku sendiri, pada malam itu Dion yang di kuasai oleh alkohol benar-benar seperti binatang buas yang memakan mangsanya dengan sangat brutal sampai-sampai tenagaku sudah tidak lagi bisa untuk melawannya dan pada akhirnya aku hanya bisa menangis pasrah, dan kamu tahu apa yang dia lakukan setelah puas memangsaku?" tanya Raya. "Aku tidak tahu" jawab Tiara cepat. "Dia meninggalkanku dengan wajah yang penuh kepanikan, aku yang pada saat itu dalam kondisi tanpa busana hanya bisa berpikir untuk segera menghubungi Rian. Tanpa waktu yang lama Rian sudah berada disana, melihatku yang termenung tanpa mengenakan busana Rian segera mengambil selimut dan membungkus tubuhku kemudian dia memelukku. Tidak terduga di saat kami sedang berpelukan Dion datang lalu memukuli Rian secara membabi buta, aku yang bingung dengan perubahan sikap Dion mencoba untuk berpikir sejenak, akhirnya aku bisa membaca situasinya dan berhasil menenangkan Dion" jelas Raya panjang lebar
" Membaca situasi gimana sih? aku masih bingung nih " celetuk Tiara yang tidak sabaran ingin mengetahui cerita seutuhnya.
" Kamu kan tahu kalau Dion terkena gangguan amnesia disosiatif" jawab Raya singkat. "Jadi pada saat itu Dion mengalami amnesia? pantas saja dia lupa kejadian pada malam itu dan menanyakannya ke aku" ucap Tiara dengan semangat "Wah gangguan ini ternyata bahaya banget ya?" imbuhnya.
__ADS_1
" Iya kamu benar, sampai-sampai Dion tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri karena dia berprasangka bahwa bayi yang aku kandung dulu milik Rian"
" Terus bagaimana bisa pada akhirnya Dion menikahi kamu?" Tiara semakin antusias mendengar kisah selanjutnya
" Aku memberitahu mamahnya Dion, karena kebetulan aku dan mamahnya sangat akrab jadi begitu beliau mendengar aku hamil anaknya Dion, beliau sangat bahagia hingga memaksa Dion untuk menikahiku, tapi karena Dion yang amnesia dia tetap bersikeras tidak mau bertanggung-jawab, sampai pada akhirnya mereka bertengkar yang mengakibatkan mamahnya Dion jatuh dari tangga dan meninggal." Raya menutup ceritanya dengan nada suara penuh kegetiran, Tiara yang melihat kesedihan yang tersirat di wajah Raya segera memeluknya.
" Sudah Raya jangan bersedih lagi semua itu bukan kesalahanmu" sambil mengelus punggung Raya "Oh ya kenapa kamu tanya ke aku soal apa saja yang kami bicarakan waktu itu? kenapa kamu enggak tanya langsung ke Dion?" tanya Tiara sambil melepas pelukan nya dan menatap lekat ke wajah Raya.
Raya tidak segera menjawab pertanyaan dari Tiara, melainkan ia meminum jus buah yang berada di meja, dan terdiam sejenak.
" Raya apa yang terjadi?" tanya Tiara lagi sambil menggenggam tangan Raya
" Apa? kok bisa sih? memangnya kalian berantem? " Tiara sedikit syok mendengar penjelasan dari Ruben
" Iya sebelumnya kami berantem mengenai kehamilanku, dia tidak percaya kalau aku ini hamil anaknya walau sudah aku jelaskan"
" Kenapa dia bisa tidak percaya kalau itu anaknya?" Tiara semakin bingung dengan permasalahan yang di hadapi Raya
__ADS_1
" Aku tidak tahu, makanya aku datang kemari untuk mencari jawaban, mungkin satu-satunya cara agar aku dapat jawaban adalah bertanya ke dokter yang menangani mas Dion waktu di rawat di salah satu rumah sakit di kota ini." lanjut Raya
" Iya kamu benar, kalau begitu kita kesana sekarang aja gimana? biar aku antarkan" ucap Tiara dengan semangatnya
" Tidak bisa, ini sudah malam sebaiknya ke rumah sakitnya besok pagi" sanggah Ruben dengan muka datarnya
" Kalau besok pagi ke rumah sakit aku ikut ya! " kata Tiara sambil memegang lengan Raya
" Iya boleh, kalau begitu sekarang kita lanjut makan nanti keburu dingin sudah tidak enak lagi" ujar Raya sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya
Pertemuan malam ini merupakan titik awal bagi Raya dalam pencariannya mencari jawaban atas apa yang terjadi pada suaminya kala itu.
Telah banyak yang sudah Raya korbankan demi melanjutkan misinya kali ini termasuk harus berpisah dengan anak yang paling dia cintai. Oleh karenanya dia tidak akan berhenti sebelum semua pertanyaan di dalam otaknya terjawab semua.
Malam ini Raya beristirahat di dalam kamar yang memiliki luas 119 meter persegi dengan fasilitas ruang tamu, ruang makan, dua kamar mandi dengan bathtub dan shower, serta masih banyak lagi fasilitas lainnya. Dia begitu sangat kesepian menghuni kamar luas itu sendirian, di benaknya selalu terbayang akan anak yang paling dia sayangi dan juga suami yang dia cintai.
Mas kamu ada dimana? sebenarnya apa yang terjadi sama kamu hingga pergi meninggalkanku dan juga anak kita, mas aku sangat kesepian di dalam kegelapan ini.
__ADS_1
Raya yang rebahan di atas sofa lambat laun merasakan matanya semakin lama semakin berat hingga pada akhirnya dia terlelap dalam kondisi wajah yang masih memakai riasan dan dress yang masih melekat pada tubuhnya.
Malam yang sunyi dan sepi kini berganti dengan pagi yang cerah dan penuh harapan, Raya yang terbangun sedari subuh sudah membersihkan tubuhnya dan berbusana simple namun masih terkesan elegant, walau dirinya kini sudah tidak melihat tapi Raya masih bisa melakukan beberapa kegiatan dengan sendiri. Raya menghubungi Ruben agar segera membawa dirinya ke rumah sakit yang dahulu pernah merawat suaminya. Dengan penuh semangat Ruben segera membawa istri majikannya itu ke rumah sakit walau dia tahu bahwa pagi itu masih pukul 07.15 wib, tapi karena dia yang tidak tega melihat Nyonya mudanya kecewa akhirnya di antarkan nya