
Banyak pertanyaan yang ingin di ucap tapi rasa sakit membungkam mulut hingga tak bisa untuk berkata-kata.
" Raya ada aku di sini, aku akan menemanimu untuk berjuang melahirkan bayi kalian" bisik Dion sambil menggenggam tangan Raya
Raya hanya bisa menatap tajam ke arah Dion seakan-akan dia ingin bertanya DIMANA SUAMIKU?.
" Bu ayo tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan melalui mulut sambil mengejan ya! Dan usahakan pantatnya jangan di angkat " dokter mulai memberi instruksi kepada Raya.
Rasa sakit yang Raya rasakan membuat dirinya tidak mampu lagi memikirkan sesuatu, kini dia hanya bisa fokus untuk melahirkan bayi yang ada di perutnya dengan selamat, hampir dua puluh menit lamanya proses persalinan berlangsung hingga tiba saatnya yaitu kelahiran sang buah hati ke dunia. Suara tangis bayi menggema di seluruh ruangan, Raya merasa terharu karena berhasil melahirkan buah cintanya dengan Ruben. Air matanya terus menetes hingga pipinya basah di penuhi air mata kebahagiaan.
" Selamat Raya bayi kamu sehat dan tampan" ucap Dion sambil tersenyum lebar
" Terima kasih, sekarang katakan dimana suamiku! aku ingin menemuinya" tanya Raya tiba-tiba dengan muka yang penuh harap akan sebuah jawaban.
Dion mengepalkan tangannya sembari membuang napasnya dengan kasar "Tadi aku berpapasan dengan mobil Ruben ketika aku mau mengembalikkan Athala di jalan dekat rumah kalian, dia bilang mau ke rumah sakit untuk menemanimu melahirkan, mendengar kamu mau melahirkan akhirnya aku buru-buru mengantarkan Athala ke rumah dan menyusul Ruben, tapi tidak aku sangka jika Ruben" Dion terdiam sesaat matanya menatap jauh ke luar pintu.
" Mas cepat katakan apa yang terjadi pada suamiku?" Raya mulai menggila dengan mengguncang pundak Dion sambil berteriak "Kamu tenang dulu!" Dion mencoba menenangkan Raya "Aku tidak akan menceritakan apapun sebelum kamu tenang" ucap Dion. Raya berusaha mengontrol emosinya dengan cara mengatur napasnya hingga lambat laun emosi Raya mulai stabil walau napasnya masih naik turun.
" Ketika aku hendak menyusul Ruben tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar suara dentuman yang sangat keras, begitu aku dekati ternyata suara itu berasal dari mobil Ruben yang di tabrak oleh bus pariwisata hingga mobilnya terbalik" Dion bercerita dengan sangat hati-hati
Syok itu yang Raya rasakan saat ini penjelasan Dion bagaikan petir yang menyambar. "Lalu dimana Ruben sekarang?" tanya Raya dengan nada suara yang melemah
" Dia dirawat di rumah sakit ini juga" jawab Dion singkat
" Antar aku kesana mas! Aku ingin tahu kondisi suamiku " sambil mencengkeram baju Dion
Tidak ku sangka Raya begitu sangat peduli dengan Ruben, mungkin aku benar-benar sudah tidak ada di hatinya. Ah bodoh sekali kenapa sempat-sempatnya aku berpikiran seperti itu.
" Tapi Raya kata dokter kamu tidak boleh kemana-mana sebelum empat jam pasca melahirkan " terang Dion
__ADS_1
" Aku tidak peduli, jika kamu tidak mau mengantarkan ku maka aku akan nekat jalan kaki dan mencarinya sendiri" ancam Raya dengan nada penuh penekanan
Entah seberapa besar rasa cinta Raya terhadap Ruben hingga membuatnya berubah menjadi sosok yang pemberani dan kuat.
" Baik kalau begitu aku akan mencari kursi roda dan meminta izin kepada dokter"
" Aku beri waktu kamu lima belas menit jika tidak segera datang maka aku akan mencarinya sendiri" ucap Raya dengan tatapan tajamnya
" Oke akan aku usahakan" balas Dion lantas pergi meninggalkan Raya dengan segala kegundahan hatinya.
Tidak membutuhkan waktu lama Dion datang dengan mendorong kursi roda.
" Boleh tidak aku menggendongmu?" Dion meminta izin
Raya tersenyum sambil mengangguk, Dion dengan perlahan mengangkat tubuh Raya lalu meletakkannya ke kursi roda. " Terima kasih " ujar Raya "Sama-sama" balas Dion.
Tanpa ada suara yang terucap lagi di antara mereka berdua, Dion pun mendorong kursi roda dengan perlahan menuju ruangan dimana Ruben di rawat.
" Aku takut Mas, aku belum siap jika harus mendengar kabar buruk tentang mas Ruben" jawab Raya dengan lirih
Sambil mengelus pundak Raya, Dion mencoba menghiburnya. "Kamu harus yakin kalau Ruben akan baik-baik saja, dia pasti bisa bertahan, daripada berpikiran yang macam-macam lebih baik kita berdoa sambil menunggu dokter keluar"
Raya mematuhi perkataan mantan suaminya itu. Mulailah dia memanjatkan doa, dalam isak tangis dia tidak henti-hentinya meminta keselamatan untuk suaminya. Hingga muncullah dokter menghampiri mereka. Dokter itu menyampaikan permintaan maaf karena merasa gagal di dalam tugasnya, Raya yang mendengar penjelasan dari dokter tak kuasa menahan luapan emosinya hingga pada akhirnya Raya pun pingsan.
Dengan cepat Dion membawa tubuh Raya kembali ke kamar rawatnya untuk di lakukan pemeriksaan.
" Bagaimana dok keadaan pasien?" tanya Dion dengan cemasnya
" Anda tidak perlu khawatir pasien hanya syok mendengar berita yang sedikit membuat kejiwaannya terguncang, saran saya anda harus sering-sering mendampingi dan menghibur nya agar pasien tidak sampai stres akibat kehilangan orang yang di sayanginya" kata dokter
__ADS_1
" Baik dok" jawab Dion singkat
Setelah dokter pergi Dion mendekati Raya sambil menggenggam tangannya.
" Raya aku berjanji akan mendampingi dan menjagamu untuk selamanya, walau kita akan terus berstatus sebagai sahabat. Karena aku sadar jika di hatimu kini hanya ada Ruben seorang"
Sambil menunduk Dion melepaskan genggamannya lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan. Dion terus berjalan melewati lorong rumah sakit menuju ruang IGD untuk menemui Ruben. Sesampainya di sana Dion terpatung melihat kondisi tubuh Ruben yang di penuhi luka terlebih di bagian kepalanya yang banyak bekas jahitan.
" Aku tidak menyangka jika kamu berakhir seperti ini, Ruben tenang saja anak dan istrimu akan aku jaga dan tidak akan aku biarkan mereka merasa kekurangan sedikitpun."
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundak Dion. "Ini ada rekaman sebelum pasien meninggal dunia".
" Rekaman apa dok?" tanya Dion penasaran sembari menerima ponsel yang di berikan sang dokter
Dokter terdiam sesaat dia mulai membuka kembali memori sebelumnya sambil menceritakan semua kejadiannya kepada Dion.
2 jam sebelumnya
Ruben yang masih berlumuran darah dan tubuh penuh luka memaksa agar dokter yang menanganinya mau memvideokan dirinya.
" Dok, aku mohon videokan saya karena waktu yang saya punya sudah tidak lama lagi" pinta Ruben
" Tapi kamu harus segera di tangani jika tidak... " dokter itu tidak melanjutkan kalimatnya karena dirinya merasa dilema
" Saya tahu dok, tapi hanya ini yang bisa saya lakukan jadi tolong bantu saya" Ruben memaksa sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Melihat Ruben dengan penuh harap akhirnya dengan berat hati sang dokter mengikuti apa yang diinginkan Ruben. Di situ Ruben mulai berbicara dengan senyuman yang di paksakan sambil sesekali dia menangis penuh ketidakberdayaan. Dokter dan para perawat yang menyaksikan tak kuasa menahan pilu yang ada di hati mereka, seakan-akan apa yang di rasakan Ruben mereka ikut merasakannya. Sampai pada akhirnya mereka menjadi syok tatkala Ruben menghembuskan napas terakhirnya setelah berhasil menyelesaikan kalimatnya di akhir video.
Ketika dokter baru selesai bercerita secara tiba-tiba Dion mencengkram kerah bajunya.
__ADS_1
" Jadi intinya Ruben meninggal akibat lambatnya penanganan? kalian sebagai tim medis tidak bertanggungjawab, aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja, semuanya akan di selesaikan di meja hijau" ancam Dion dengan tatapan tajamnya.
" Tunggu! aku tidak setuju kamu membawa masalah ini ke jalur hijau, karena bagaimana pun ini semua di luar kemampuan mereka" ucap Raya yang tiba-tiba datang di depan pintu dengan menggunakan kursi rodanya.