
Dion yang di bawa ke rumah sakit terdekat oleh para ajudannya langsung di larikan ke IGD, salah satu ajudan itu berinisiatif untuk menelepon Ruben yang berada di Jakarta, Ruben yang mendengar kabar kalau Bos nya masuk IGD dengan segera dia tinggalkan kesibukannya dan memesan tiket pesawat untuk terbang ke Padang.
Beberapa jam kemudian Ruben yang sudah menginjakkan kaki di kota Padang-Sumatra Barat, bergegas menemui bos nya yang berada di rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Ruben mendapati bos nya masih dalam kondisi belum sadarkan diri.
" Dimana perempuan itu?" tanya Ruben pada salah satu ajudan dengan sedikit geram
" Maksud pak Ruben perempuan yang di temui bos hari ini?" tanya ajudan itu sedikit gemetaran karena takut melihat beringas nya lelaki yang sedang mencengkeram kerah bajunya.
...***Ruben merupakan kaki tangan Dion, yang sangat patuh dan peduli terhadap bosnya, seumur hidupnya dia abdikan hanya untuk Dion bahkan urusan pribadi saja dia berusaha menomorduakan karena yang terpenting di hidupnya adalah urusan bosnya. Dia seperti itu karena menganggap bahwa Dion adalah pahlawan bagi adiknya yang pada saat itu dalam kondisi kritis harus segera di operasi, Dion yang berada di rumah sakit tidak sengaja melihat Ruben sedang menangis di kursi pengunjung, merasa kasihan Dion pun menghampirinya dan bertanya apa yang membuatnya begitu sangat sedih, Ruben pun bercerita kenapa dirinya sesedih itu, dia berkata bahwa adiknya harus di operasi jika ingin tetap hidup tapi dirinya yang hanya pelayan kafe tidak mempunyai cukup uang untuk membayarnya, terlebih dia dan adiknya sudah tidak mempunyai orang tua semenjak Ruben masih duduk di bangku sekolah menengah dan mereka juga tidak mempunyai sanak keluarga yang bisa di mintai pertolongan, Dion yang iba segera melunasi biaya operasi dan rumah sakit yang harus di tanggung Ruben, padahal saat itu mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Karena kebaikan hati Dion adik Ruben akhirnya bisa di selamatkan, semenjak saat itu Ruben berjanji pada dirinya untuk selalu berada di sisi Dion....
" Iya siapa lagi bawa perempuan itu ke hadapanku sekarang!" perintah Ruben
" Baik Pak Ruben, akan saya laksanakan" segera ajudan itu pergi mencari Tiara
Ruben yang merasa kecolongan karena dengan mudahnya mempercayai seorang perempuan seperti Tiara merasa sangat kesal di buatnya, padahal sebelumnya dia sudah memberi peringatan agar tidak menceritakan suatu kejadian yang sekiranya membuat bosnya berpikir keras untuk mengingatnya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, sudah tidak ada lagi yang bisa Ruben lakukan selain menunggu kabar baik dari dokter yang menyatakan bahwa bos nya dalam kondisi baik-baik saja.
Di saat Ruben larut dalam pikirannya sambil duduk menyender ke dinding, Tiba-tiba dia mendengar suara hentakan kaki yang melangkah menuju ke arahnya, dengan perlahan Ruben menengok ke arah sumber suara.
" Akhirnya kamu datang juga " kata Ruben sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk tegak.
" Bagaimana dengan Dion? apa dia baik-baik saja? " tanya Tiara khawatir
" Berdoa saja agar bos kami baik-baik saja, karena kalau tidak kamu akan tahu akibatnya, aku tidak akan pernah melepaskanmu." ancam Ruben dengan sorot mata tajamnya
" Ta.. ta.. pi Dion bilang kalau dia kenapa-napa tidak akan pernah menuntut ku" jelas Tiara dengan gagap dan tubuh yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin
__ADS_1
" Mungkin itu kesepakatan antara kamu dengan bos kami tapi lain hal nya dengan kesepakatan yang sudah kita buat jauh sebelum kamu bertemu dengan bos Dion." kata Ruben dengan penuh penegasan
Sejenak Tiara mengingat pertemuannya dengan Ruben beberapa hari yang lalu, dia menyanggupi untuk tidak bercerita apapun yang bisa membuat Dion berpikir keras mengingat masa lalunya. Tiara langsung syok mengingat kesepakatan yang dia buat dengan Ruben.
" Pak tolong jangan tuntut saya soal ini ya, saya mohon!!! apa bapak tidak kasihan melihat saya yang sedang hamil besar?" Tiara memohon di hadapan Ruben sambil menyatukan kedua telapak tangannya
" Di mata saya tidak ada yang penting di dunia ini kecuali bos Dion " Ruben memberi penekanan di setiap katanya
Tiara mendengar penjelasan dari lelaki yang ada di hadapannya seketika menjadi merinding dia benar-benar ketakutan jika ancaman itu akan menjadi kenyataan.
Apa yang harus aku lakukan jika terjadi sesuatu pada Dion, apakah lelaki berdarah dingin ini akan menjebloskanku ke dalam penjara atau malah mengirim aku ke akhirat.
" Pak apa saya boleh melihat kondisi Dion? saya ingin memastikan kalau Dion dalam kondisi baik-baik saja." Tiara mencoba meminta izin
" Sebaiknya kamu segera pulang sebelum aku berubah pikiran." ucap Ruben dengan ekspresi datarnya
" Memangnya sebegitu mengerikannya aku di mata perempuan itu?" Ruben berbicara pada dirinya sendiri sambil mengangkat alisnya yang bingung melihat tingkah Tiara.
Tiba-tiba datang salah satu ajudan memberi tahu Ruben kalau bos mereka sudah siuman, mendengar kabar itu segera Ruben berlari masuk ke dalam kamar yang merawat bos mereka. Disana dia melihat dokter dan beberapa suster yang mencoba mengecek kondisi tubuh bosnya.
" Maaf dok, bagaimana kondisi bos saya? " tanya Ruben penasaran
" Tenang saja bos anda baik-baik saja, tapi saya masih ingin memantau perkembangannya jadi saya berharap dua atau tiga hari ke depan bos anda masih di rawat di rumah sakit ini, setelah ini bos anda bisa di pindahkan ke kamar rawat"
" Baik dok kami akan menuruti apapun yang menjadi saran anda Terima-kasih sebelumnya " kata Ruben sambil tersenyum tipis
__ADS_1
" Sama-sama kalau begitu saya pamit dulu" dokter dan para suster meninggalkan ruangan, Ruben yang sudah tidak sabar bertemu bosnya segera mendekatinya dan menyapa.
" Tuan bagaimana kabar anda sekarang?" tanya Ruben yang nampak bahagia karena melihat bos nya dalam kondisi sehat.
" Aku baik-baik saja Ruben, bahkan sangat baik." Dion menjelaskan sambil di selingi senyuman " Kamu tahu tidak selama aku pingsan tadi? ingatanku di masa lalu tentang kak Diana sudah pulih bahkan aku mengingat dengan jelas wajah dari para pelaku yang sudah menodai kakak yang paling aku sayangi." lanjut Dion sambil tangannya mengepal
" Lantas apa rencana tuan selanjutnya? " tanya Ruben, seakan-akan dia tahu bahwa bosnya akan melakukan sesuatu yang akan melibatkan dirinya.
" Aku harus tahu terlebih dahulu siapa mereka sebenarnya, jadi aku minta kamu pergi ke tempat kakakku sekolah dulu dan kamu minta buku tahunan di sana, setelah itu serahkan padaku biar aku yang membuat mereka hidup enggan mati tak mau." perintah Dion sambil menyeringai
" Baik tuan akan segera saya laksanakan " setelah berkata demikian Ruben segera balik badan untuk melaksanakan tugasnya tapi Dion mencegahnya.
" Tunggu! kamu mau kemana? aku yakin sekali kamu baru sampai disini kenapa terburu-buru untuk kembali ke Jakarta? " tanya Dion sambil tersenyum
" Tapi tuan, perintah tuan adalah hal terpenting yang harus segera saya laksanakan.
" Jangan terlalu kaku seperti itu Ruben nanti kamu tidak dapat jodoh, memangnya kamu mau hidup sendiri sampai tua?" canda Dion
" Itu tidak masalah asalkan saya masih bisa terus mengabdikan diri kepada Anda tuan" jawab Ruben dengan yakin
" Aku sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa, terserah kamu sajalah, sekarang bawakan ponselku karena sudah lama aku tidak menghubungi Raya." pinta Dion
" Maaf tuan, bukankah lebih baik anda tidak menghubungi nyonya muda dulu mengingat ketika Anda pergi tidak berpamitan padanya, saya takut kalau nyonya muda akan lebih marah lagi jika anda menghubungi nya sekarang." Ruben mencoba memberi alasan
" Betul juga ucapanmu, baiklah aku akan memberi dia surprise dengan kepulanganku yang dalam kondisi baik-baik saja supaya dia tidak lagi mempunyai pikiran negatif." Dion pun kembali berbaring
__ADS_1
Untung saja tuan masih bisa di bujuk, aku harus tetap merahasiakan kepergian nyonya muda sampai tuan benar-benar pulih.