Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Penuh Kerahasiaan


__ADS_3

Dampak yang terjadi akibat menyebarnya sebuah rumor di internet membuat Dion terpaksa harus segera membuat keputusan yang akan menguntungkan semua belah pihak.


Dion menghubungi beberapa orang dari ponselnya, dia nampak sibuk mengobrol dengan seseorang yang ada di ponselnya hingga dia lupa akan kegelisahan hatinya menunggu Raya menjalankan operasi.


" Ruben kamu siapkan penerbangan buat kita semua besok pagi, agar siang hari kita sudah berada di Jakarta karena aku ingin sore harinya kita bisa mengadakan rapat bersama para pemegang saham, ada yang harus aku sampaikan ke mereka." ucap Dion dengan mimik seriusnya.


" Lantas bagaimana dengan Raya?" tanya Ruben


" Dia akan ikut bersama kita, karena aku yakin operasi nya akan berjalan dengan lancar, untuk perawatan matanya bisa kita lakukan di rumah sakit yang berada di Jakarta. " imbuhnya


" Baik Tuan akan saya laksanakan" Ruben pamit mengundurkan diri lalu pergi meninggalkan Dion dengan segala kegelisahan di hatinya.


Dion duduk dalam posisi badannya sedikit membungkuk sambil kedua sikunya di jadikan penopang, dan dengan kepala yang tertunduk lesu.


Apakah ini yang dinamakan karma? dulu aku tidak pernah menghargai setiap hadirnya di hidupku, kini aku harus......


"Ah" seraya menghembuskan napas panjang sambil menutup wajahnya menggunakan salah satu telapak tangannya.


Dion yang masih larut dalam pemikirannya tidak merasakan jika dirinya sudah duduk selama hampir dua jam, di saat itu dokter yang mengoperasi mata Raya sudah menyelesaikan tugasnya lalu keluar dan memanggil Dion. Dion yang tersentak seketika itu datang menghampiri sang dokter. Dengan menggunakan bahasa Korea dia menanyakan perihal kondisi Raya saat ini. Dokter pun menjelaskan bahwa operasinya berhasil dan Raya diprediksi akan bisa melihat lagi, tapi untuk sementara kedua matanya harus di tutup dulu dengan perban dan bisa di buka setelah tiga hari ke depan. Mendengar penjelasan dari dokter Dion merasa sangat bahagia, saking bahagianya dia sampai berulang kali mengucapkan kata terima kasih. Kemudian Dion lanjut bertanya apakah Raya di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit esok hari karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Dokter memberi izin asal Raya terus di jaga dan tidak mengalami benturan lagi. Dion pun menyanggupi nya.


Selesai bertanya dengan dokter Dion menemui Raya di ruang operasi.


Perlahan ia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Raya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tapi Raya yang sudah hafal dengan tangan yang menggenggamnya langsung mengenalinya.

__ADS_1


" Sayang terimakasih kamu sudah terus ada buat aku" ucap Raya sambil tersenyum "Oh ya kapan perban di mataku ini di buka? aku sudah tidak sabar melihat Dion Perkasa sang CEO yang tampan dan juga keren" tambahnya


Dion mendengar ucapan Raya merasa miris di telinganya, dengan senyum tipisnya Dion mengusap kepala Raya.


" Sabar sayang! perbannya bisa di buka setelah tiga hari" jelas Dion


" Kok lama sekali sih? aku benar-benar sudah tidak sabar" rengek Raya seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu.


Dengan segera di peluknya Raya sambil membelai rambut panjangnya. "Sayang kamu harus ingat kata-kataku ini ya! sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu walau mungkin kita tidak bisa hidup bersama selamanya" bisik Dion


Raya merasa aneh dengan perkataan yang Dion barusan lontarkan, dia merasa kalau kekasih yang ia cintai akan pergi jauh meninggalkannya.


" Mas kenapa kamu bicara seperti itu? apa kamu punya niatan untuk meninggalkan ku lagi?" tanya Raya sambil melepas pelukan Dion


" Tidak sayang tidak ada yang akan meninggalkan mu, aku hanya asal bicara saja" Dion berusaha menenangkan Raya


Di usapnya pipi Raya dengan sangat lembut, kemudian secara perlahan wajahnya di dekatkan dan mulailah dia menciumi bibir Raya, Raya yang biasanya pasif kali ini memiliki inisiatif untuk mengimbangi sang kekasih. Cukup lama mereka beradu bibir hingga perawat rumah sakit datang sambil membawa nampan yang ada beberapa makanan di atasnya. Dion yang sudah tercyduk langsung memasang mode cool nya untuk menutupi rasa malunya, sambil menawarkan diri untuk menyuapi pasien. Perawat itu sedikit salah tingkah dengan gaya bicara dan pesona Dion, dengan segera dia memberikan nampan itu dan pamit keluar.


Setelah mendapatkan nampannya Dion menghampiri Raya dan mulai menyuapinya dengan penuh kehati-hatian sambil sesekali dirinya mengajak berbicara.


" Sayang besok pagi kita akan pulang ke Indonesia, apa kamu keberatan?"


"Apa ini ada kaitannya dengan kegelisahan yang mas rasakan beberapa hari ini? apa ada urusan yang serius sehingga kita harus pulang besok pagi?" banyak yang ingin Raya ketahui mengenai mantan suaminya yang menurut dia mantannya itu sedang merahasiakan sesuatu darinya.

__ADS_1


" Kamu jangan banyak berpikir dan bertanya, besok kamu akan mengetahui semuanya setelah kita sampai di Indonesia " sambil tangannya mengelus kepala Raya. "Makanannya sudah habis Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu agar segera pulih" lanjutnya.


"Tapi aku mau kamu selalu berada disini! karena aku tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa ada kamu di sampingku" ucap Raya dengan penuh harap


"Tenang aku akan berada disini sampai kamu terlelap" sambil menggenggam tangan Raya.


Raya merasa sangat nyaman dengan adanya Dion di dekatnya hingga membuat dirinya tak mampu lagi untuk terjaga. Dion yang mengetahui Raya sudah tertidur dengan perlahan di lepasnya tangan Raya yang menggenggam jemarinya setelah itu dia keluar untuk menghubungi Ruben agar segera datang menemuinya.


Tidak lama berselang Ruben datang menemui bosnya yang sedang duduk di lorong rumah sakit.


" Maaf Tuan Muda ada perlu apa memanggil saya?" tanya Ruben dengan posisi masih berdiri


" Duduk disini" sambil tangannya menepuk kursi yang berada di dekatnya "Apa kamu sudah melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi pagi?" tanya Dion dengan wajah seriusnya


Ruben yang sudah duduk di samping Dion pun segera menjawab pertanyaan majikannya itu. "Sudah Tuan"


" Bagus, sekarang aku minta kamu hubungi beberapa awak media agar datang di jumpa pers yang akan aku laksanakan besok tepatnya satu jam sebelum rapat pemegang saham di mulai! aku harap kamu bisa menyiapkan segalanya" ujar Dion sambil menepuk pundak Ruben


" Maaf Tuan Muda, anda memanggil para awak media memangnya apa yang akan anda sampaikan?" Ruben penasaran


" Kamu akan mengetahuinya besok, aku harap kamu bisa menerima apa yang menjadi keputusanku dan jangan mencoba untuk membujuk ku membatalkannya" jelas Dion sambil menatap tajam ke arah Ruben


Mengapa aku merasa kalau Tuan Dion seperti sedang berpamitan seolah-olah dia akan pergi ke tempat yang sangat jauh, sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan? semoga feelingku ini salah.

__ADS_1


" Kenapa kamu terdiam Ruben? biasanya kalau kamu penasaran akan terus bertanya"


" Tidak Tuan, untuk kali ini mungkin saya akan lebih banyak terdiam seperti yang Anda peringatkan kepada saya tadi, kalau saya harus menerima apapun yang Anda putuskan" jawab Ruben dengan penuh keyakinan.


__ADS_2