
Suasana canggung menyelimuti kedua insan itu, Rian yang masih merasa bersalah atas insiden "pelukan" sedangkan Sophia yang merasa tidak enak hati karena menolak dengan begitu tegas membuat keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Sophia yang sudah gemas dengan situasi yang tidak mengenakan akhirnya mencoba untuk mengawali pembicaraan.
" Eehmm...... katanya kamu mau nanya sesuatu sama aku? " ucap Sophia tanpa memandang ke arah Rian
" eh iya, kamu tadi darimana saja? sore gini baru datang, enggak mungkinkan cuma beli makanan" tanya Rian tanpa adanya basa basi
" Aku dari rumah Dion" jawab Sophia singkat
Mendengar penjelasan Sophia Rian sedikit kaget " Yang benar kamu? kamu ke Jakarta? naik apa? " tanya Rian penasaran
" Aku naik kendaraan umum, hanya saja aku kesal sekali sudah jauh-jauh datang kesana tapi Dion sudah kabur" jawab Sophia dengan sekenanya
" Kabur? maksudnya" Rian tidak mengerti yang diucapkan Sophia
" Iya kabur, gone, hilang" jawab Sophia kesal
" Tunggu maksud kamu Dion pergi meninggalkan rumah?" Rian mencoba menebak
" Mending kalau meninggalkan rumah dan masih berkeliaran di jakarta, La ini Dion minggat ke luar negeri tanpa ada orang yang tahu keberadaannya sekarang" Sophia menjelaskan dengan nada penuh tekanan dan rasa kesal
" Kalau seperti itu apa menurut kamu dia masih pantas mendapatkan cinta tulus dari Raya? lelaki yang plinplan dan tidak punya tanggungjawab seharusnya dibumi hanguskan" imbuhnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Rian.
Rian yang mendengar celoteh Sophia hanya bisa menahan tawa karena gemas dengan reaksi yang di tunjukkan wanita berhijab itu.
" Sebaiknya kamu tenang dulu! masalah Dion kita pikirkan nanti setelah kita kembali ke jakarta, yang penting sekarang adalah kesehatan juga kewarasan Raya dan Asep jangan sampe mereka jadi stres sehingga membuat keduanya lama untuk sembuh, terlebih Asep sebelum Raya bertemu dengannya kita lebih baik bertemu dengannya terlebih dahulu dan menceritakan apa yang sudah terjadi pada diri Raya, jika dia merasa bersalah dan putus asa kita bisa langsung menghibur dan menenangkannya. " Rian mengungkapkan pemikirannya dan di sambut hangat oleh Sophia.
" Aku setuju dengan pemikiranmu, tapi bagaimana jika Raya tiba-tiba bertanya soal Dion? "
__ADS_1
" Ya pintar-pintar kita aja dalam membuat dalih" jawab Rian singkat
Astaghfirullah...... jadi mas Dion pergi ke luar negeri hanya untuk menghindari aku? apa dia sudah tidak mencintaiku lagi.
Hati Raya bagaikan tersambar petir tatkala mendengar pembicaraan yang di lakukan kedua temannya itu di balik pintu kamarnya, dia membungkam mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak terdengar sampai ke luar, dengan terburu-buru Raya berusaha kembali lagi ke atas ranjangnya agar kedua temannya tidak mengetahui kalau dirinya telah menguping pembicaraan mereka, tapi naas kaki Raya tersandung meja dan membuat dirinya terjatuh ke lantai yang menimbulkan suara gaduh.
" Masya Allah Raya kamu tidak apa-apa?" tanya Sophia yang kaget melihat sahabatnya sudah berada di lantai
Dengan segera Sophia membantu Raya untuk berdiri kembali "Aku tidak apa-apa" jawab Raya sambil melepaskan tangan Sophia.
Sophia menjadi heran dengan tingkah Raya yang tidak mau di bantu olehnya. "Ada masalah apa Raya? kenapa kamu seperti menghindari ku?"
" Aku tidak apa-apa Sophia! aku mau menyesuaikan diri dengan keadaanku saat ini, jadi lebih baik kamu jangan membantu aku lagi" ucap Raya dengan nada suara yang tegas, sambil berlalu meninggalkan Sophia yang masih heran dengan perubahan sikap yang di tunjukkan oleh dirinya."
" Sebaiknya kita keluar" bisik Rian yang berada di belakang Sophia sedari tadi
Sementara itu Raya yang sudah berada di atas ranjangnya mencoba menahan tangis karena dia merasa kalau sahabatnya masih mengintipnya dari jendela, jari jemarinya menarik dengan kencang sprei yang sedang dia duduki untuk menahan air matanya yang akan tumpah.
Aku tidak boleh mengeluarkan air mata sedikitpun di depan mereka karena hal itu akan membuat mereka jadi khawatir dan mengasihani ku, aku harus nampak tenang di hadapan mereka dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
" Sudah Sophia mari kita pergi dari sini, memangnya kamu mau sampai kapan berdiri di depan jendela seperti ini? " ajak Rian
" Tunggu aku merasa ada yang tidak beres dengan Raya, aku curiga kalau dia tadi menguping pembicaraan kita " sambil terus memandangi Raya di balik jendela
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Rian menarik tangan Sophia dan mengajaknya pergi jauh dari depan kamar Raya.
" Kamu mau membawaku kemana Rian? " tanya Sophia yang kewalahan mengahadapi kekuatan Rian yang menariknya
__ADS_1
" Kita ke tempat Asep " tanya Rian singkat
" Memangnya dia sudah sadarkan diri? " tanya Sophia
" Makanya kita ke sana untuk memastikannya"
Di depan kamar rawat Asep Rian mengajak Sophia masuk ke dalam bersama dirinya, sebelum itu mereka menggunakan pakaian khusus yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
" Kenapa kita harus berada di sini? toh Asep belum sadarkan diri" bisik Sophia di telinga Rian
" Justru itu kita harus sudah berada di sini sebelum Asep sadarkan diri." jawab Rian dengan nada suara lirih
Sophia tidak paham dengan apa yang di rencanakan oleh lelaki yang ada di sampingnya itu, secara perlahan Rian mendekati Asep dan mulai menyapanya dan bercerita sesuatu, Sophia hanya bisa terdiam melihat Rian, pikiranya tak bisa menerka apa yang sedang di lakukan pria aneh di depannya itu.
Sebenarnya apa yang di lakukan Rian? kenapa dia berbicara dengan Asep yang masih dalam kondisi belum sadarkan diri, hemmm.... aneh
Selang beberapa menit jari Asep mulai bergerak secara perlahan di susul dengan kelopak matanya yang membuka sedikit demi sedikit, melihat Asep yang akan sadarkan diri Rian segera memberi isyarat kepada Sophia untuk memanggil dokter, Sophia pun bergegas keluar kamar untuk mencari dokter.
Setelah selesai di periksa dan dokter mengatakan bahwa Asep dalam kondisi yang stabil maka Rian memberanikan diri untuk menceritakan apa yang sedang Raya alami, mendengar itu Asep merasa sangat bersalah dia berpikir jika itu semua akibat kesalahannya.
" Ini semua salah ku seharusnya aku tidak mendorongnya terlalu kencang, kalau seperti ini ingin rasanya aku mati saja dan memberikan mataku kepada teh Raya." dengan nada suara yang penuh penyesalan
" Sudah kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, ini semua sudah takdir lagipula sekarang Raya sudah mulai berdamai dengan kondisinya jadi lebih lebih baik kamu jangan terlalu menampakkan penyesalan atau rasa kasihan yang berlebihan terhadap Raya karena itu akan membuat dia terbebani, kamu mengerti kan apa yang aku maksud?" tanya Rian
Asep termenung untuk sesaat, di pikirannya tergambar kejadian dimana dia mendorong Raya dengan begitu kuatnya yang mengakibatkan Raya terbentur benda keras yang berada di tempat kejadian.
Apakah aku masih bisa untuk memaafkan diriku sendiri dengan apa yang sudah terjadi pada diri teh Raya.
__ADS_1