Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Teman masa kecil


__ADS_3

Di Padang Dion yang mempunyai janji dengan seorang perempuan yang bernama Tiara di sebuah restoran ternama akhirnya bertemu.


" Maaf apa kamu yang bernama Tiara?" tanya Dion kepada salah satu tamu di restoran itu


" Iya benar namaku Tiara, kamu pasti Dion teman aku waktu SD dulu kan? apa kabar kamu? " sapa wanita itu sambil mengulurkan tangannya


" Kabar aku baik " jawab Dion sambil menjabat tangan Tiara


" Silahkan duduk, aku masih belum percaya kalau orang yang mau bertemu denganku hari ini adalah salah satu CEO terkenal di negara ini, yang aku yakin pasti memiliki jadwal super sibuk tapi bersedia melonggarkan waktunya untuk berbincang denganku di sini pasti ada sesuatu yang sangat penting untuk di tanyakan, benar tidak? " tanya Tiara mencoba mengawali pembicaraan


" Kamu benar sekali Tiara, kedatanganku kemari ingin minta bantuanmu untuk menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan tanpa ada yang di tutupi" jelas Dion


" Baiklah aku akan semaksimal mungkin untuk menjawab semua pertanyaan yang kamu ajukan, tapi sebelumnya alangkah baiknya kita memesan dulu beberapa makanan dan minuman karena tidak enak kalau kita menggunakan tempat mereka tanpa membeli apa-apa."


" Wah aku sampai lupa, maaf kalau begitu biar aku yang memanggil waiters nya." Dion pun memberi isyarat kepada salah satu waiters menggunakan tangannya


" Selamat Siang tuan dan nyonya mau pesan apa?" tanya Waiters sambil menyerahkan beberapa menu makanan dan minuman


" Saya pesan makanan dan minuman yang terbaik di restoran ini, apapun itu sajikan!, apakah kamu ada tambahan Tiara?" Dion mencoba menawari Tiara


" Tidak aku rasa apa yang kamu pesan sudah lebih dari cukup" jawab Tiara


" Oke kalau begitu itu saja yang kami pesan." kata Dion


" Baik tuan dan nyonya silahkan menunggu sebentar pesanan anda akan segera kami antarkan, terima kasih" Waiters itu pun pergi meninggalkan meja Dion dan Tiara


" Lanjut ke pokok pembahasan sebelumnya aku mau bertanya kepadamu terlebih dahulu, sebenarnya kamu ini teman SD aku apa teman Raya sewaktu kuliah? kenapa tadi kamu menyebutkan kalau kita teman satu SD sedangkan anak buahku bilang kalau kamu ini salah satu teman Raya."


" Memangnya kamu benar-benar lupa sama aku ya Dion?" tanya Tiara penasaran

__ADS_1


" Iya" sambil mengangguk


" kenapa bisa seperti itu apa sebelumya kamu pernah mengalami kecelakaan?" tanya Tiara semakin penasaran


" Tidak tapi aku mengalami amnesia disosiatif yang membuat memori otakku sebagian terkubur sehingga aku butuh beberapa orang untuk membantuku mengingat semuanya." penjelasan Dion membuat Tiara teringat akan cerita Raya yang mengatakan kalau Dion mengalami suatu gangguan otak yang di namakan amnesia disosiatif, pada saat itu Tiara sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar, karena seorang Dion termasuk salah satu siswa yang memiliki IQ tertinggi bisa mengalami gangguan otak yang cukup serius dia rasa itu sangat mustahil.


" Setahuku orang yang mengalami gangguan seperti itu penyebabnya kalau bukan kecelakaan bisa jadi karena trauma, jangan-jangan penyebab kamu mengalami gangguan itu karena kejadian buruk yang menimpa kakak kamu ya?" Tiara mulai menduga-duga


" Kejadian yang menimpa kakakku? memangnya selama ini aku punya seorang kakak?" tanya Dion kebingungan


" Oh my God..... maaf aku seharusnya tidak bertanya tentang kejadian itu, sekarang aku tahu kenapa kamu mengalami amnesia disosiatif mungkin saja otak kamu sengaja mengubur memori yang sekiranya bisa membuat trauma di dalam hidup kamu jadi bisa di katakan bahwa ini bentuk dari pertahanan diri." Tiara mencoba menyimpulkan apa yang terjadi pada Dion


" Iya apa yang kamu simpulkan itu benar, makanya sekarang aku berusaha menguatkan hati untuk bisa menerima semua cerita hidup yang aku alami dahulu, untuk itu aku butuh bantuanmu." Dion menatap tajam ke arah Tiara


Tiara mengalihkan pandangannya ke luar jendela, untuk sesaat dia bingung harus mengatakan apalagi apabila Dion bertanya-tanya tentang cerita hidupnya sewaktu kecil, dia takut akan di salahkan jika terjadi sesuatu terhadap Dion.


" Tidak apa-apa, aku hanya khawatir terjadi sesuatu sama kamu jika aku menceritakan semuanya terlebih itu kenangan yang kelam di dalam hidup kamu." terang Tiara


" It's okay, lagian ini keinginan ku, kamu jangan khawatir tidak akan ada yang bisa menyalahkanmu jika terjadi sesuatu padaku, karena aku sudah muak hidup dengan ingatan yang tidak utuh seperti ini, jadi tolong ceritakan apa yang terjadi di masa kecilku." pinta Dion sedikit memaksa


" Sebenarnya kamu adalah saksi kunci satu-satunya dalam tragedi pelecehan yang dialami oleh kak Diana yaitu kakak kandungmu sendiri tapi sayang kamu yang mengalami trauma pasca kejadian itu hanya bisa diam membisu tatkala polisi berusaha untuk bertanya, karena kondisi kamu yang seperti itu maka tidak bisa di jadikan saksi, dan perlu kamu ketahui kasus itu di tutup setelah polisi mengetahui bahwa kak Diana meninggal gantung diri, amat sangat di sayangkan para pelaku sampai detik ini masih belum terungkap dan tentu saja mereka masih bisa bersenang-senang di luaran sana." Mendengar cerita dari Tiara hati Dion mulai panas tapi dia berusaha untuk menahannya dengan cara mencengkeram taplak meja yang berada di hadapannya.


" Dion kamu baik-baik saja kan?" Tiara mulai sedikit ketakutan tatkala melihat Dion yang mulai terlihat marah.


" Lanjutkan Tiara " perintah Dion


" Sebenarnya beberapa hari setelah kejadian itu kejiwaanmu mulai membaik dokter sendiri bingung dengan perubahan sikap yang kamu tunjukkan, kamu seperti anak yang normal dan ceria pada umumnya tidak seperti anak yang sedang trauma tapi ibu kamu mulai merasakan keanehan ketika beliau mencoba bertanya tentang peristiwa pelecehan itu, kamu menanggapinya seakan-akan tidak pernah melihatnya, saat itulah beliau membawa kamu ke rumah sakit dan dokter akhirnya mendiagnosa kalau kamu terkena amnesia disosiatif, aku tahu cerita ini semua dari Raya, karena Raya lah yang selalu berada di sisimu dari mulai kamu mengalami trauma bahkan sampai kamu masuk rumah sakit jiwa. Sebenarnya pada saat Raya cerita aku tidak terlalu menanggapinya karena aku kira dia hanya mengada-ngada tapi ternyata semua benar. Pantas saja ketika aku masih kecil orang tuaku melarang untuk bermain denganmu mereka selalu bilang kalau kamu itu gila." Tiara tertunduk lemas.


" Aku tidak percaya kalau diriku yang selalu aku banggakan sendiri ternyata pada dasarnya seorang pengecut, pantas saja Raya selalu bungkam ketika aku tanya tentang masa lalu." Dion mulai terlihat frustasi

__ADS_1


" Apa kamu pernah bertanya pada Raya? jadi ini rahasia yang seharusnya tidak boleh di beritahukan, waduh kayaknya aku sudah melakukan kesalahan, sebaiknya cukup sampai disini saja ya? aku benar-benar takut terjadi sesuatu sama kamu." ujar Tiara yang seperti merasa bersalah


" Sudah tenang saja seperti yang aku bilang tadi bahwa kamu tidak akan di tuntut apapun jika terjadi sesuatu kepadaku, jadi santai saja." Dion berusaha menenangkan Tiara


" Tapi tetap saja aku enggak enak dengan Raya karena selama ini yang mengetahui cerita ini hanya aku dan Rian."


" Ngomong-ngomong soal Rian seberapa banyak dia tahu rahasia yang di sembunyikan Raya?" Dion menatap tajam ke arah Tiara seakan-akan mata itu mengisyaratkan agar Tiara bisa berkata jujur padanya


" Aku tidak yakin coba saja kamu bertanya sendiri padanya"


" Aku pernah bertanya tapi dia tetap memilih bungkam, oh ya apa kamu tahu kejadian yang terjadi antara aku, Rian dan Raya sebelum kami memutuskan untuk menikah?"


" Kejadian seperti apa yang kamu maksud? aku tidak mengerti, yang jelas aku tahu pada saat kuliah Raya itu pacarannya sama Rian tapi anehnya dia malah menikahi kamu, dan pada saat bersamaan ketika kalian menikah Rian keluar dari kampus lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya di luar negeri, udah itu aja yang aku tahu." jawaban Tiara kali ini membuat Dion kecewa karena tidak sesuai yang dia inginkan.


" Yasudah kita lanjut makan saja dulu di ruangan sebelah sana, karena tadi aku menyuruh anak buahku untuk bilang ke waiters nya supaya menghidangkan di dalam ruangan saja biar tidak ada yang mengganggu di saat kamu bercerita." jelas Dion


" Pantas saja lama sekali makanannya tidak segera datang ternyata di alokasikan ke tempat lain" Tiara tersenyum tipis


" Yasudah kita langsung saja kesana." ajak Dion


" Tunggu Dion kayaknya ada sesuatu yang belum aku ceritakan mengenai pertemuan kamu dan Raya di atap kampus kita."


" Pertemuan di atap? pertemuan seperti apa itu? " tanya Dion kembali penasaran


" Aku kurang jelas kalian berbicara tentang apa, tapi yang pasti aku melihat Raya menangis sambil memegangi perutnya dan kamu pada saat itu seperti sangat emosi, hanya itu yang aku ingat selebihnya maaf aku tidak tahu." setelah selesai bercerita Tiara nampak kebingungan melihat Dion seperti orang linglung yang terus saja mengulangi kalimatnya


" Atap kampus, Raya nangis, Atap kampus Raya nangis" sambil memegangi kepalanya.


Beberapa saat kemudian Dion berteriak kesakitan di bagian kepalanya, dengan panik Tiara berteriak meminta pertolongan, para ajudan Dion yang berada di luar restaurant langsung berhamburan masuk ke dalam dan segera membawa tuan mudanya ke rumah sakit terdekat, Tiara yang menawarkan diri untuk ikut di larang oleh para ajudannya.

__ADS_1


__ADS_2