Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Situasi genting


__ADS_3

Darwin yang berhasil meloloskan diri dari incaran polisi bersembunyi di rumah kontrakannya bersama mamanya Maya.


" Apa yang harus kita lakukan tante? bagaimana jika Maya buka mulut tentang kita kepada polisi?" tanya Darwin cemas


" Kamu tenang saja Maya tidak akan melakukan hal itu karena aku tahu betul sifat dia, lebih baik sekarang pikirkan bagaimana caranya agar kita bisa membebaskan dia mengingat kondisi kita sudah kere seperti ini." tanya mama Maya balik


Yang di tanya bukannya memberikan solusinya justru dirinya sendiri hanya bisa terdiam, melihat itu mamanya Maya menjadi geram.


" Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? kita harus segera bertindak sebelum pengadilan menjatuhkan hukuman yang berat untuk Maya." kata mama Maya dengan nada suara yang sedikit keras


" Aku tahu tante tapi kita harus membuat rencana dulu sebelum bertindak, dan rencana itu harus kita pikirkan baik-baik agar bisa berjalan dengan lancar, lagipula kalau kita mengeluarkan Maya sekarang itu sangat mustahil karena membutuhkan biaya yang banyak untuk menjaminnya kecuali kalau.....?" kalimat yang di ucapkan Darwin tidak dia selesaikan dan itu membuat mama Maya semakin penasaran.


" Kalau apa? cepat katakan! kamu membuatku semakin penasaran saja". desak mama Maya


" kecuali Kalau Dion mau mencabut segala tuntutannya kepada Maya" jelas Darwin


Mama Maya membenarkan perkataan Darwin hanya saja hal itu akan menjadi sangat sulit jika mereka meminta baik-baik kepada Dion, akhirnya Darwin mengutarakan rencananya kepada mama Maya.


" Tante aku punya ide yang briliant, bagaimana kalau kita sandera istri Dion lalu kita suruh dia mencabut semua gugatannya."


" Waaah ide kamu bagus sekali Darwin, tante setuju, sekarang kamu temui Raya lalu bawa dia kemari." ucap mama Maya antusias

__ADS_1


" Enggak semudah itu tante masalahnya aku tidak tahu posisi Raya saat ini, informasi terakhir yang aku terima kalau Maya membuang Raya di daerah Jawa Barat." jelas Darwin


Mama Maya yang awalnya bersemangat kembali terlihat lesu tatkala mendengar penjelasan Darwin, dia benar-benar merasa putus asa untuk bisa menyelamatkan anak semata wayangnya. Lain hal nya dengan Darwin, dia sibuk memikirkan satu cara agar bisa mengeluarkan kekasih hatinya dari dalam bui.


" Tante aku tahu caranya, gimana kalau tante menjenguk Maya dan tanyakan kepadanya dimana Raya berada." jelas Darwin dengan antusiasnya


" Kamu benar tapi apa tidak berisiko jika aku yang menemui Maya di dalam penjara, aku takut kalau polisi menangkapku karena keterlibatanku dalam membantunya."


" Tante tenang saja bukankah Maya bisa di andalkan dalam urusan tutup mulut?" ucapan yang di lontarkan Darwin seakan-akan menyindir mama Maya


" Baiklah aku akan kesana dan pastikan setelah itu kamu bereskan Raya secepatnya agar Maya bisa segera keluar dari penjara


" Tante tenang saja aku akan bereskan yang menjadi tugasku" ujar Darwin dengan tenangnya


Maya yang sudah sangat jenuh dengan berbagai pertanyaan yang di ajukan penyidik sepertinya bisa bernapas lega tatkala dirinya kedatangan seorang tamu yang ingin menemuinya. Di ruangan khusus untuk menyambut tamu Maya di pertemukan dengan orang tua tunggalnya.


" Sayang bagaimana keadaanmu? mama sangat merindukanmu" ucap mama Maya dengan mata yang berkaca-kaca


" Mama tenang saja aku baik-baik saja kok berada disini, walaupun begitu aku sangat berharap mama bisa segera menemukan pengacara handal yang bisa membelaku di pengadilan nanti." ucap Maya sambil memegang tangan wanita paruh baya itu


" Seperti nya kalau untuk mencarikanmu pengacara yang handal agak sulit bagi mama mengingat mama tidak punya banyak uang untuk membayarnya, tapi kamu jangan khawatir mama dan Darwin akan segera mengeluarkan mu asalkan kamu memberi tahu dimana Raya saat ini." ucap mama Maya dengan suara yang lirih

__ADS_1


" Tidak sampai kapanpun aku tidak akan memberi tahu dimana wanita itu berada" sontak Maya menjadi marah ketika mamanya menyebut nama wanita yang sangat dia benci


" Kamu jangan keras kepala Maya, lebih baik kamu katakan dia berada dimana agar kami bisa melakukan negoisasi dengan Dion." Suara mama Maya sedikit meninggi karena emosi melihat tingkah laku anaknya yang begitu sangat keras kepala.


" Ma sampai kapanpun aku tidak akan memberitahukannya, karena aku tidak mau kalau Dion dan Raya bisa bersatu kembali dan hidup bahagia sementara aku hidup miskin dan menderita bersama kalian." Maya sangat keras kepala sehingga membuat mama Maya cukup kewalahan di dalam menghadapinya.


" Maya kamu jangan khawatir walau kita berhasil menemukannya dan mengembalikan dia kepada Dion tapi kita masih bisa menculiknya kembali lantas membuangnya ke tempat yang benar-benar tidak ada manusianya, bagaimana apa kamu setuju?"


Sejenak Maya memikirkan apa yang di ucapkan mamanya ada benarnya, akhirnya dia mau mengatakan dimana lokasi tempat di buangnya Raya pada waktu itu, setelah mendapatkan informasinya tanpa berlama-lama lagi mama Maya segera berpamitan kemudian di teleponnya Darwin dan di beritahukannya letak lokasi Raya saat ini. Mendapat lokasi tujuannya Darwin segera menuju ke tempat lokasi bersama beberapa temannya. Menempuh perjalanan yang cukup jauh membuat Darwin merasakan kelelahan yang teramat sangat akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan, sambil rebahan di dalam mobil matanya masih mengamati lingkungan sekitar. Ketika dia melihat laki-laki memakai seragam putih abu-abu akan melintasinya segera dia beranjak dari tempatnya dan menghentikan lelaki itu.


" Hai nak apa kamu asli orang sini? " tanya Darwin pada anak SMA itu


" Iya bang aku asli orang sini, memangnya ada apa ya?" anak SMA itu mulai curiga karena melihat beberapa orang yang di dalam mobil berpakaian selayaknya preman.


" Apa kamu pernah melihat wanita ini?" tanya Darwin lagi sembari menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


Inikan teh Raya, apa hubungannya orang ini sama teh Raya ya? apa dia suaminya? tapi sepertinya tidak mungkin karena teh Raya pernah cerita kalau suaminya itu seorang CEO yang terkenal di negeri ini, atau jangan-jangan mereka ini orang-orang yang berniat jahat sama teh Raya.


" Maaf bang aku tidak pernah liat, sebaiknya aku permisi dulu, mari... " Asep mengakhiri perbincangannya dengan Darwin dan segera menancap gas nya untuk segera pulang ke rumah.


Darwin yang melihat kepanikan yang terpancar di wajah anak SMA itu nampak curiga, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti anak SMA itu dari belakang, Asep yang merasa dirinya di ikuti sesegera mungkin melarikan motor nya dengan kecepatan yang maximum, kecurigaan Darwin semakin kuat tatkala dia melihat targetnya dengan sengaja berlari kencang untuk menghindarinya.

__ADS_1


" Ini benar-benar tidak beres pasti bocil itu tahu tentang keberadaan Raya saat ini, sebaiknya kita terus mengikuti nya jangan sampai kehilangan jejak" perintah Darwin


__ADS_2