
Melihat Dion yang sudah pergi meninggalkan rumahnya segera Sophia menghampiri Raya di kamarnya.
" Raya kamu kenapa? apa yang dilakukan Dion kepadamu?" kata Sophia sambil memegang pundak Raya.
Raya melepaskan tangan Sophia yang berada di pundaknya "Lebih baik kamu pergi dari sini Sophia! aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu" ujarnya
" Kenapa? pasti Dion yang sudah mempengaruhimu ya?" ucap Sophia dengan nada yang cukup tinggi.
" Sudah cukup Sophia! aku tidak mau berdebat denganmu mengenai mas Dion" Raya masih mencoba menahan emosinya
" Kamu harus sadar Raya! Dion itu bukan laki-laki yang pantas kamu perjuangkan, dia itu egois buktinya saja dia pergi meninggalkan mu disini dengan masalah yang belum terselesaikan " Raya menjadi geram mendengar ocehan-ocehan yang tidak masuk akal dari sahabatnya itu.
" Aku sudah muak dengan ucapanmu Sophia! jika kamu tidak tahu apa-apa soal mas Dion maka jangan pernah mengejudge nya dengan penilaian burukmu, sebaiknya sekarang kamu nyalakan televisi dan lihat apa yang sedang mas Dion lakukan " perintah Raya
Sophia yang masih gondok dengan sikap keras kepalanya Raya mencoba mengalah sejenak dengan mengikuti perintahnya, dinyalakan nya televisi lalu dia duduk di samping Raya.
Di televisi mulai menyiarkan Dion yang sedang melakukan jumpa pers, awalnya Sophia sedikit bosan mendengar kata sambutan yang di lontarkan Dion sampai pada akhirnya Sophia nampak syok ketika Dion mengatakan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO.
" Saya Dion Perkasa CEO dari Central Group dengan ini menyatakan bahwa saya resmi mengundurkan diri dari jabatan saya" ucap Dion dengan tenangnya, tapi para wartawan yang hadir nampak kaget dengan pengumuman itu, mereka saling memandang satu sama lain bahkan suasana jumpa pers nampak riuh.
__ADS_1
" Apa yang menyebabkan anda mengundurkan diri dari jabatan CEO?" tanya salah satu wartawan
" Sebab saya merasa sudah tidak pantas lagi menjabatnya" sejenak Dion terdiam sambil menghembuskan napasnya lalu dia kembali berbicara "Perlu sahabat wartawan ketahui bahwa sayalah penyebab kenapa istri saya yang bernama Raya selingkuh, itu karena saya menderita gangguan mental akibat trauma di masa kecil yaitu amnesia disosiatif. orang yang menderita gangguan ini biasanya mereka bermasalah dengan ingatannya, hal itu yang mengakibatkan saya suka bertindak sewenang-wenang pada istri saya dan saya juga sering tidak mempercayai apapun yang di katakan nya, jadi wajar saja jika dia yang tertekan hidup dengan saya lantas merasa nyaman dengan asisten kepercayaan saya." jelas Dion
" Jadi maksud anda, anda merelakan istri anda untuk menikah dengan asisten kepercayaan anda sendiri?" tanya wartawan lain
" Iya, saya merelakannya karena hanya dengan ini saya bisa menebus dosa-dosa yang saya lakukan kepadanya. Disini saya baru sadar bahwa yang namanya sebuah ikatan sangat di perlukan rasa saling menghargai dan saling percaya, jika tidak maka bisa di pastikan hubungan itu akan kandas. Untuk itu saya menegaskan kepada siapapun yang sedang melihat jumpa pers ini untuk tidak lagi menghujat atau menyalahkan istri saya karena dia hanya korban, jika ingin menuntut atau melampiaskan amarah karena rumor yang beredar membuat Anda rugi silahkan temui saya. Terimakasih " imbuhnya
Lalu Dion berpamitan kepada awak media dan pergi meninggalkan ruangan.
" Sudah lihat kan sekarang, seperti apa Dion yang selama ini aku perjuangkan?" ucap Raya sambil menahan air matanya yang akan tumpah.
" Selamat ya Sophia akhirnya kamulah yang menang" sindir Raya
" Tidak Raya, jangan berkata seperti ini aku mohon maafkan aku!" sambil bersujud di hadapan Raya
" Semua sudah terlambat Sophia, aku sudah tidak ada harapan bersama-sama lagi dengan orang yang aku cintai, lebih baik sekarang kamu keluar dari kamar ini! aku ingin sendirian untuk sementara waktu" kata Raya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sophia keluar dengan hati yang amat sangat bersalah, tatapan nya nanar seperti tanpa jiwa dia benar-benar merasa putus asa.
__ADS_1
Di lain tempat Dion yang sudah berada di mobil mewahnya bersama Ruben sedang melaju menuju perusahaan untuk menghadiri rapat yang sudah Ruben persiapkan.
" Tuan maaf boleh saya bertanya?" kata Ruben membuka pembicaraan
" Tanya saja" jawab Dion dengan santainya
" Apakah anda yakin menyuruh saya untuk menikahi Raya? bukankah anda sangat mencintainya? " tanya Ruben lagi dengan sedikit gugup
" Hanya ini caranya agar netizen tidak lagi menyerang Raya, jadi aku akan titipkan Raya kepadamu hanya tiga bulan saja, dan ingat! jangan sampai kamu menyentuhnya" jelas Dion
" Maksud anda saya melakukan nikah kontrak dengan Raya?" semakin penasaran
" Iya benar, karena aku tidak mau jika Raya terjebak dalam pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan. Lagipula aku sudah mempersiapkan kehidupan layak yang selama ini dia impikan. Pokoknya tiga bulan ke depan aku akan membawa Raya tinggal di luar negeri dan meninggalkan semua yang ada disini termasuk jabatan ku." ujar Dion sambil tersenyum kecil.
Ruben menghela napas dengan berat, tangannya memegang erat pada kemudi. Dia merasa sedikit kecewa dengan apa yang di katakan oleh bos nya. Ingin rasanya dirinya membantah dan menasehati bosnya itu, karena dia merasa untuk kali ini bosnya benar-benar sangat egois dan sedikit keterlaluan karena rencananya dia buat berdasarkan keinginannya saja tanpa menghiraukan perasaan-perasaan orang yang terlibat di dalamnya. Tapi apa daya dirinya tidak memiliki sebuah kekuatan untuk hanya sekedar menegurnya, yang ada dia hanya bisa mengikuti ide gila bosnya itu untuk menikahi orang yang paling dia cintai hanya dalam waktu tiga bulan saja.
Mobil yang Ruben kemudikan kini telah sampai di halaman gedung pencakar langit, yang mana gedung itu dahulunya di dirikan oleh Ayah Dion yang sudah meninggal. Dan kini gedung itu di kelola sepenuhnya oleh Dion dan juga teamnya.
Dion muda dahulunya di paksa untuk menjadi lebih dewasa karena sepeninggal ayahnya dialah satu-satunya orang yang berhak menjalankan kerajaan bisnis milik ayahnya, tapi sayang demi sebuah cinta kini dia rela melepaskan semuanya dan menyerahkan kerajaan bisnis milik ayahnya ke tangan orang lain yang ia sendiri tidak tahu apakah orang itu bisa lebih mengembangkan bisnisnya atau malah bisa menghancurkannya. Di dalam otaknya sekarang hanya ada sebuah pertanyaan yaitu bagaimana caranya agar semua orang yang sedang dalam kondisi buruk akibat rumor yang beredar di internet tidak lagi mengganggu atau menyerang mantan istrinya itu. Sehingga dia membuat sebuah pertemuan yang mengagendakan mengenai pengunduran dirinya dari CEO, dan pemilihan CEO baru.
__ADS_1