
Rasa malu yang di rasakan membuat Raya memutuskan untuk menyendiri di restauran yang terdapat di hotel tersebut. Di restauran Raya yang masih kesal dengan kejadian yang baru saja di alaminya kini menumpahkan segala kekesalannya pada sahabatnya yaitu Sophia melalui panggilan video.
" Aku benar-benar sebal sama Ruben, kok bisa dengan tenangnya dia berendam padahal aku sedang buang hajat" ucap Raya memasang wajah cemberut.
Sophia yang memandang sahabatnya mengeluh seperti itu hanya bisa tersenyum geli.
" Untung saja aku tidak berada disampingmu, coba saja kalau aku berada di sana mungkin sudah aku cubit pipimu itu karena saking gemasnya. Jelas-jelas yang salah bukan Ruben tapi kamu! main nyelonong masuk kamar mandi tanpa di cek dahulu ada orang tidak di dalam" balas Sophia
" Kok aku yang salah? jelas-jelas Ruben yang sengaja tidak mengunci pintu terus diam tanpa suara, jadi mana aku tahu kalau ternyata ada dia yang sedang berendam" Raya terus menyangkal karena tidak mau di salahkan.
Sophia melihat Raya yang bersikap keras seperti itu berusaha mencari kata-kata yang bisa membuatnya melunak.
" Sudahlah tidak perlu di bahas lagi, bukankah sangat wajar jika suami istri saling melihat auratnya masing-masing? Ingat Raya Ruben suami sah kamu! jadi sudah sewajarnya kamu menampakkan aurotmu hanya kepadanya, adapun tentang kesepakatan yang kalian buat itu urusan kalian dengan Allah, aku tidak peduli karena kalian sama-sama sudah dewasa, sama-sama tahu mana dosa mana yang tidak" Mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Sophia, Raya merasa tersindir dia menyadari jika perbuatannya kali ini tidak bisa di benarkan oleh agama karena sama saja dia saat ini sedang bermain-main dengan sebuah sunah yang sangat di anjurkan oleh Rasulullah SAW yaitu pernikahan. Kini Raya di dalam diamnya merasa bimbang, apakah lebih baik jika sekarang saja dirinya meminta cerai agar pernikahan palsu ini bisa segera berakhir, Raya mulai menyesal karena menolak ajakan Dion hidup di luar negeri dan meninggalkan semua kenangan pahit disini.
" Raya... Raya... Raya.... kamu kenapa? apa aku telah menyinggungmu?" tanya Sophia khawatir karena melihat Raya terdiam dengan tatapan kosong.
Raya yang tersadar dalam buaian pikirannya mencoba menjelaskan apa yang sedang dia rasakan. Setelah Raya bercerita Sophia mencoba kembali lagi menasehati sahabatnya itu.
" Raya jika kamu merasa apa yang sedang kamu lakukan ini salah maka kamu harus memperbaiki semuanya dengan cara jadilah istri yang baik buat Ruben, biarkanlah dirinya untuk menyentuhmu bukankah itu kewajiban istri kepada suaminya walau mungkin kalian tidak melakukan hubungan suami istri, ya paling tidak kamu masih mau untuk di peluk dan di cium. Yang penting Ruben tidak terlalu kecewa kepadamu, bukankah ridhonya Allah ada pada suami"
" Tapi sulit bagiku untuk bisa menerima Ruben menjadi suamiku karena di hatiku masih ada mas Dion" ucap Raya dengan nada suara rendah
" Pelan-pelan saja kita masih banyak waktu untuk saling memahami satu dengan yang lain" bisik Ruben di telinga Raya yang membuat sang pemilik telinga langsung terperanjat.
" Ruben, sejak kapan kamu ada di sini?" sambil menengok ke belakang
__ADS_1
Dengan santainya Ruben berjalan menuju kursi depan Raya dan duduk di sana sambil menatap Raya dengan lekat.
" Aku tidak tahu jelasnya sudah berapa menit di belakang kamu, yang jelas aku mendengar semua percakapan antara kamu dengan Sophia mengenai diriku" dengan senyum lebarnya
Raya melihat penampilan Ruben yang kali ini nampak beda merasa sedikit kagum dibuatnya, bagaimana tidak Ruben yang biasanya selalu mengenakan pakaian formal bersetelan jas kali ini dia hanya mengenakan celana pendek di atas lutut di padukan kaos oblong polos bewarna hitam semakin menambah kesan maskulin nya. Ruben yang merasa kalau Raya tidak fokus dengan apa yang sedang dia bicarakan mencoba untuk menyadarkannya.
" Raya apa yang sedang kamu lihat?" sambil melambaikan tangannya di depan muka Raya
" Ah apa sih, aku enggak lihat apa-apa" Raya mencoba mengelak
" Oh ya tadi kamu di belakangku sudah lama ya? tidak sopan tahu menguping percakapan orang lain" lanjutnya
" Lebih tidak sopan lagi membicarakan orang lain sepagi ini" balas Ruben
" Dasar laki-laki tidak mau mengalah" Raya menunjukkan wajah masamnya
" Loh kok di matikan?" tanya Ruben
" Ini semua karena kamu!, bikin aku salah tingkah di depan Sophia" jawab Raya sekenanya
" Salah tingkah? kenapa kamu mesti salah tingkah?" tanya Ruben penasaran
Mata Raya terbelalak mendapat pertanyaan seperti itu dari Ruben.
Aduh kenapa aku bisa keceplosan gitu sama Ruben, Raya... Raya kenapa kamu bodoh sekali sih.
__ADS_1
" Sudahlah aku tidak mau membahasnya, lebih baik sekarang kamu pesan makanan biar kita bisa makan bersama disini" ucapnya
" Aku tidak lapar karena sebelum kemari aku sempat minum jus buah lagipula aku tidak terbiasa di pagi hari makan makanan berat seperti itu" jelas Ruben sambil menunjuk ke arah makanan yang sedang Raya makan
" Kalau aku tidak akan kuat melakukan berbagai aktivitas sebelum sarapan menggunakan nasi, hee... " ucap Raya cengengesan
" Tidak apa-apa yang penting kamu imbangi dengan olahraga biar tubuh selalu fresh, oh ya Raya sebelumnya aku mau minta maaf jika kejadian tadi pagi membuatmu merasa canggung dan malu"
" Sudahlah kamu tidak sepenuhnya salah, lagipula kata Sophia sangat wajar jika suami dan istri sama-sama menampakkan aurot nya " jelas Raya sambil malu-malu.
Ruben melihat Raya seperti sedang menahan rasa malu mencoba mengalihkan topik pembicaraan, agar Raya bisa merasa nyaman di dekatnya.
" Oke kalau begitu, karena masalahnya sudah beres sekarang kita jalan-jalan yuk! bukankah tadi Raya bilang mau mengenalku lebih dekat" goda Ruben sambil mendekatkan wajahnya
" Oke kita pergi, tapi kita mau pergi kemana?" tanya Raya penasaran
" Bagaimana kalau kita ke taman bermain? buat buang stres" kata Ruben
Raya pun menyetujuinya, dengan segera Ruben menggandeng tangan Raya menuju mobil yang terparkir di depan hotel tempat mereka menginap beberapa hari kedepan. Hati Ruben di penuhi rasa bahagia, karena bisa menggandeng wanita yang selama ini di idamkan nya. Sementara Raya merasa agak gugup ketika Ruben menggandeng tangannya dengan begitu erat, detak jantungnya tidak terkontrol sehingga membuat telapak tangannya mengeluarkan keringat yang cukup banyak.
" Ruben lepaskan dulu tanganku, aku merasa tidak nyaman " kata Raya di tengah perjalanan
" Memangnya kenapa? kamu malu bergandengan tangan denganku?" tanya Ruben sedikit tidak suka dengan pernyataan Raya.
" Bukan begitu hanya saja tangan ku sedikit basah jadi aku merasa tidak nyaman" ucap Raya sambil tertunduk malu
__ADS_1
" Aku tidak akan melepaskan genggaman tangan ini, karena aku butuh perjuangan untuk bisa melakukannya" jawab Ruben dengan penuh keyakinan.