
Asep yang terus di ikuti oleh Darwin merasa sangat panik sehingga dia sering menengok ke arah belakang untuk memastikan bahwa dirinya sudah tidak di ikuti oleh mobil Darwin lagi, tapi sialnya ketika Asep melewati jalan bebatuan bannya tergelincir sehingga dia tidak sanggup lagi untuk mengendalikan keseimbangan motornya maka terjatuh lah dia di antara bebatuan.
" Aduh sakit sekali aku harus segera bangkit sebelum mereka datang dan menangkapku" dengan sisa tenaga yang dia miliki akhirnya Asep berhasil mendirikan motornya dan dengan cepat di tungganginya kembali motor itu walau masih terasa sakit di sekujur tubuhnya Asep berusaha mengendalikan motornya dengan baik.
luka di siku yang terkena angin membuat Asep hampir kehilangan kestabilannya.
Aku harus bertahan demi teh Raya dan anaknya, tidak akan pernah aku biarkan teh Raya di sakiti lagi oleh orang-orang jahat itu.
Memasuki hutan yang memiliki jalan sempit membuat Darwin kewalahan di dalam mengejar Asep, melihat mobil Darwin yang mengalami kendala membuat Asep mengencangkan laju motornya agar lebih cepat sampai di rumahnya.
Sesampainya di depan rumah segera Asep memakirkan motornya dan berlari masuk ke dalam rumah sambil terus berteriak.
" Teh Raya..... teh Raya " Asep berlarian mencari seseorang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri di setiap sudut ruangan.
" Kamu kenapa teriak-teriak seperti itu Sep? aya naon?" tanya nenek Asih yang bingung melihat gelagat dari cucunya
" Nek, teh Raya kamana? ini bener-bener darurat, teh Raya harus pergi jauh dari kampung sini soalnya ada beberapa preman yang sedang mencarinya." jelas Asep dengan rasa panik
__ADS_1
" Kalau begitu cepat kamu susul teh Raya yang sedang mencuci baju di sungai sama neng Athala" ucap nenek Asih yang ikutan panik
" Terus bagaimana dengan nenek? aku tidak bisa meninggalkan nenek di sini begitu saja" Asep menjadi bimbang di buatnya
" Asep kamu tenang saja nenek pasti akan baik-baik saja karena di sini banyak warga yang akan menolong jika nenek mengalami kesulitan." nenek Asih mencoba meyakinkan cucu kesayangannya itu sambil mengusap lembut pipinya.
Asep sudah tidak bisa lagi berkata-kata dia hanya bisa menuruti apa yang menjadi keinginan neneknya, dengan berat hati Asep meninggalkan neneknya dan menuju ke sungai ke tempat dimana Raya dan anaknya berada saat ini, tidak di sangka Asep berjumpa dengan Raya beserta bayinya di tengah jalan, rupanya Raya sudah selesai mencuci dan hendak kembali ke rumah.
" Teh Raya jangan kembali ke rumah, lebih baik teh Raya sekarang ikut aku naik ke bukit yang berada di sebelah sana" Cegah Asep sambil menunjuk ke satu arah.
" Memangnya ada apa? sampai kamu keliatan panik sekali" tanya Raya bingung
Mendengar penjelasan Asep membuat Raya bimbang antara pergi atau menyerahkan diri, karena dia takut jika dia pergi dengan Asep bisa saja nenek Asih yang akan jadi pelampiasan mereka atau bahkan warga terancam jadi bulan-bulanan mereka.
" Teh kok diam saja? ayo kita pergi sebelum mereka datang kesini" Asep terus mendesak Raya agar dirinya mau pergi bersama Asep
" Teteh bingung Sep, teteh takut kalau nenek Asih dan para warga akan di sakiti oleh mereka karena menyembunyikan ku." kata Raya yang terdengar lirih
__ADS_1
" Teteh tenang saja nenek Asih dan para warga mereka akan baik-baik saja, bukankah jumlah mereka lebih banyak daripada preman itu, jadi aku mohon kita harus segera pergi dari sini sebelum terlambat." Asep menarik tangan Raya yang sedang mematung
Raya tidak berkata apa-apa dia hanya menurut ketika tangannya di tarik oleh Asep, langkah kakinya yang masih berat lambat laun bisa mengimbangi langkah kaki Asep, baju yang sudah dia cuci di tinggalkan begitu saja di jalanan, pikirannya kosong dia hanya bisa berlari dan berlari sejauh mungkin dengan menggendong anak semata wayangnya itu.
Di sisi lain Darwin dan teman-teman premannya sudah sampai di perkampungan, mereka membikin kerusuhan yang membuat para warga menjadi geram dengan apa yang mereka lakukan, bahkan tanpa ada rasa kasihan mereka menganiaya nenek Asih di hadapan para warga yang sedang berkerumun melihatnya.
" Cepat nenek katakan dimana cucumu menyembunyikan Raya! kalau nenek tetap bungkam maka kampung ini akan aku jadikan abu!" ancam Darwin
" Nenek cepat katakan dimana Asep menyembunyikan wanita jakarta itu, jangan sampai demi seorang wanita kita satu kampung terkena imbasnya." ucap salah satu warga mendesak nenek Asih
Karena adanya satu orang yang mendesak akhirnya banyak warga yang ikut-ikutan mendesak nenek Asih untuk memberi tahu dimana Asep dan Raya berada saat ini, karena merasa terpojok kan akhirnya nenek Asih buka suara.
" Sampai matipun nenek tidak akan pernah memberi tahu dimana Raya berada karena dia sudah nenek anggap seperti anakku sendiri." jelas Nenek dengan beraninya
" Berarti nenek lebih memilih seluruh warga menderita hanya karena satu perempuan yang sama sekali nenek tidak kenal latar belakangnya? nenek benar-benar tega pada kami." ucap salah satu ibu-ibu
" Sudah diam! Nenek dengarkan aku baik-baik, jika Nenek tidak mau mengatakan dimana Raya dalam waktu sepuluh detik makan aku akan membakar hangus kampung kecil ini" ancam Darwin
__ADS_1
Mendengar ancaman dari Darwin membuat seluruh warga menjadi panik, ada salah satu warga yang secara diam-diam menghubungi polisi tapi sayang warga itu langsung di tembak mati oleh salah satu teman Darwin. Para warga semakin ketakutan melihat kejadian itu mereka semua hanya bisa terdiam di depan halaman rumah mereka tanpa ada yang bisa masuk ke dalam rumah, tapi berbeda dengan Nenek Asih yang nampak tenang dengan kondisi yang sangat mencengkam bagi seluruh warga. Tidak sedikit warga yang memohon pada nenek Asih untuk mengatakan keberadaan Raya tapi tetap saja nenek Asih hanya terdiam. Melihat sikap nenek Asih yang begitu tenang tanpa ada rasa takut membuat Darwin gelap mata, dengan emosi yang menjalar di seluruh tubuhnya segara di ambilnya pistol dari tangan temannya lalu di tembakkannya ke dahi nenek renta itu, seketika nenek itu menghembuskan napas terakhirnya.