Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Teman curhat


__ADS_3

Sebuah tanda tangan yang akhirnya membuat semua harapan Raya menjadi pupus, walaupun demikian dia berharap dengan tanda tangan itu bisa membuat orang yang di cintainya hidup normal dan bahagia tanpa ada beban lagi di dalam melangkah menuju masa depan.


Raya menyerahkan semua urusan perceraiannya kepada Sophia dan pengacaranya, dia sama sekali tidak mau terlibat di dalamnya karena ini semua bukanlah keinginannya.


Ruben yang baru pulang dari perjalanan bisnisnya merasa kaget ketika mendengar kabar bahwa majikannya akan melakukan perceraian, tanpa pikir panjang lagi segera dirinya pergi ke apartemen Sophia guna menemui Nyonya mudanya, di sana Ruben banyak sekali menanyakan perihal kenapa harus bercerai.


" Aku tahu kamu kecewa Ruben, tapi inilah yang diinginkan oleh Tuan mudamu, empat bulan yang lalu dia mengirim pengacaranya untuk memberikan surat gugatan perceraian kepadaku agar aku bisa menandatangani nya, awalnya aku menolak mentah-mentah tapi setelah mendengar saran dari Sophia bahwa ini yang Dion inginkan maka aku harus mengalah karena bagaimana pun juga yang namanya berumah tangga membutuhkan dua orang untuk saling menjaga jika salah satunya memilih untuk menyerah lantas untuk apa lagi salah satu di antaranya tetap berusaha menjaga?" jelas Raya dengan muka datarnya


" Tapi tidak mungkin kalau Tuan Muda menggugat cerai anda, karena dia sangat mencintai anda, ini pasti ada kesalahan, aku harus menyelidikinya" ucap Ruben serius


" Untuk apa kamu menyelidikinya jika tiga hari lagi akan ketuk palu yang menandakan bahwa Dion dan Raya resmi bercerai" sela Sophia


" Sial, seharusnya aku lebih bisa meluangkan waktuku untuk anda pasti semua ini tidak akan terjadi, aku terlalu sibuk dengan perjalanan bisnisku, maafkan aku Nyonya" sesal Ruben


" Tidak perlu meminta maaf Ruben mungkin inilah yang dinamakan takdir, takdir menjadi janda dengan memiliki dua orang anak" kata Raya sambil tersenyum getir


" Ruben aku mau tanya, jika Raya resmi bercerai apakah kamu akan tetap menjaga dia? atau kamu akan meninggalkannya?" pertanyaan dari Shopia membuat Ruben seakan-akan susah untuk bernapas, dia bingung harus menjawab apa, karena selama ini dia mendampingi Raya semata-mata karena tugas yang di berikan oleh Dion, tapi tidak bisa di pungkiri jika selama ini hatinya selalu merindukan sosok Nyonya mudanya tatkala dirinya tidak berjumpa.


" Ruben aku berharap kamu tetap mau menjadi teman terbaikku walau aku sudah bukan istri majikanmu lagi, jujur aku sudah sangat nyaman dengan adanya kehadiran mu di setiap hari-hariku jadi jangan tinggalkan aku ya!" ucap Raya sambil tersenyum manis


Ucapan Raya membuat jantung Ruben berdegup kencang, bahkan hormon endorfin yang di hasilkan oleh otak kini menjalar ke seluruh tubuh Ruben yang membuat hatinya merasakan bahagia dan semangat di dalam dirinya.


" Aku akan selalu ada buat Nyonya ketika di butuhkan, dan aku berjanji tidak akan meninggalkan Nyonya" Ruben berkata dengan penuh semangat


Shopia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Ruben, dia biasanya sangat kaku dan monoton tapi reaksi Ruben ketika mendengar ucapan Raya terlihat seperti orang yang salah tingkah seakan-akan dia sedang merasakan jatuh cinta hal itu membuat Sophia ingin merencanakan sesuatu untuk mereka berdua.


Sepertinya Ruben menyukai Raya, aku harus membantu Ruben untuk mendapatkan cintanya, karena aku yakin kalau Ruben pasti bisa membuat Raya selalu bahagia.

__ADS_1


" Ruben seharusnya kamu mulai hari ini membiasakan diri untuk memanggil Raya dengan namannya jangan Nyonya muda lagi, terus yang tidak kalah pentingnya kamu ketika mengobrol dengan Raya jangan terlalu formal santai saja bukankah kalian sekarang menjadi teman" ujar Sophia


" Iya benar Ruben, kamu panggil aku Raya saja dan bersikaplah lebih santai sedikit denganku" timpal Raya dengan antusias


" Baiklah kalau itu keinginanmu aku akan panggil Raya" balas Ruben


" Oke karena kalian sudah lama tidak bertemu bagaimana kalau kalian makan bersama, lagipula semenjak kamu melakukan perjalanan bisnis dan aku sibuk mengurus perceraian, Raya sepanjang waktu menghabiskan harinya di rumah, kasihan Raya sudah mengakar di apartemen ini" Sophia mulai menggencarkan rencananya.


" Aku mau makan bersama dengan Nyonya ehmm maksudku Raya, tapi bagaimana dengan Raya apakah mau makan bersamaku?" Ruben berkata dengan sangat hati-hati dia takut Raya mengetahui kalau dirinya sedang gugup.


" Kamu lucu Ruben masih saja kaku begitu, tidak apa-apa pelan-pelan saja! aku mau kok makan bersamamu" jawab Raya sambil tersenyum


Senyum Raya membuat Ruben semakin salah tingkah, Sophia melihat tingkah Ruben hanya bisa tertawa di dalam hati.


Dengan sentuhan tangan Sophia wajah polos Raya di rubah bak wanita korea yang terkesan imut tapi elegant, di padu dengan dress yang sesuai dengan bentuk tubuh Raya membuat penampilannya tambah sempurna. Dengan penuh percaya diri Sophia membawa Raya menemui Ruben di ruang tamu.


" Lihat Ruben penampilan Raya saat ini" seru Sophia


Waah.... Raya cantik sekali, benar-benar seperti bidadari. Aku harus tetap bisa mengendalikan diriku agar tidak terlihat grogi di hadapannya.


" Ruben kenapa kamu diam saja? bagaimana Raya cantik tidak?" goda Sophia


" Ah iya dia sangat cantik" ujar Ruben sedikit gagap


" Kalau sudah cantik ajak dong pergi!" goda Sophia lagi


" Sophia jangan gitu bikin malu aja, aku titip anak-anak ya!"

__ADS_1


Selesai berpamitan dengan Sophia, Raya dan Ruben pergi menuju restauran. Di tengah perjalanan tiba-tiba Raya membatalkan keinginannya untuk makan di restauran.


" Ruben kalau kita tidak jadi makan kira-kira kamu bakal marah tidak?"


" Memangnya Raya mau pergi kemana?" tanya Ruben sambil sesekali melihat ke arah Raya yang duduk di sampingnya.


" Aku mau ke pantai" jawab Raya singkat


Setelah mendengar keinginan Raya, Ruben segera banting setir menuju pantai terdekat. Sesampainya di sana Ruben mengajak Raya berjalan di pinggir laut.


" Ruben terima kasih kamu sudah mengajak aku kesini, sekarang kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol yuk!, karena aku ingin curhat kamu mau dengar tidak?"


" Tentu saja aku mau dengar, apapun yang kamu curhatkan aku akan mendengarnya dengan baik, kita duduk di sana saja" sambil menunjuk ke sebuah tumpukan batu besar, dengan sabar Ruben memapah Raya agar bisa menaiki bebatuan tersebut.


" Duduk di sini, pelan-pelan" sambil memegangi pundak Raya


" Memangnya kita sekarang ada dimana? aku merasa kita seperti menaiki sebuah batu besar, benar tidak" ucap Raya


" Benar, kita sekarang sedang duduk di tumpukan bebatuan, ini tempat yang paling nyaman untuk kamu mencurahkan segala isi hati" jelas Ruben


" Aku benar-benar beruntung punya teman sebaik kamu, saat ini hanya kamu yang membuatku nyaman untuk bisa mencurahkan segala kegundahan di dalam hati, sebelum aku bercerita aku ingin bertanya terlebih dahulu menurut kamu apakah keputusanku menandatangani surat cerai itu salah?"


" Dalam kasus kalian menurut aku tidak ada yang salah, karena aku yakin sebelum memutuskan untuk bercerai Tuan Muda pasti sudah memikirkannya dengan matang, sedangkan Raya menandatangani surat cerai menurutku itu sebuah pengorbanan dari seorang istri untuk suami tercinta, agar sang suami bisa bahagia setelah berpisah dengan dirinya. Karena bagaimanapun juga yang namanya berumah tangga itu di butuhkan dua orang yang saling melengkapi jika di antara salah satunya memutuskan untuk menyerah maka untuk apa rumah tangganya di pertahankan" jelas Ruben panjang lebar


" Kalau kamu jadi suamiku apakah kamu akan menceraikan ku seperti hal nya mas Dion?" tanya Raya dengan nada suara datar


Ruben agak kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba seperti itu dari mulut Raya tapi tanpa keraguan Ruben menjawab "Aku tidak akan pernah menceraikanmu seumur hidupku"

__ADS_1


" Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang menjadi suamiku"


Deg, tubuh Ruben langsung mematung detak jantunya mulai tidak terkontrol, mulutnya pun secara otomatis terkunci.


__ADS_2