
Rasa sesal telah menggerogoti sanubari membuat sang pemilik hati merasakan sakit yang teramat perih walau tak berdarah tapi rasa itu sungguh nyata Asep alami.
" Kak Rian bolehkah aku bertemu dengan teh Raya? " tanya Asep penuh harap
" Aku akan pertemukan kamu dengan Raya asalkan kamu berjanji bisa mengendalikan diri dan tidak menampakkan rasa penyesalan yang berlebihan karena aku takut itu akan membuat dia terbebani walaupun demikian kamu boleh meminta maaf atas ketidaksengajaan yang kamu lakukan, kamu mengerti maksud ku kan?" tanya Rian balik untuk memastikan
" Kakak tenang saja aku akan menjaga kestabilan teh Raya."
Selesai melakukan kesepakatan akhirnya Rian pun mengantarkan Raya ke kamar Asep menggunakan kursi roda. Dari kejauhan Asep melihat Raya dengan wajah yang pucat serta pandangan yang kosong membuat hati Asep seperti tersayat oleh pisau.
" Asep bagaimana keadaan mu? apa kamu ada keluhan? " tanya Raya setelah dekat dengan ranjang Asep
" Aku baik-baik saja kok teh, teteh sendiri bagaimana?" tanya Asep balik dengan nada suara getir
" Seperti yang kamu lihat teteh baik-baik saja, hanya mata teteh yang sekarang tidak berfungsi lagi tapi enggak papalah teteh sudah cukup untuk melihat indahnya dunia selama 23 tahun lamanya." sambil tersenyum
Melihat senyuman itu membuat hati Asep semakin hancur berkeping-keping, ingin rasanya dia bersujud di hadapan perempuan yang ada di hadapannya untuk meminta maaf tapi setelah pandangannya dia tujukan ke lelaki di sebelah Raya membuat Asep mengurungkan niatnya, karena lelaki itu memberi isyarat agar dirinya bisa menahan diri. Dengan sekuat tenaga Asep mencoba untuk bisa menahan diri dan menyelaraskan kembali irama nafasnya.
" Teh maaf atas ketidak sengajaan yang aku lakukan, coba saja waktu itu aku tidak mendorong teteh terlalu kencang mungkin sampai detik ini teh Raya masih bisa melihat"
Raya meraba-raba mencari tangan Asep setelah ditemukan lantas tangan itu di genggamnya "Justru karena kamu mendorong dengan kencang dan tepat waktu membuat teteh sampai detik ini masih hidup, kalau tidak mungkin Athala sudah menjadi anak piatu karena harus kehilangan mamahnya"
__ADS_1
Mendengar itu membuat Asep merasa tersanjung, di ciumnya punggung tangan perempuan yang berada di hadapannya "Terima kasih teteh, Terima kasih karena tidak menyalahkanku atas kecerobohan yang aku lakukan" kata Asep dengan di iringi isak tangis
" Loh kamu nangis ya? masa laki-laki cengeng" ledek Raya dengan senyuman
" Maaf aku enggak bermaksud hanya saja airmataku tiba-tiba saja meluncur dengan sendirinya" celoteh Asep
Raya tersenyum mendengarnya "Kamu ini ada-ada saja, yasudah kamu istirahat dulu biar cepat sembuh dan ingat jangan mikirin yang macam-macam! aku pamit" Setelah selesai berpamitan Raya pun di dorong oleh Rian keluar dari kamar Asep. Di lorong rumah sakit tiba-tiba Raya meminta berhenti sejenak.
" Ada apa Raya? apa ada yang ketinggalan? " tanya Rian heran
" Aku minta kamu jujur ke aku, sebenarnya dimana Dion? kenapa dia tidak datang kemari untuk menjenguk ku?" tanya Raya balik
Pertanyaan yang diajukan oleh Raya membuat Rian sedikit panik, dia berusaha mencari jawaban yang bisa dia berikan kepada Raya tanpa harus menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Kamu jangan berbohong, aku sudah tahu semuanya" kata Raya dengan wajah datarnya
" Bohong? maksud kamu apa Raya?" tanya Rian mencoba menggali sesuatu
" Aku tahu semuanya, aku tahu kalau Dion pergi keluar negeri tanpa ada yang tahu dimana dia berada" jelas Raya
" Apa kamu mendengar pembicaraan antara aku dengan Sophia?" tanya Rian memastikan
__ADS_1
" Iya aku mendengar semuanya, kenapa..... kenapa kalian tega tidak memberitahu aku? apa kalian takut aku jadi frustasi dan bunuh diri? hah?" tanya Raya dengan nada suara tinggi
" Bukan itu maksud kami hanya saja kami mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya, paling tidak setelah kamu keluar dari rumah sakit " Rian mencoba memberi alasan yang bisa menenangkan Raya
" Mencari waktu yang tepat" sambil tersenyum menyindir "Kapan? sampai aku memiliki harapan yang tinggi untuk bertemu Dion? baru kalian mau mengatakannya? apa kalian tidak berpikir dampak apa yang terjadi setelahnya?" lanjut Raya
" Maaf Raya kami tidak berpikir sampai kesitu, kami hanya khawatir dengan kondisi kesehatanmu saat ini, itu saja" jelas Rian dengan nada suara yang lemah
" Kamu tidak salah Rian, ini semua kesalahanku andai saja pada saat itu aku tidak meninggalkan dia begitu saja mungkin kami masih bersama, walaupun dia tidak mengakui darah dagingnya aku akan tetap bertahan sama seperti aku mempertahankan Athala pada saat itu. Tapi semuanya sudah terlambat dia sudah jauh meninggalkanku, tanpa ada kata perpisahan" tidak terasa air matanya menetes di pipi pucatnya.
Rian memeluk Raya sambil tangannya menepuk punggung Raya dengan lembut "Kamu sabar ya, aku janji akan mencari Dion sampai dapat dan menyeretnya ke hadapanmu"
" Tidak perlu Rian biar saja dia pergi sesuka hatinya, mungkin dia kecewa kepadaku dan berniat kembali ingin balas dendam"
" Apa yang kamu katakan? itu semua tidak akan pernah terjadi lagi, kamu harus percaya padanya! aku yakin dia punya alasan kenapa harus meninggalkanmu tanpa berpamitan." Rian terus mencoba menenangkan Raya
" Alasan apa? apapun itu dia sudah memutuskan untuk meninggalkan aku Rian, itu faktanya. Aku benar-benar capek mencintainya seperti ini, dia selalu menarik ulur hatiku tanpa dia tahu betapa sakit yang kurasa, aku tidak mengerti kenapa dia begitu tega melakukannya padahal dia sudah berjanji apapun yang terjadi tidak akan pernah meninggalkan ku lagi. Terlebih sekarang janin yang tidak dia akui sudah tidak ada lagi bukankah seharusnya dia tidak pergi." selesai dengan keluhannya Raya menangis sejadi-jadinya.
" Kamu boleh menangis sepuasnya Raya tapi setelah ini kamu harus berjanji akan menjadi Raya yang dulu, Raya yang kuat dan tidak pernah putus asa." ucap Rian
" Aku tidak mau jika harus menjadi Raya yang selalu di tindas dan berpura-pura untuk bisa tegar dan selalu tersenyum, aku tidak mau Rian aku tidak mau menjadi Raya yang seperti itu. Aku benci dengan ketidak berdayaanku, aku benci dengan nasib yang menimpa diriku, dan aku juga benci dengan Dion yang selalu mempernainkanku, aku benci itu semua, aku benci" Raya berbicara dengan nada suara yang tinggi hal itu membuat Rian sampai kewalahan untuk mengontrolnya, dia merasa malu tatkala orang di sekitar mulai menatap ke arah mereka sambil berbisik. " Rian bagaimana ini aku membenci Dion tapi aku sangat merindukannya, aku benar-benar merindukannya" Raya kembali menangis tersendu"
__ADS_1
Rian tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Raya melampiaskan kegondokan yang ada di dalam hatinya.