Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Pupusnya Harapan


__ADS_3

Di atas sebuah bukit Raya dan Asep terus mengamati kampung yang selama ini mereka tinggali, ada rasa gusar yang melanda hati Raya tatkala matanya terus memandangi perkampungan itu.


Bagaimana keadaan nenek Asih saat ini ya? aku benar-benar cemas terhadapnya, apa aku turun saja ya biar baby Athala aku titipkan kepada Asep terlebih dahulu.


" Sep, aku sudah memutuskan untuk turun sebentar melihat apa yang terjadi disana, sekiranya ada kesempatan aku akan membawa nenek ikut serta bersamaku, jadi aku titipkan baby Athala kepadamu." sambil menyerahkan baby Athala kepada Asep


Asep ingin mencegah apa yang menjadi keputusan Raya tapi dirinya sudah kehabisan kata-kata di dalam berdebat dengan wanita yang ada di hadapannya itu. Baru saja Raya berjalan beberapa langkah baby Athala menangis sangat kencang seolah-olah bayi mungil itu tidak rela jika ibunya pergi meninggalkan dirinya. Raya yang tidak tega meninggalkan anaknya menghentikan langkahnya lalu menengok kebelakang, melihat Asep yang kewalahan menenangkan baby Athala membuat batin Raya berkecamuk, Raya merasa dilema antara ingin melanjutkan perjalanan menuju kampung atau kembali menemui anaknya. Di tariknya nafas dalam-dalam dan di hembuskan secara perlahan.


Oke aku harus membuat pilihan yang tepat karena aku tidak mau menyesal di kemudian hari, sebaiknya aku kembali dulu untuk menyusui baby Athala sampai dia benar-benar kenyang setelah itu aku bisa meneruskan perjalanan menuju kampung.


Setelah mendapatkan keputusan Raya berjalan kembali menuju tempat dimana anaknya berada.


" Teteh kembali? " tanya Asep senang


" Iya Sep, aku tidak tega meninggalkan baby Athala terus menangis seperti itu terlebih kamu sendiri terlihat sangat kewalahan dalam menenangkannya." sindir Raya yang di lanjut dengan senyuman


" Iya teh, aku tadi sempat putus asa di dalam menenangkannya, tapi untungnya teteh kembali kalau tidak bisa jadi aku ikutan nangis bareng Athala." canda Asep membuat Raya tersenyum


" Kamu ini bisa saja, sini biar aku susui dulu baby Athalanya" Raya mengambil anaknya yang sedang di gendong Asep.


Segera Raya duduk dan menyusui anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang, sementara itu Asep terus mengawasi kampungnya dari tempatnya sekarang, beberapa saat dia terlihat ragu akan pandangannya itu terlihat dari dirinya yang selalu menggosok-gosok kelopak matanya, dia sangat berharap jika apa yang di lihatnya sekarang hanyalah halusinasinya saja. Di lihatnya Raya yang sedang menyusui anaknya.

__ADS_1


Teh Raya tidak boleh tahu apa yang sedang terjadi dengan perkampungan itu kalau tidak dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri, aku harus cari cara agar teh Raya tidak melihat perkampungan dari atas sini.


" Teh kayaknya kita harus pergi ke sebelah sana untuk mencari tempat berteduh malam ini, karena seingat aku disana ada gua kecil yang lumayan aman untuk kita tinggali sementara waktu." kata Asep tiba-tiba


" Buat apa kita tinggal di gua? malam ini kita bisa kok kembali ke perkampungan lagipula mereka pasti sudah pergi karena tidak bisa menemukanku disana." ujar Raya dengan optimis


" Kita malam ini sebaiknya jangan turun dulu, siapa tahu mereka masih menunggu teteh disana dengan menginap di rumah salah satu warga." Asep mencoba menjelaskan apa yang jadi pemikiran nya


Raya terdiam sesaat menimbang apa yang jadi pemikiran Asep, di lubuk hatinya membenarkan apa yang di katakan oleh remaja laki-laki itu, terlebih dia melihat putri cantiknya nampak tertidur pulas di pangkuannya merasa tidak tega jika buah hatinya harus tidur di alam terbuka tanpa adanya atap sebagai pelindung dari panas dan hujan.Akhirnya Raya mengikuti apa yang menjadi rencana Asep yaitu tinggal di dalam gua dan kembali di perkampungan esok harinya.


Merekapun melakukan perjalanan menuju gua yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat yang mereka tempati saat ini. Sesampainya di bibir gua Raya nampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


" Iya nih Sep, aku takut masuk ke gua yang gelap seperti itu terlebih aku membawa seorang bayi, bukan hanya takut akan adanya hantu melainkan hewan-hewan melata yang berbisa." jelas Raya


" Kalau begitu teteh duduk di luar sini dulu biar aku membuat api unggun di dalam gua itu"


" Memangnya kamu bisa sendiri? biar aku bantu ya" Raya mencoba menawarkan diri untuk memberi bantuan


" Tidak usah teh, InsyaAllah aku bisa lagipula aku sering tinggal di dalam gua ini bersama teman-teman sekolah. "


" Oh ya? pantas saja kamu terlihat sangat mengenal sekali lingkungan di sini ternyata kamu sering kemari." kata Raya sambil tersenyum

__ADS_1


" Eh iya teh " ucap Asep terlihat malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah selesai berbincang-bincang Asep langsung di sibukkan dengan mencari ranting pohon dan beberapa daun kering untuk membuat api unggun. Menunggu Asep menyelesaikan tugasnya, Rayapun menyenderkan tubuhnya di batang pohon yang besar, baru beberapa menit berada di sana mata Raya lambat laun mulai mengatup dengan sendirinya sampai pada akhirnya Raya tertidur pulas di bawah pohon besar sembari kedua tangannya menggendong buah hatinya.


Asep melihat wanita yang dia anggap sebagai kakaknya sendiri terlelap di bawah pohon hanya bisa tersenyum sambil menyemangati dirinya sendiri untuk segera menyelesaikan tugasnya membuat api unggun dan mengumpulkan beberapa jerami untuk bisa di buat alas tidur mereka bertiga.


Setelah semua pekerjaan nya selesai Asep membangunkan Raya dan menyuruhnya pindah ke dalam gua, di gua Raya nampak takjub dengan hasil kerja keras Asep dalam menyulap gua yang nampak mengerikan menjadi terlihat nyaman.


" Bagaimana teteh suka tidak?" tanya Asep penasaran dengan komentar Raya


" Aku suka banget Sep, kamu luar biasa bisa menjadikan gua ini terlihat nyaman untuk di tinggali." puji Raya kepada Asep yang membuatnya jadi salah tingkah.


Lambat laun matahari mulai terbenam Raya dan Asep masih bertahan di dalam gua, menunggu matahari terbit di keesokan harinya.


********


Esok hari pun tiba Raya dan Asep turun bukit menuju perkampungan, di sepanjang perjalanan Raya merasa gelisah dia mempunyai firasat yang sangat buruk tentang nenek Asih beserta warga di kampung itu. Raya berusaha untuk mengendalikan perasaan nya agar tetap tenang dan berpikiran positif thinking.


Setapak demi setapak mereka lalui dengan perasaan yang campur aduk sampai pada akhirnya mereka sampai di perkampungan. Alangkah terkejutnya mereka setelah menjumpai rumah warga banyak yang hangus akibat terbakar api.


Tanpa pikir panjang lagi Asep segera berlari menuju rumah bekas tempat tinggalnya dulu dengan nenek tersayang nya, dia berharap neneknya berada disana dalam kondisi selamat tanpa luka sedikit pun, tapi sayang angan-angan Asep pupus sudah tatkala dia menjumpai rumah tempat tinggalnya sudah rata dengan tanah.

__ADS_1


__ADS_2