
Kesepakatan yang mereka buat secara tidak langsung menjadikan hubungan keduanya semakin dekat dan semakin intim. Karena mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali Ruben selalu setia di samping Raya untuk merawat sekaligus menjaganya, dia selalu memastikan kondisi Raya baik-baik saja. Baik disini tidak cukup hanya baik fisik melainkan mental pun Ruben berusaha menjaganya, oleh sebab itu apapun yang Raya inginkan sekuat tenaga Ruben akan mengabulkannya tidak terkecuali menuruti ngidamnya Raya yang seringkali sedikit aneh, seperti Raya ingin makan gudeg yang ada di Jogja alhasil Ruben nekat terbang dari Batam ke Jogja hanya untuk membeli gudeg lantas kembali lagi ke Batam. Bukan hanya itu ketika Raya ingin menonton bioskop tapi dia tidak mau ada orang lain berada di sekelilingnya selain keluarga kecilnya, akhirnya Ruben dengan terpaksa menyewa ruang bioskop itu hanya untuk menyenangkan hati sang istri. Bukan hanya suaminya saja yang perhatian kepadanya bahkan adik iparnya pun ikut andil memperhatikan dan memanjakannya dengan cara membantu semua urusan rumah tangga mulai merawat anak-anak hingga membereskan rumah, di rumah itu Raya di perlakukan bak seorang ratu yang pekerjaannya hanya makan dan tidur saja. Sebenarnya Raya agak risih di perlakukan spesial hanya saja kedua kakak beradik itu terlalu keras kepala untuk di protes alhasil Raya hanya bisa pasrah sembari menikmati segala bentuk perhatian yang di suguhkan oleh kakak beradik itu.
Hari berganti hari hingga minggu berganti bulan kehidupan Raya di rumah suaminya terlihat sangat bahagia dan harmonis, hingga hal itu membuat Raya melupakan kesepakatannya dengan Ruben untuk segera berpisah setelah tiga bulan pernikahan.
Ruben yang mengetahui kontrak mereka telah berakhir sengaja tidak memberitahu Raya karena dia ingin bisa hidup seatap dengan Raya selamanya.
Tapi sayang harapan Ruben mendadak pupus tatkala Dion datang ke rumahnya untuk menagih kembali apa yang dulu pernah menjadi miliknya. Dion yang awalnya bahagia karena bisa bertemu sang kekasih hati langsung berubah menjadi murka setelah mengetahui jika Raya telah hamil tiga bulan. Dion yang tersulut emosipun langsung memukuli Ruben hingga babak belur, Raya dan Dea berusaha melerai hanya saja kekuatan mereka tak sanggup mengungguli Dion. Raya yang sudah putus asa sambil sesenggukan mencoba membujuk Dion untuk melepaskan Ruben.
" Mas aku mohon kepadamu sudah cukup memukulinya! Ruben bisa mati dan kamu juga bisa di penjara. Ini semua bisa di bicarakan baik-baik" ucap Raya dengan suara yang lembut
" Bagaimana bisa aku berbicara baik-baik jika orang yang paling aku percaya selama ini telah meniduri kekasih hatiku sampai hamil? " teriak Dion dengan tatapan beringas nya
Raya semakin bingung untuk membujuk Dion, pikirannya tidak bisa dia gunakan untuk berpikir karena dia benar-benar sangat cemas melihat kondisi Ruben yang bersimbah darah.
" Mas aku mohon hentikan! aku akan lakukan apa saja untuk menebus semuanya" kata Raya dengan nada agak meninggi
Mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Raya seketika itu juga Dion langsung melepaskan Ruben dan berjalan menghampiri Raya.
" Apakah benar perkataanmu itu Raya?" Dion mencoba memastikan
" Iya benar" sambil mengangguk
" Oke karena kamu sudah mengatakannya, sekarang aku minta kamu gugurkan bayi yang ada di perutmu itu!" sambil menunjuk ke arah perut Raya
__ADS_1
Spontan Raya menolak sambil melirik ke arah Ruben yang tergeletak lemas di lantai dan sedang di obati oleh Dea.
" Kenapa kamu tidak mau melakukannya? apa sebegitu cintanya kamu kepada Ruben hingga anaknya saja kamu tidak mau membuangnya?" Dion semakin emosi
" Aku tidak pernah mencintai Ruben hanya saja janin yang aku kandung adalah darah dagingku, jadi sangat mustahil bagiku membuangnya. Mas kamu tidak perlu repot-repot membujuk ku untuk menggugurkan nya karena setelah lahiran bayi ini akan aku serahkan kepada Ruben lalu kita bisa hidup normal seperti yang kita impikan selama ini" jelas Raya
" Apa benar yang kamu katakan? kamu masih mau hidup bersamaku?" tanya Dion kembali
" Tentu mas bukankah itu impian kita selama ini, mas kamu harus percaya laki-laki yang aku cintai hanya kamu seorang tidak ada yang lain" ucap Raya sambil membelai pipi Dion
" Jika hanya aku seorang, laki-laki yang kamu cintai kenapa kamu tega melakukannya dengan orang yang paling aku percaya?" Dion melepas tangan Raya yang berada di pipinya.
" Itu aku lakukan tidak lain hanya menggugurkan kewajibanku sebagai seorang istri, bukankah kamu tahu kewajiban seorang istri adalah melayani suami jika aku tidak melakukannya aku takut akan mendapat dosa. Dengan aku menikah secara kontrak saja itu sudah membuatku mendapatkan dosa karena aku telah mendustai arti dari pernikahan itu sendiri oleh sebab aku tidak mau mendapat dosa yang bertubi-tubi maka aku putuskan untuk melakukannya. Lagipula kita melakukannya hanya sekali percayalah. " Raya menerangkan semuanya dengan penuh kehati-hatian.
" Baiklah aku terima apapun yang kamu rencanakan, sekarang lebih baik kamu ikut aku ke apartemen! jika bayi ini sudah lahir aku bisa mengantarkannya kepada Ruben berikut surat cerai kalian" kata Dion
" Aku tidak setuju! " tiba-tiba Ruben angkat bicara walau dengan kondisi yang lemah
" Aku tidak perlu persetujuanmu" balas Dion cepat sambil memalingkan wajahnya.
" Tuan aku mohon beri aku waktu untuk menjaga Raya dan janin yang dia kandung, izinkan aku untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami" pinta Ruben
" Jangan berharap kamu bisa kembali hidup seatap dengan Raya, karena selamanya dia milikku" dengan suara penuh penekanan "Raya cepat kamu kemasi pakaianmu!" lanjutnya sambil memindahkan pandangannya yang awalnya ke arah Ruben kini ke arah Raya.
__ADS_1
Mendapat perintah dari Dion, Raya segera beranjak dari tempatnya lalu masuk ke dalam kamar guna mengemasi pakaiannya. Dea yang melihat kakak iparnya mengemasi pakaian segera mengahampirinya dan meninggalkan Ruben.
" Kak, jangan pergi dari sini! aku sangat sayang sama kakak." ucap Dea dengan tatapan sendunya.
Raya berhenti dari aktivitas mengemasi pakaiannya lalu berjalan perlahan mendekati Dea dan memeluknya.
" Maaf sayang kakak harus pergi, kamu jaga baik-baik kak Ruben ya! " sambil mengelus rambut panjang Dea
" Ada apa sih kak? kakak berantem sama kak Ruben? terus kak Dion kenapa sangat marah padahal selama ini dia sangat baik, aku jadi bingung sebenarnya ada apa?" tanya Dea dengan nada yang agak meninggi
Raya memegang pundak Dea "Dea jangan banyak mikir, karena masalah orang dewasa itu sangat rumit susah untuk dijelaskan, yang penting sekarang Dea harus bisa hidup bahagia seperti biasanya dan jangan pernah biarkan kak Ruben diam melamun sendirian ya!" kata Raya sambil tersenyum kecil
Ketika Raya dan Dea masih saling berbincang tiba-tiba Dion datang dan memaksa Raya untuk segera ikut dengannya.
" Sudah kamu tinggal saja barang-barang yang sekiranya tidak terlalu penting, karena kita bisa membelinya lagi. Sebaiknya kita harus segera pergi dari sini" ucap Dion dengan lantang
Dea yang sedari tadi tutup mulut kini berusaha memberanikan dirinya untuk berbicara.
" Kak Dion jangan bawa kak Raya! kak Dion tidak berhak membawanya pergi dari sini karena kak Raya masih istri sah kak Ruben"
" Dea sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang dewasa!" jawab Dion tegas
Merasa mantan suaminya akan kembali murka segera Raya mengajak Dion keluar dari rumah Ruben beserta anak-anaknya dengan membawa pakaian seadanya.
__ADS_1