Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Hasil pemeriksaan


__ADS_3

Di rumah sakit Dion yang di tinggal pergi oleh istrinya secara tiba-tiba, tidak bisa berkata apa-apa selain diam mematung di atas ranjangnya, dia merasa bingung dengan tingkah istrinya itu karena selama ini sang istri tidak pernah pergi ke suatu tempat tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya.


" Berani sekali Raya meninggalkan aku sendirian di sini tanpa menjelaskan dia mau pergi kemana, dengan siapa dan mau melakukan apa" Dion yang kesal mencengkeram kain sprei dengan eratnya. "Tunggu tadi Raya pergi terburu-buru ketika aku bercerita soal Rian yang mengatakan sesuatu, apa dia akan menemui Rian. Sialan aku harus menyusulnya." Dion berusaha mencabut jarum yang menempel di punggung tangannya, sebelum dia berhasil melakukan nya pintu kamar pun terbuka dan masuklah dua perawat dengan satu dokter di belakangnya.


" Apa yang anda lakukan?" salah satu perawat berlari menghampiri Dion untuk mencegah dirinya mencabut jarum infus yang melekat di punggung tangannya.


" Aku harus pergi dulu, ada suatu hal yang harus aku lakukan dan itu sangat penting" jelas Dion


" Maaf tapi anda tidak boleh meninggalkan ruangan ini sebelum anda dinyatakan sembuh oleh dokter, bukankah anda tadi meminta saya memanggil dokter neurologi terbaik di rumah sakit ini, sekarang saya sudah mendatangkannya untuk anda beliau adalah dokter Ramzi ahli neurologi terbaik di rumah sakit ini" sambil menunjukkan dokter yang berdiri tepat di sampingnya.


" Selamat sore saya dokter Ramzi, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Ramzi kepada Dion dengan nada suara yang ramah


Dion yang awalnya ingin pergi dari rumah sakit itu secara perlahan mengurungkan niatnya karena dia berpikir apa yang terjadi pada otaknyalah yang saat ini lebih penting dia ketahui, untuk urusan istrinya masih bisa dia lakukan nanti.


" Apakah anda benar-benar dokter yang ahli di bidang neurologi?" tanya Dion memastikan


" InsyaAllah " jawab dokter Ramzi dengan di barengi senyuman


" Baik kalau begitu saya percaya terhadap anda, sebelumnya saya mau bercerita tentang keluhan yang sedang saya rasakan saat ini, kepala saya mendadak sakit ketika mencoba untuk mengingat-ingat masa lalu, saya merasa kalau ada sebagian ingatan saya seperti hilang dan untuk mengingatnya saya merasa kesulitan bahkan saya tidak ingat kapan tepatnya ingatan itu mulai hilang dan bagaimana caranya sehingga ingatan itu hilang, apa saya pernah kecelakaan atau ada kejadian yang membuat saya trauma itu belum saya ketahui". Dion mencoba menjelaskan nya kepada dokter tentang apa yang sedang dia rasakan.


" Untuk mengetahui secara pastinya lebih baik kita melakukan serangkaian pemeriksaan terlebih dahulu apakah anda mau melakukannya?" tanya dokter Ramzi


" Iya saya mau melakukannya" jawab Dion dengan yakin


" Baiklah kalau begitu anda akan di bantu oleh suster ke ruangan saya, kita akan melakukannya di sana." dokter Ramzi mencoba menjelaskan

__ADS_1


Di ruangan yang telah di tentukan Dion melakukan berbagai pemeriksaan dengan hati yang berdebar-debar, di satu sisi dia ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya tapi di sisi lain dia takut tidak bisa menerima hasilnya. Walaupun demikian Dion berusaha membulatkan tekadnya untuk menerima apapun yang menjadi hasilnya agar dia bisa mengetahui apa yang salah pada tubuhnya. Setelah selesai melakukan berbagai pemeriksaan saatnya dokter memberitahukan hasilnya kepada Dion.


" Setelah saya melakukan pemeriksaan terhadap anda sekarang dapat di simpulkan bahwa anda menderita amnesia disosiatif. Amnesia disosiatif  tidak sama dengan jenis amnesia pada umumnya, yang melibatkan hilangnya informasi dari ingatan, akibat dari penyakit atau cedera pada otak. Pada amnesia disosiatif, ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat." jelas dokter Ramzi


" Jadi kemungkinan buat saya mengingat kembali sangat besar ya dok?" tanya Dion dengan semangat


" Iya benar, saran saya lebih baik meminta bantuan kepada keluarga anda agar ingatan anda bisa segera pulih. Karena saya yakin kalau keluarga anda mengetahui semua yang terjadi di masa lalu. Kalau boleh saya bertanya apa keluarga anda tidak pernah memberitahukan secara jelas masa lalu anda?" dokter Ramzi bertanya untuk memastikan


" Selama ini tidak ada yang berbicara tentang masa lalu saya, bahkan saya sendiri tidak pernah memikirkannya karena saya selalu berpikir ke depan bukan mengingat-ingat sesuatu yang sudah lewat, hanya saja saat ini saya menginginkan ingatan masa lalu saya kembali karena saya ingin memastikan tentang sesuatu." jawab Dion


" Dari cerita yang anda sampaikan, saya mempunyai dugaan bahwa penyebab anda menderita amnesia disosiatif mungkin karena anda mengalami kejadian yang membuat mental anda terganggu atau istilahnya anda mengalami trauma pada suatu peristiwa adapun keluarga anda tidak pernah menceritakannya menurut dugaan saya keluarga anda tidak mau jika anda mengalami traumatis berkepanjangan." dokter Ramzi mencoba menjelaskan apa yang menjadi analisanya


" Mungkin anda benar dok, saya pernah mengalami kejadian yang membuat psikis saya terganggu, sekarang yang harus saya lakukan adalah mencari orang yang mengetahui semua tentang masa lalu saya." kata Dion dengan sorot tajamnya.


" Baik dok, Terima kasih atas sarannya saya pamit dulu" Dion mengakhiri pembicaraannya dengan dokter Ramzi


"Ayo Sus antar saya kembali ke kamar" ajak Dion kepada suster yang berada di ruangan itu.


Dengan penuh kehati-hatian suster itu mendorong kursi roda Dion melewati lorong rumah sakitsakit. Setibanya di kamar, Dion teringat akan ponselnya kemudian dia bertanya kepada suster.


" Oh ya Sus, apa anda melihat ponsel saya?" tanya Dion


" Iya saya menyimpannya di ruang suster nanti akan saya ambil, maaf saya lupa tidak memberikan langsung kepada anda." suster menjawab dengan tergesa-gesa karena gugup


" Apa tadi anda juga yang menghubungi istri saya?" tanya Dion lagi

__ADS_1


" Iya benar, saya kira istri anda berhak tahu tentang kondisi suaminya, maaf kalau saya lancang." sambil menundukkan kepalanya.


" Tidak apa-apa justru saya berterima kasih karena sudah menghubungi istri saya, sekarang tolong anda ambilkan ponsel saya" perintah Dion dengan lembut


" Baik " suster itu pergi untuk mengambil ponsel Dion, dan segera kembali untuk menyerahkan ponselnya.


" Terima kasih Sus atas bantuannya, sekarang anda boleh meninggalkan kamar saya, saya bisa sendiri kalau untuk naik ke ranjang karena yang sakit kepala saya bukan kaki saya." canda Dion


" Ya sudah kalau begitu saya pamit keluar dulu, kalau anda butuh bantuan silahkan pencet tombol yang berada di samping kiri ranjang anda, permisi" suster pun berjalan pergi meninggalkan kamar Dion.


Melihat suster yang sudah hilang dari pandangannya, Dion segera menghubungi asisten kepercayaan nya yaitu Ruben, untuk segera menemuinya di rumah sakit. Setelah empat puluh lima menit Dion menunggu, akhirnya Ruben sang asisten sudah berada di hadapannya.


" Ada apa tuan muda memanggil saya?" tanya Ruben penasaran


" Aku baru saja di periksa dokter dan hasilnya aku menderita amnesia disosiatif, apa kau mengetahuinya?" Dion mengawali pembicaraan tanpa basa basi dan bertanya dengan tatapan khasnya yang tajam


Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh bos nya Ruben merasa kebingungan untuk menjawab.


" Maaf tuan sebenarnya saya sudah tahu dari awal karena nyonya muda yang memberitahukan nya." Ruben menjawab dengan perasaan yang cemas dan mata yang tidak berani menatap langsung ke arah bos nya itu.


" Apa? jadi selama ini Raya tahu dengan gangguan yang aku derita, kenapa dia merahasiakan itu semua dariku?" tanya Dion semakin penasaran


" Untuk alasan kenapa nyonya muda tidak memberitahu Anda saya tidak tahu, hanya saja dia menyuruh saya agar selalu berada di dekat anda dan selalu mengawasi apa saja yang Anda lihat, jika itu berkaitan dengan kekerasan s*ksual maka saya harus menghapus atau menghalangi Anda agar tidak melihatnya" jelas Ruben


Penjelasan yang Ruben berikan kepada Dion membuat dirinya mencoba berpikir keras sebenarnya rahasia apa yang di sembunyikan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2