Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Kecemburuan Raya


__ADS_3

Keesokan paginya Raya begitu sibuk mengurusi segala keperluan suaminya untuk meninggalkan rumah sakit, mulai dari merapikan pakaian hingga mengurusi biaya rumah sakit. Setelah semua sudah Raya selesaikan segera dirinya beserta suaminya meninggalkan rumah sakit tersebut menuju rumah yang selama ini mereka rindukan.


" Aku tidak sabar ingin segera sampai rumah, karena aku sudah sangat merindukan baby Atala, Kira-kira sekarang dia sedang apa ya?" Kata Raya sembari tangannya menopang dagu dan pandangannya mengarah keluar jendela mobil


" Kamu tidak bertemu Atala cuma satu malam saja kenapa sampai sebegitu rindunya? apakah kamu juga merindukan aku kalau kita terpisah hanya satu malam?" Dion bertanya sambil kepalanya dia letak kan ke pundak Raya


" Tentu saja, karena kamu suamiku orang yang harus aku cintai sampai ujung usiaku." jawab Raya yakin


" Apa kamu benar-benar jujur dengan ucapanmu? bukankah selama ini aku selalu.... "


Belum juga Dion menyelesaikan ucapannya Raya sudah menutup mulut Dion dengan jari telunjuknya " Hust! jangan lagi mengingat apapun yang sudah terjadi di masa lalu lebih baik kita fokus memperbaiki kesalahan dan terus berjalan ke depan biarlah masa lalu menjadi pembelajaran bagi kita agar tidak lagi mengulang kesalahan yang sama, benar kan?" Selesai mengucapkan kata-kata bijak seperti itu Dion langsung menarik punggung Raya agar bisa dekat dengan dirinya lalu tanpa izin lagi seperti yang dia lakukan di rumah sakit segera Dion menciumi bibir Raya tanpa merasa risih dengan sopir yang diam-diam sering curi pandang ke arah mereka berdua. Karena sudah di kuasai oleh hasrat yang ada di dalam hatinya Dion mulai melakukan hal-hal yang membuat Raya mengeluarkan suara-suara yang membuat orang yang mendengarnya merasakan sensasi fantasi di dalam otaknya tidak terkecuali sang sopir yang sudah tidak bisa lagi berkosentrasi di dalam mengendalikan laju mobilnya hingga pada akhirnya dia terpaksa melakukan rem dadakan agar penghuni kursi belakang menghentikan kegiatannya.


" Maaf tuan muda saya terpaksa melakukan rem dadakan karena saya sulit berkosentrasi." jelas Sopir dengan ucapannya yang terbata-bata


" Kamu bosan hidup ya? seenaknya bertindak tanpa adanya perintah dariku, lebih baik sekarang kamu tinggalkan mobil ini karena aku tidak mau mempekerjakan orang yang tidak profesional dan bertanggungjawab sepertimu" Dion berkata dengan sorot mata yang mematikan sehingga membuat lawan bicaranya merasa ketakutan.


" Mmamaafkan saya tuan" sopir itu dengan gagap mencoba untuk meminta belas kasihan dari majikannya


" Mas sebaiknya kontrol dulu emosi kamu, jangan buru-buru memecat, lagipula dia kan sudah lama ikut dengan mas, tolong pikirkan lagi!" Raya berusaha menangkan suaminya itu


" Tapi dia sudah tidak profesional, tindakannya itu bisa membahayakan kita, aku benar-benar tidak bisa mentolerin lagi."

__ADS_1


Melihat Dion yang masih di kuasai oleh api amarah, Raya mencoba meredamnya dengan cara memeluk dan berbisik di telinga sang suami. " Mas maafkan saja dia, aku takut kalau di pecat maka perbuatan kita tadi bisa saja di sebar luaskan, memangnya mas mau hal itu terjadi?" Setelah selesai membisikkan kata-kata yang membuat goyah hati suaminya Raya kembali duduk ke tempat semula. Dion mendengar apa yang di katakan istrinya mencoba berpikir sejenak.


" Karena kemurahan hati dari istriku kali ini aku maafkan, tapi ingat tidak ada lain kali, mengerti! "


" Baik tuan terimakasih atas kebaikan hatinya, sekarang apa boleh kita melanjutkan perjalanan lagi?" tanya sopir kepada majikannya dengan sedikit rasa takut


" Ya " jawab Dion singkat


Di dalam perjalanan kembali ke rumah, Dion yang awalnya sangat aktif menggoda istrinya kini berubah menjadi dingin, tidak ada sepatah katapun yang terucap di bibir pria itu hingga perjalanan mereka tiba di tempat tujuan. Begitu turun dari mobil banyak yang menyambut mereka mulai dari pelayan hingga Maya sang istri kedua.


" Sayang akhirnya kamu datang juga, bagaimana apa kamu sudah benar-benar sembuh sekarang? lebih baik kita masuk ke dalam yuk! aku sudah menyiapkan hidangan lezat yang pasti kamu akan menyukainya " tutur Maya panjang lebar di barengi tangannya yang merangkul lengan suaminya itu dan menuntun sang suami berjalan masuk ke dalam rumah


Raya yang melihat tingkah centil Maya merasa sangat kesal, dia begitu sangat terganggu dengan perhatian yang di berikan Maya kepada Dion.


" Bodo amat, sebaiknya aku pergi menemui baby Atala saja" ucap Raya lirih sambil berjalan melewati Maya dan Dion yang asyik bercengkerama di sofa yang berada di ruang tamu.


" Dasar lelaki tidak peka, aku kok merasa habis manis sepah di buang ya? lihat saja nanti kalau berani mendatangiku sambil merayu enggak bakalan aku merespon." gerutu Raya sampil memukul tangannya dengan tangan yang lain.


Dion yang melihat istrinya berlalu sambil menggerutu dengan wajah yang kesal hanya bisa tersenyum tipis.


Raya sebenarnya apa yang kamu pikirkan hingga merasa kesal seperti itu, tapi aku suka melihatnya karena kamu nampak imut.

__ADS_1


" Sayang apa yang kamu pikirkan? kok ketawa sendiri? ayo cerita! aku juga mau tahu apa yang kamu ketawakan, ayo dong please! " Maya merayu suaminya agar mau mengatakan apa yang dia pikirkan.


" Sudahlah itu tidak penting, oh ya bagaimana dengan keadaan bayi kita?" Dion mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Kamu tenang saja sayang bayi kita tumbuh dengan sehat kok, kamu pasti tidak sabar ya untuk melihat bayi ini lahir, aku yakin sekali jika bayi ini lahir dia akan menjadi anak yang paling bahagia di muka bumi karena bisa memiliki ayah yang tampan dan kaya, seperti kamu sayang." sambil memeluk Dion


Dion yang di peluk oleh Maya merasa sangat risih sehingga dia merengganggkan lengan Maya dengan perlahan sambil menurunkannya.


" Sayang kamu kenapa sih? enggak suka aku peluk? kamu harus ingat kalau aku ini sedang hamil anak kamu lo, jadi seharusnya kamu lebih memprioritaskan aku daripada yang lainnya karena mood seorang ibu hamil harus di jaga agar bayi yang di kandung bisa tumbuh dengan sehat dan sempurna." celoteh Maya dengan manjanya


" Iya maafkan aku, lain kali aku akan lebih perhatian sama kamu dan anak kita, sekarang aku mau masuk ke dalam kamar dulu karena tubuhku masih butuh banyak istirahat." jelas Dion


" Ya sudah kalau begitu aku ikut kamu ke kamar biar aku bisa memijat, bukankah kamu sangat menyukai pijatanku?"


Sebenarnya Dion enggan mengizinkan Maya memasuki kamarnya, tapi karena Maya yang sedang hamil anaknya akhirnya Dion berusaha menjaga mood Maya agar tetap stabil.


" Baiklah kamu boleh ikut tapi ingat jangan sampai berisik!"


" Baik" jawab Maya antusias sambil berjalan di belakang Dion dengan riangnya.


Raya yang mengintip dari jendela kamar bayinya, melihat suami dan madunya memasuki kamar secara bersamaan membuat dirinya benar-benar sangat kesal, secara tiba-tiba muncul ide di kepalanya untuk membalas perbuatan suaminya yang tidak peka beserta madunya yang super duper centil.

__ADS_1


" Lihat saja pembalasan dariku wahai penghuni kamar depan." Kata Raya sambil menyeringai


__ADS_2