
Rasa rindu yang berkecamuk di dalam hati Dion membuatnya menepiskan semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, dia sudah tidak peduli lagi akan hal itu, di pikirannya hanya tersirat bayangan istrinya yang sedang menunggu dirinya untuk menelepon. Tapi sayang mau segimana kerasnya Dion untuk menelepon tetap saja ponselnya tidak bisa terhubung dengan ponsel milik istrinya.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Raya, apa dia benar-benar marah padaku sehingga mematikan ponselnya, atau dia sedang mendapatkan masalah. Sebaiknya aku telepon Maya saja, tapi larut malam seperti ini apa dia masih terjaga.
Dion pun menelepon Maya dan dia bertanya kemana perginya Raya kenapa tidak bisa di hubungi, Maya pun bercerita kalau Raya sudah meninggalkan rumah dan pergi dengan kekasihnya waktu kuliah dulu, Dion yang tidak percaya langsung marah terhadap Maya sambil mengancam akan menghukumnya jika sudah kembali. Ruben yang terbangun karena mendengar suara ribut yang di timbulkan oleh Bosnya hanya bisa terdiam sambil memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan jika bos nya menanyakan sesuatu tentang kepergian Raya.
" Aku tidak percaya jika Raya meninggalkan rumah dengan laki-laki lain, pasti terjadi sesuatu sama dia, sebaiknya aku segera pulang untuk memastikan semuanya" ucap Dion setelah memutus sambungan telepon nya
Ruben yang tahu akan kegalauan hati bosnya segera berjalan mendekatinya dan bertanya apa yang harus dia lakukan untuk membantunya.
" Pesankan tiket pesawat ke Jakarta buat besok pagi, aku mau memastikan bahwa Raya baik-baik saja di sana" perintah Dion kepada Ruben
" Baik tuan muda " kata Ruben sambil menundukkan kepalanya
" Oh ya Ruben, apa ada hal buruk yang terjadi di saat aku berada di sini, kenapa aku merasa sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku." tanya Dion dengan penuh kecurigaan
Ruben yang pada dasarnya tidak bisa kalau harus membohongi bosnya dengan terpaksa akhirnya menceritakan semua yang dia ketahui, mulai dari Raya yang di usir oleh Maya, hingga Maya yang berusaha untuk menguasai seluruh harta Dion. Dion yang mendengar semua penjelasan dari Ruben langsung naik pitam, dirinya yang sudah di kuasai oleh amarah hampir saja memukul Ruben karena merasa kesal telah di bohongi.
" Aku tidak habis pikir jika kamu bisa menipuku padahal aku sangat mempercayaimu Ruben, kenapa kamu rahasiakan masalah sebesar ini haah?" tanya Dion dengan suara yang menggelegar
" Maafkan saya tuan, saya tidak berani bercerita karena melihat kondisi tuan muda yang belum terlalu pulih, saya takut jika bercerita hanya akan membebani pikiran tuan muda." jelas Ruben sambil tertunduk lesu
__ADS_1
" HAaahhh" teriak Dion sambil membanting vas bunga yang ada di meja
Aksi Dion mengundang perhatian banyak orang yang tidak sengaja mendengar keributan di dalam kamarnya, pintunya pun di ketuk berulang kali oleh seseorang, Ruben yang mendengar ketukan itu segera membukanya.
" Selamat malam saya keamanan rumah sakit ini, mau bertanya apa yang sedang terjadi di dalam sana sehingga membuat keributan yang mengganggu pasien lainnya." tanya security
" Maaf pak atas suara gaduh yang kami timbulkan, itu tadi saudara saya sedang tertekan sehingga dia tidak bisa mengontrol emosinya, tapi semua sudah saya atasi jadi bapak tidak perlu khawatir karena kami tidak akan mengulanginya lagi" kata Ruben sambil menundukkan kepalanya
" Yasudah kalau tidak terjadi apa-apa tapi jika nanti butuh bantuan silahkan hubungi kami" kata security itu sambil pamit dan meninggalkan Ruben yang masih berdiri di depan pintu.
Setelah urusannya selesai Ruben segera masuk ke dalam kamar dan mencoba menenangkan bosnya yang masih terlihat sangat kesal kepadanya.
" Aku tidak menyalahkanmu hanya saja aku merasa menyesal telah meninggalkan Raya sendirian di rumah bersama wanita siluman seperti Maya, aku tidak akan pernah memaafkan Maya jika terjadi sesuatu terhadap Raya dan anaknya." Sorot mata Dion benar-benar terlihat sangat mengerikan bagi orang yang melihatnya.
" Bagaimana kalau tuan istirahat terlebih dahulu biar besok mempunyai banyak energi untuk membereskan semua masalah ini." saran Ruben
" Kamu kira aku bisa istirahat dengan tenang jika pikiranku selalu tertuju ke Raya, bagaimana kabarnya sekarang apa dia baik-baik saja dan bagaimana juga kabar baby Athala, apa mereka sudah makan apa mereka bisa tidur dengan pulas, aaaahh ini membuat aku gila" sambil mengacak rambutnya
" Tenang tuan aku yakin sekali kalau nyonya muda akan baik-baik saja karena nyonya muda wanita yang tangguh dan pemberani." Ruben berusaha menenangkan tuannya
" Iya kamu benar sekali, Raya wanita yang tangguh aku yakin dia bisa bertahan di luar sana, tapi tetap saja dia membutuhkanku untuk menolongnya, apa menurut kamu lebih baik aku menunggu di bandara saja, atau kalau perlu aku paksa mereka menerbangkan pesawatnya sekarang juga aku akan membayar berapapun yang mereka mau." ujar Dion dengan semangat
__ADS_1
Ternyata tuan muda bisa juga menjadi seperti anak kecil yang takut kehilangan sesuatu yang dia sukai, apakah aku akan menjadi seperti ini bila jatuh cinta nanti, ah apa yang aku pikirkan? harusnya aku fokus menjaga tuan muda.
" Ruben kayaknya aku adalah orang kaya yang kolot karena tidak mempunyai private jet, seharusnya aku memilikinya agar memudahkanku jika mau terbang kemana saja." keluh Dion tiba-tiba
" Bukankah dulu tuan pernah bilang kalau hal seperti itu tidak penting, karena itu termasuk pemborosan." jawab Ruben
" Itukan pemikiranku dulu beda sama sekarang, aku yang dulu hanya bisa berpikir tentang kerja dan kerja tanpa memikirkan untuk membeli suatu barang yang berharga." jelas Dion sambil beranjak dari sofa.
Ruben yang melihat Dion berdiri sambil berjalan menuju ranjangnya segera memapah bosnya tanpa harus di perintah dan mendudukkannya di atas ranjang secara perlahan.
" Terima kasih Ruben atas bantuannya sebaiknya kamu kembali beristirahat karena sekarang sudah jam satu dini hari, bukankah besok akan menjadi hari yang melelahkan buat kamu."
" Tuan muda tenang saja saya sudah cukup beristirahat tadi, sekarang lebih baik tuan muda yang beristirahat kerena tuan muda terlihat sangat kelelahan." tutur Ruben
" Seperti yang aku katakan dari awal jika malam ini sepertinya aku tidak bisa tertidur karena terus memikirkan nasib Raya beserta anaknya." ujar Dion sambil menyenderkan punggungnya di bantal dalam posisi terduduk.
" Jika tuan malam ini mau terus terjaga saya bisa menemani karena saya sudah terlalu capek untuk tidur kembali."
" Terserah kamu saja jika kamu mau menemani tolong jangan berisik. " kata Dion sambil memainkan ponselnya
Beberapa menit kemudian Ruben yang sedang sibuk dengan ponselnya sesekali melirik ke arah tuan mudanya untuk memastikan jika tuannya baik-baik saja tapi kali ini Ruben di bikin terkejut karena sang tuan muda sudah tertidur pulas di ranjangnya sambil membiarkan ponselnya terus menyala memutar sebuah video.
__ADS_1