Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Penantian yang tak sia-sia


__ADS_3

Sebuah kejadian yang paling di takuti kini akhirnya terjadi, angan-angan yang terlanjur membumbung tinggi harus hancur oleh sebuah kenyataan yang tak bisa di pungkiri, dan kini hanya tersisa rasa sakit di dalam hati bagaikan tersayat belati.


Rasa sakit itu telah menjalar ke seluruh urat nadi Ruben, saking besarnya rasa sakit yang dia derita hingga membuatnya kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan. Hari-hari dia lalui hanya dengan terdiam dan menatap kosong ke arah jendela, seakan-akan dia berharap jika suatu saat nanti orang yang paling di cintainya akan hadir dan berdiri tepat di hadapannya.


" Kak ini aku bawakan sop ikan patin kesukaan kakak, rasanya enak lo di jamin kakak pasti akan menyukainya" ucap Dea sambil memegang mangkok berisi sop. "Kak aku suapin ya?" lanjutnya


" Aku tidak mau apa-apa, yang aku inginkan hanya Raya" balas Ruben dengan tegas


" Tapi kak Ruben belum makan sudah hampir dua hari ini, aku sangat khawatir kalau kakak tidak akan sanggup bertahan lama karena tubuh kakak tidak kemasukan makanan sedikitpun" Dea terus berusaha membujuk Ruben.


" Kamu tenang saja aku masih kuat kalau hanya untuk berjalan dan melakukan kegiatan lainnya, lagipula aku tidak merasa lapar sama sekali " jawab Ruben


" Kak ayo dong jangan bikin aku khawatir, bibir Kakak sangat pucat" Dea berbicara sambil meneteskan air matanya.


" Kenapa kamu jadi menangis? tidak ada yang perlu di khawatirkan, Kakak baik-baik saja" sambil mengusap pipi adiknya.


" Aku menangis karena merasa iba melihat kondisi kakak seperti ini, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian hanya saja aku merasa kalau kakak itu bodoh, kenapa kakak hanya diam saja ketika kak Dion membawa kak Raya padahal dia masih istri sah kakak! Kakak itu pengecut, jika kakak cinta sama kak Raya seharusnya sekarang kakak merebut kembali kak Raya dari tangan kak Dion bukan hanya terpaku disini saja" Kata Dea dengan menggebu-gebu.


Sambil melepas napas kasarnya Ruben menjawab "Memang saat ini Raya masih istri sah kakak tapi sebentar lagi dia akan menjadi milik tuan muda karena masa kontrak pernikahan kami telah usai".


Mendengar penjelasan dari kakaknya, Dea menjadi tambah bingung "Aku tidak mengerti apa yang kakak bicarakan, kenapa kakak mau bercerai jika kalian saling mencintai?" tanya Dea penasaran.


Ruben menanggapinya dengan tertawa penuh kegetiran "Kamu pikir Raya selama ini mencintaiku? kamu salah! Raya sama sekali tidak pernah mencintaiku, hanya aku yang mencintainya dengan sangat tulus. Karena rasa cinta yang besar di dalam hatiku inilah membuatku sangat lemah seperti ini" Ruben mulai menitikkan air matanya.


Hati Dea semakin hancur melihat kakaknya menangis tidak berdaya, dengan segera di peluknya kakak semata wayangnya itu.


" Apa benar kak Raya tidak pernah mencintai kakak? padahal selama ini aku melihat kalau tatapan matanya seperti mengisyaratkan ada rasa kagum di hatinya" jelas Dea


" Iya benar semua yang di katakan Dea"

__ADS_1


Suara yang sangat familiar di telinga Ruben, membuat hatinya berdesir seketika, dengan cepat di arahkan pandangannya ke arah sumber suara itu.


" Raya? apa benar itu kamu?" ucap Ruben tidak percaya


" Iya mas ini aku, aku kembali bersama anak-anak" sambil tersenyum manis


Tanpa mengulur waktu lagi, segera Ruben berlari ke arah Raya dan memeluknya dengan sangat erat.


" Raya aku sangat merindukanmu, benar-benar sangat merindukanmu" ucap Ruben dengan penuh kebahagiaan. "Oh ya kenapa kamu bisa kembali? apa yang terjadi? apa tuan muda menyiksamu?" tanya Ruben khawatir


" Semua baik-baik saja, mas Dion sama sekali tidak menyiksaku justru dialah yang menyuruhku untuk kembali dan membatalkan perceraian kita, dia juga merobek surat kontrak yang sudah kamu tanda tangani bersamanya" jelas Raya dengan tenang


" Apa? itu tandanya tuan muda merestui hubungan kita?" tanya Ruben memastikan seolah-olah dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Iya mas Dion sudah merestui hubungan kita" jawab Raya dengan penuh kepastian


" Sudah cukup kak pertanyaannya biarlah kak Raya istirahat terlebih dahulu nanti bisa di lanjut lagi" sela Dea sambil menghampiri kakak iparnya


" Apa kabar kak Raya aku senang sekali kakak bisa kembali lagi ke rumah ini, sini kak biar Dion aku yang menggendongnya"


" Alkhamdulilah aku baik-baik saja, terima kasih Dea kamu sudah menjaga kakakmu dengan baik. Sekarang giliran kakak yang akan merawatnya" sambil tersenyum


" Ok deh kak! sekarang aku ajak anak-anak main di luar ya"


Setelah kepergian Dea, Raya memapah Ruben untuk masuk ke dalam kamar dan mendudukkan nya di atas ranjang.


" Baru aku tinggal beberapa hari saja kamu sudah kurusan, memangnya sampai sebegitu pengaruhnya kepergianku hingga membuat kamu tidak mau makan lagi?" tanya Raya dengan nada bercanda


" Raya kamu adalah seseorang yang sangat berharga di dalam hidup aku jadi sangat jelas jika kamu pergi maka hidupku akan hancur" jelas Ruben dengan penuh kesungguhan

__ADS_1


" Husstt!" sambil meletakkan telunjuknya di tengah bibir Ruben "Kamu jangan bicara seperti itu, sekarang sudah ada aku disini" lanjutnya sambil tersenyum


Senyuman Raya begitu indah di mata Ruben, senyuman itu bagai sihir yang membuat Ruben tak kuasa menahan gejolak yang ada di hatinya. Kegelisahan itu tak mampu dia sembunyikan dari Raya.


" Ada apa? " tanya Raya dengan tatapan lembutnya


" Aku merindukanmu Raya, aku ingin" Ruben tidak melanjutkan perkataannya


" Katakan saja apa yang kamu inginkan?"


" Sudahlah tidak perlu di lanjutkan tidak penting, sebaiknya kamu istirahat saja dulu" lanjut Ruben sambil beranjak dari ranjang.


Di raihnya tangan sang suami, lalu Raya berdiri dan mencium bibir Ruben secara tiba-tiba.


" Raya apa yang kamu lakukan?" tanya Ruben bingung dengan sikap Raya


" Mulai hari ini aku seutuhnya milikmu, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita kecuali kematian" jelas Raya dengan senyum manisnya


" Benarkah? bagaimana bisa? kamu benar-benar membuatku bingung Raya, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dengan tuan muda?"


Raya tidak segera menjawab pertanyaan dari sang suami dia malah merangkul leher Ruben dengan kedua lengannya. "Tidak perlu terburu-buru aku pasti akan menceritakan semuanya, yang terpenting sekarang kamu makan dulu kemudian bersih-bersih supaya wangi kalau sudah wangi kita bisa lanjut ke atas ranjang, bagaimana kamu setuju?" tanya Raya manja


" Hanya kamu yang bisa mengendalikanku Raya, aku tidak sanggup untuk menolak apapun yang kamu perintahkan, bahkan untuk loncat dari atas gedung mungkin aku akan lakukan asal kamu bahagia "


" Jangan bicara sembarangan! kalau kata orang Sunda itu pamali, sudahlah jangan di lanjutkan lagi, lebih baik kamu makan dulu biar nanti bisa kuat bertarungnya" ucap Raya dengan wajah merona


" Baik aku akan makan asalkan kamu memberiku izin untuk mencium bibir manismu itu" bisik Ruben


Raya mengangguk pelan, dengan senyum lebarnya Ruben langsung menggigit bibir indah istrinya dan menikmati suasana yang tercipta saat ini.

__ADS_1


__ADS_2