
6 bulan kemudian
Usia kandungan Raya yang sudah masuk Tri semester akhir menandakan jika tidak membutuhkan waktu lama buah hati yang selalu di nantikan segera hadir di tengah-tengah mereka. Sudah banyak yang Raya dan Ruben persiapkan untuk menyambut kedatangan sang buah hati mulai dari mendekorasi kamarnya hingga membeli segala perlengkapan baby. Ruben yang baru masuk ke dalam tahap calon ayah merasa sangat antusias sekaligus cemas jika dirinya belum cukup siaga di dalam menjaga istrinya melahirkan kelak.
" Sayang kata dokter perkiraan baby kita akan lahir satu minggu lagi, lebih baik mulai sekarang aku terus menjaga kamu kemanapun kamu pergi ya?, urusan mini market sepenuhnya akan aku serahkan kepada Dea, dan urusan anak-anak nanti aku carikan babysitter untuk menjaga mereka. Menurut mu bagaimana?" tanya Ruben sembari mengelus perut Raya yang sudah membesar.
" Mas jangan terlalu khawatir seperti itu, bayi mau keluar ada proses panjangnya lo...,mulai dari pembukaan satu sampai sepuluh, jadi intinya nanti kalau aku sudah merasa mau melahirkan pasti segera aku menghubungi mas. Pokoknya mas jangan khawatir aku akan baik-baik saja, lagipula ini adalah pengalaman kedua aku" jawab Raya meyakinkan
" Tetap saja aku merasa tidak tenang, pokoknya kamu tidak boleh membantah lagi karena aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu" Ruben semakin gigih dengan keputusannya
" Yasudahlah terserah mas saja, aku besok rencananya mau ke pasar membeli beberapa sayuran dan buah karena kebetulan stok di kulkas sudah habis, memangnya mas yakin mau mengantar aku ke pasar induk?" tanya Raya dengan nada yang sedikit meremehkan
" Loh bukannya itu sudah menjadi tugasnya Dea? Kenapa kamu yang harus ke pasar? "
" Dea besok mau ke posyandu mengantar Dion kecil untuk vaksin, pulangnya pasti siang jadi aku yang akan belanja keperluan dapur menggantikan Dea lagipula aku bosan jika tiap hari harus diam di rumah, sedangkan tugas mas Ruben adalah bantu Dea buka minimarket, oke!" Sambil memberi isyarat dengan jarinya.
" Kenapa jadi begini? aku tidak mau, pokoknya aku mau mengantar kamu ke pasar induk titik" Dion masih bersikeras dengan keinginannya.
" Mas jangan berlebihan dong! kalau mas mengantar aku ke pasar induk nanti siapa yang buka minimarket? aku tidak mau mas Ruben jadi sosok yang tidak bertanggungjawab dengan pekerjaan" Balas Raya dengan nada agak tinggi karena kesal.
Ruben yang mengetahui mood istrinya berubah menjadi jelek akhirnya berusaha untuk mengalah.
" Yasudah kalau itu memang menjadi keputusan mu, mas akan ikutin semuanya. Tapi ingat kamu harus extra hati-hati ketika berada di pasar! Jangan sampai terjadi sesuatu sama kamu dan calon bayi kita, pokoknya kamu harus menelepon aku kalau sudah sampai di sana biar aku bisa tenang melepaskan kamu sendirian jalan-jalan di kerumunan banyak orang" Celoteh Ruben
" Iya sayang tenang saja aku akan telepon kamu begitu sudah sampai di sana, kalau perlu aku video call biar kamu bisa melihat setiap gerak gerik ku, bagaimana?" tanya Raya dengan manja
__ADS_1
" Kalau itu aku setuju banget, pokoknya besok jangan lupa menelepon setelah sampai ya sayang! Sekarang sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu biar besok ketika bangun tubuh kita sudah fresh" Sambil membaringkan tubuh istrinya lalu mencium kening nya. "Selamat malam sayang" Setelah mengucapkan kata selamat malam Ruben pun membaringkan tubuhnya tepat di samping Raya sembari tangan kiri nya mematikan lampu tidur.
Keesokan paginya Raya yang sudah bersiap-siap mau pergi ke pasar tidak lupa untuk mengingatkan Dea apa saja yang harus di bawa ketika pergi ke posyandu. Usai mengingatkan Dea, Raya pun menemui suaminya untuk berpamitan.
" Sayang kamu yakin tidak mau aku antar? Aku sangat khawatir" Ucap Ruben sambil memegang tangan Raya
" Mas jangan overthinking! InsyaAllah aku baik-baik saja, sekarang aku pamit dulu" Balas Raya sambil mencium punggung tangan suaminya.
Ruben hanya bisa memandangi kepergian istrinya dengan tatapan nanar penuh kekhawatiran.
Semoga Raya baik-baik saja dan tidak terjadi suatu hal yang tidak di inginkan.
Ruben pun memalingkan pandangannya setelah sang istri hilang di balik pintu kemudian ia pun kembali sarapan. Di sisi lain Raya yang sedang naik angkot merasa perutnya sesekali mengencang.
Sepertinya perutku sedang mengalami kontraksi, bagaimana ini? Apakah aku lanjut ke pasar atau ke rumah sakit ya? Tapi pembukaan satu sampai ke sepuluh biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk menunggu pembukaannya sempurna lebih baik aku belanja dulu saja lagipula kontraksinya belum terlalu intens. Batin Raya
" Hai sayang kamu sedang apa?" tanya Raya
" Ini aku lagi mengecek ketersediaan barang, oh ya kenapa kamu terlihat sedikit pucat? Kamu tidak enak badan?" tanya Ruben balik
" Kata siapa aku tidak enak badan, justru aku lagi semangat nih buat belanja, sekarang aku mau beli beberapa sayuran, kamu tetap stay di sana ya! Jangan berisik kalau enggak aku matiin" ancam Raya dengan manja
" Iya iya sayang" jawab Ruben
Raya pun memulai membeli beberapa sayuran sambil menawar harganya, ketika sedang asyik berbelanja tiba-tiba perut Raya semakin terasa sakit dan kali ini dia sudah tidak bisa lagi menahannya hingga beberapa orang yang melihat Raya terkulai lemas sambil terlihat kesakitan langsung menolongnya.
__ADS_1
" Mbak kenapa?" tanya salah satu pengunjung
" Sepertinya saya mau melahirkan, tolong bawa saya ke rumah sakit terdekat" jawab Raya sambil menahan rasa sakit
Ruben yang mengetahui kondisi istrinya lewat video call merasa panik sekaligus khawatir tanpa berlama-lama ia pun berniat menyusulnya, mini market yang sedang dia buka langsung di tutupnya, para karyawan di suruhnya pulang lebih awal. Setelah itu dengan rasa panik di hati pergilah ia menggunakan mobilnya untuk menyusul sang istri ke rumah sakit.
Di rumah sakit Raya masih melakukan video call dengan suaminya, dia berusaha untuk tetap bersikap tenang agar sang suami tidak terlalu khawatir padanya.
" Mas aku dalam kondisi baik kamu kesininya jangan terburu-buru santai saja ya! aku akan menunggumu datang dan sama-sama nanti kita menyambut kehadiran Ruben junior" ucap Raya sambil tersenyum
" Iya sayang kamu yang sabar ya!, sebentar lagi aku akan menemanimu menyambut anak kita. Kalau begitu aku matikan dulu teleponnya, bye! " balas Ruben sambil mematikan sambungan telepon.
Raya merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan melahirkan buah hati tercintanya di temani oleh sang suami. Detik demi detik dia lewati bahkan hampir satu jam dia menunggu tapi sang suami tidak kunjung datang.
" Dok, apakah suami saya sudah datang? Saya benar-benar sudah tidak sanggup menunggu nya lebih lama lagi karena bayi ini terus saja menekan ke bawah.. Arrghhh... " tanya Raya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa
" Belum ada laki-laki yang berkunjung ke ruangan ini, saran saya lebih baik kita segera keluarkan bayi itu! Karena pembukaannya sudah sempurna" ujar dokter
" Tidak aku tidak mau melahirkan sebelum ayah dari anak ini datang " teriak Raya yang semakin merasakan sakit di bagian perutnya
" Anda tidak boleh keras kepala! Karena ini akan sangat berbahaya bagi sang bayi" dokter berusaha meluluhkan hati Raya
" Tidak dok tidak, aku akan berusaha bertahan sampai ayah dari bayi ini datang" ucap Raya mantap
Tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan napas yang tersengal-sengal.
__ADS_1
" Maaf aku terlambat"
Raya terbelalak karena yang datang Dion mantan suaminya bukan sang suami yang sedang di nantikan nya.