
Satu bulan sejak kejadian penembakan di lakukan oleh Darwin, yang menyebabkan Asep harus terbaring di rumah sakit selama dua minggu serta Raya yang harus mengikhlaskan indra penglihatannya yang tidak berfungsi lagi.
Kini kedua orang tersebut telah keluar dari rumah sakit dan tinggal di apartemen milik Sophia yang letaknya berdekatan dengan unit apartemen milik Rian.
Raya yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri mulai melakukan kegiatan kesehariannya sebisa mungkin tidak melibatkan orang lain yang berada di dekatnya, mulai dari merawat Athala hingga urusan rumah tangga lainnya. Sedangkan Sophia kembali lagi menjadi wanita karir dan Asep sendiri sudah kembali ke sekolah tapi tidak kembali ke Jawa Barat melainkan sekolah di Jakarta dengan dalih dia ingin terus merawat Raya karena bagaimanapun juga Raya menjadi seperti ini semua itu akibat kelalaian Asep.
Sedangkan Darwin sang penembak oleh pengadilan negeri telah di jatuhi hukuman mati dengan tuduhan penghilangan nyawa, pembakaran rumah, penculikan, dan tindak pelecehan, Darwin sendiri tidak melakukan perlawanan justru dia mengakui semua kesalahannya ketika Jaksa penuntut membacakan kasusnya, hal itu dia lakukan sebagai bentuk penyesalan karena sudah membuat Raya harus kehilangan penglihatan akibat kesalahannya, bahkan dengan sengaja dia mengucapkan permintaan maaf kepada Raya yang saat itu tidak bisa datang ke pengadilan.
Raya yang masih di rawat di rumah sakit kala itu mendengar cerita dari Rian yang baru saja menjadi saksi di persidangan merasa terharu sekaligus sedih karena bagaimanapun juga dia merasa iba karena Darwin yang mati-matian di dalam memperjuangkan kebebasan Maya yang sedang mengandung anaknya harus berakhir dengan tragis.
Kini yang bisa Raya lakukan setiap satu minggu sekali hanya menjenguk Maya di dalam tahanan, walau awalnya Maya mengabaikannya tapi lambat laun Maya mau berdamai dengan Raya.
" Maya jika ada yang mau kamu makan beritahu aku, insya Allah akan aku bawakan di kunjungan berikutnya " ucap Raya sambil tersenyum
" Kamu ini terlalu naif dan sok baik Raya, kamu kan tahu kalau aku ini selalu berbuat jahat padamu tapi kenapa kamu balas dengan kebaikan? atau jangan-jangan ini sebagai bentuk rasa bersalah kamu karena membuat ayah dari bayi yang aku kandung mendapat hukuman mati?" tanya Maya sambil memicingkan matanya
" Jujur aku memang menginginkan hukuman yang berat untuk Darwin tapi bukan hukuman mati yang aku inginkan, melainkan hukuman penjara yang cukup lama agar dia bisa jera. Kamu benar semenjak aku tahu Darwin dieksekusi, setiap hari aku di hinggapi rasa bersalah karena telah memisahkan ayah dengan calon anaknya."
" Jadi itu yang kamu pikirkan? kalau kamu merasa bersalah terhadapnya seharusnya kamu penuhi harapannya untuk membebaskan aku dari penjara! " ucap Maya dengan nada tinggi
__ADS_1
" Maaf aku tidak bisa melakukan itu, karena Dion yang sudah melaporkanmu maka harus dia pula yang mencabut laporannya, tapi sayangnya untuk saat ini tidak ada yang mengetahui pasti dimana Dion berada termasuk kaki kanannya yaitu Ruben"
" Bohong kamu! mana mungkin Dion pergi begitu saja tanpa adanya pesan lagipula untuk apa dia pergi?" tanya Maya dengan tidak percaya
" Sebelum kepergiannya kami sempat bertengkar lumayan hebat sampai pada akhirnya aku pergi meninggalkannya, mungkin itu salah satu penyebab kenapa dia pergi meninggalkan kami tanpa ada pesan." jelas Raya
" Mana mungkin Dion sebegitunya patah hati setelah bertengkar denganmu, aku yakin sekali kalau dia pergi ada alasan yang lebih besar lagi" Maya memberikan penilaian nya
Maya ada benarnya mungkin saja dia pergi karena ada alasan yang lebih besar lagi dan bukan hanya sekedar patah hati akibat bertengkar dengan pasangannya, lalu alasan apa itu? sepertinya aku harus menyelidikinya, akan aku mulai penyelidikan ini dari rumah Dion.
" Maya aku pamit dulu karena jam besuk nya sudah habis, Terima kasih atas masukannya" setelah menyelesaikan kalimatnya Raya segera mengambil tongkat yang ada di meja dan menggunakan tongkat itu sebagai penunjuk jalan
" Raya apakah kamu baik-baik saja?" tanya Sophia memastikan, sambil tangannya menuntun Raya untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah duduk di dalam mobil Raya baru menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
" Tenang aku baik-baik saja, Maya sekarang sudah berubah dia tidak lagi acuh terhadapku, bahkan sekarang dia banyak bercerita, dan ceritanya itu menginspirasiku untuk bisa menemukan keberadaan Dion" Raya bercerita dengan semangat
" Maksud kamu? kamu mau mencari Dion? kamu jangan bercanda deh Raya! dia itu pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, jadi bagaimana cara kamu buat menemukannya?"
__ADS_1
" Aku akan mulai mencari jejak dari rumah Dion, lalu ke Padang untuk menemui Tiara" jelas Raya dengan penuh percaya diri
" Enggak!!! aku tidak setuju jika kamu mencari laki-laki plin plan dan impulsif seperti dia" cegah Sophia dengan nada suara tinggi
Mendengar nada suara Sophia yang terkesan sedikit membentak membuat Raya syok hingga membuat dirinya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, menyadari dirinya sedikit kelewatan Sophia segera meminta maaf.
" Maaf aku tidak bermaksud melarang kamu untuk menemui suamimu hanya saja aku merasa bahwa lelaki seperti itu tidak pantas untuk dicari mengingat dia sering sekali menyakiti perasaanmu." sambil pandangannya sesekali dia arahkan ke wajah lesu perempuan yang berada di sampingnya.
" Terima kasih Sophia kamu telah perhatian terhadapku tapi aku mohon kamu jangan terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga ku karena bagaimanapun juga aku ini masih berstatus istri sah nya Dion, dan aku berkewajiban untuk menjaga keutuhan rumah tangga ku" ujar Raya dengan wajah datarnya
Maaf Raya tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui kamu untuk menemui Dion.
" Aku tidak bermaksud untuk mengikuti campur urusan rumah tanggamu hanya saja aku tidak mau kamu tersakiti lagi Raya, memangnya sebegitu kah dalam cintamu terhadap Dion? "
" Ini bukan hanya masalah cinta Sophia, tapi ini adalah komitmen. Aku sudah memutuskan untuk menerima lamarannya dan menikahi dia itu berarti aku mempunyai kewajiban untuk menjaga tali pernikahan kita apapun yang terjadi aku tidak akan memutus tali itu."
" Tapi bagaimana kalau Dion yang memutuskannya? apa kamu masih akan tetap bertahan?" Pertanyaan Sophia membuat Raya berpikir untuk sesaat
Di hembuskan napasnya dengan kasar "Kalau Dion yang memutuskannya maka aku akan menerimanya dengan senang hati karena dalam sebuah rumah tangga butuh dua orang yang menjalankannya jika ada satu di antaranya sudah menyerah untuk apa lagi di pertahankan"
__ADS_1
Mendengar pernyataan dari Raya terukir senyum tipis di wajah Sophia, seakan-akan perempuan itu mempunyai ide gila di benaknya.