Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Ada Harapan


__ADS_3

Semenjak pembicaraan mereka di pinggir kolam renang beberapa waktu lalu membuat Ruben selalu berusaha untuk bersikap biasa saja terhadap Raya karena dia ingin wanita yang di cintainya itu tidak merasa terbebani atau merasa tidak nyaman ketika berada di sampingnya.


Satu minggu telah berlalu jatah menginap di hotel milik orang tua Sophia telah berakhir, sesuai dengan kesepakatan di awal bahwa Ruben akan mengajak Raya beserta anaknya untuk tinggal di rumah bekas orang tuanya yang berada di Batam yang mana rumah itu saat ini di huni oleh adiknya Ruben.


Hanya melakukan penerbangan kurang dari dua jam akhirnya mereka sudah berada di kota kelahiran Ruben yaitu Batam. Melangkahkan kaki di kota itu membuat Raya merasakan suasana yang berbeda, dia merasa sangat nyaman berada di tempat itu terlebih ketika Ruben mengajaknya memasuki desa kelahirannya menggunakan delman Raya benar-benar merasa sangat senang bisa melihat pemandangan desa yang sangat asri dan sejuk.


" Bagaimana Raya apakah kamu senang berada di sini?" tanya Ruben


" Senang banget, pemandangannya bagus dan udaranya terasa sejuk." jawab Raya dengan senyum sumringah nya.


Ruben merasa sangat senang melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Raya.


" Sebentar lagi kita akan sampai, dan kamu bisa segera istirahat bersama anak-anak, kasihan mereka pasti sangat kelelahan."


" Tapi mereka terlihat happy, lihat saja itu Athala! dia nampak senang naik delman" sambil menunjuk Athala yang sedang duduk di pangkuan Ruben.


" Iya kamu benar juga "


Perjalanan mereka terasa menyenangkan, hingga akhirnya mereka sampai dirumah peninggalan orang tua Ruben. Rumah orang tua Ruben cukup besar dengan desain ala-ala rumah tahun 80'an, meskipun terlihat kuno tapi rumah itu terlihat sangat bersih dan rapi bahkan di sekelilingnya terdapat berbagai tanaman yang menambah kesan asri.


" Ini dia rumah yang akan kita tempati selama kamu menjadi istriku, bagaimana apakah kamu menyukainya?" tanya Ruben


Raya melihat ke sekeliling rumah dengan perasaan takjub, karena dia baru pertama kali ini melihat rumah yang sudah kuno tapi masih terlihat sangat kokoh dan bersih.


" Mas rumah kamu begitu sangat unik aku menyukainya" balas Raya


" Kamu akan lebih takjub jika sudah masuk ke dalam, ayo!" ajak Ruben

__ADS_1


Benar saja ketika Ruben membuka pintu, mata Raya langsung terbelalak takjub. Bagaimana tidak rumah yang nampak kuno dari luar ternyata begitu mewah di dalamnya.


" Waow... rumah kamu benar-benar menakjubkan mas, bahkan hotel bintang lima sekalipun akan minder melihatnya " celetuk Raya


" Kamu tahu tidak, semua ini adalah pemberian dari tuan muda Dion. Dia sengaja mendesain ulang rumah ini agar layak untuk di huni adik dan aku kelak ketika sudah pensiun. Dia orang yang sangat baik dan peduli dengan sesamanya, tapi sayang aku sudah mengkhianatinya." tertunduk


" Sudah mas, kamu tidak perlu bersedih! asalkan kita tidak buka mulut maka semuanya akan baik-baik saja lagipula kita hanya melakukan satu kali jadi aku sangat yakin kecil kemungkinan untukku hamil" jelas Raya


" Kamu benar, tapi tetap saja aku merasa bersalah kepadanya" tatap Ruben dengan mata sendunya


" Kakak? " sapa seorang wanita muda yang langsung berlari menghampiri Ruben dan memeluknya dengan erat.


" Kakak akhirnya pulang juga, aku benar-benar sangat merindukan kakak" ucap wanita muda itu


" Iya kakak pulang, sekarang kakak pastikan tidak akan pergi kemana-mana lagi, karena mulai sekarang kakak akan membantu kamu mengurus mini market kita" ucap Ruben sambil melepaskan pelukan adiknya itu


" Maaf kakak lupa untuk memperkenalkannya, kenalkan dia istri kakak namanya Raya dan kedua anak kecil itu, mereka adalah anak-anak dari Raya yang otomatis sekarang mereka adalah anakku" jelas Ruben dengan penuh antusias.


" Aku hampir tidak percaya, kalau kakak bisa membawa pulang seorang istri yang cantik seperti kak Raya ini" ujar Wanita muda itu


" Kamu banggakan punya kakak ipar cantik seperti dia?"


Raya yang di sanjung merasa tidak nyaman dan sangat risih.


" Kamu jangan berbicara seperti itu dong mas, aku jadi malu. oh iya nama kamu siapa?" tanya Raya ke wanita muda itu


" Perkenalkan nama aku Dea kak, aku baru saja berusia 19 tahun, aku adiknya kak Ruben satu-satunya. Semoga kakak dan anak-anak bisa betah tinggal di sini" ucap Dea ramah

__ADS_1


" Tentu saja kakak akan betah tinggal di sini" timpal Raya


Perkenalan itu adalah awal kedekatan antara Raya dengan Dea, karena tidak sulit bagi Raya untuk mendekati adik iparnya itu sebab Dea sendiri memiliki sifat yang ramah dan mudah bergaul terlebih dia sangat menyukai anak kecil. Maka pantas saja walau mereka baru beberapa hari berkenalan tapi mereka sudah memiliki ikatan batin yang kuat. Ruben melihat kedekatan adiknya dengan sang istri merasa sangat bahagia, bahkan dia berharap jika kedekatan itu bisa membuat Raya bisa berubah pikiran untuk membatalkan kontrak.


Tapi hal itu rupanya hanya sebatas angan-angan Ruben yang mungkin tidak akan bisa terwujud, sebab Ruben menyadari jika rasa cinta Raya terhadap mantan suaminya sangatlah besar, itu semua terbukti ketika Raya mendapatkan telepon dari Dion sang mantan, ekspresi wajah bahagianya tidak bisa untuk ditutupi. Raya terlihat seperti anak remaja yang sedang kasmaran.


" Tadi yang menelepon tuan muda ya?" tanya Ruben basa basi


" Iya benar mas, itu tadi mas Dion" jawab Raya antusias "Dia tadi cerita kalau sekarang berada di Korea Selatan untuk membangun rumah impianku, bukan hanya itu, mas Dion juga sudah mempersiapkan sebuah pesta pernikahan setelah kita bercerai nanti" terang Raya dengan penuh kebahagiaan


Ternyata selama ini Raya sangat menantikan perceraian kita, ahh...aku terlalu naif mempunyai pikiran jika dia akan membatalkan kontrak itu dan lebih memilih hidup bersamaku.


" Raya apa kamu akan bahagia jika bercerai dariku dan menikahi tuan muda?" tanya Ruben mencoba memastikan


Dengan cepat Raya menjawab "Tentu saja, karena mas Dion adalah ayah dari anak-anakku itulah yang membuat ikatan aku dan dia sangatlah kuat"


" Iya kamu benar kalian punya buah hati sebagai pengikatnya" ucap Ruben dengan mimik datarnya sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan Raya.


Tapi tanpa Ruben duga Raya yang baru saja dia tinggalkan beberapa langkah mendadak pingsan, mengetahui itu Ruben langsung membopong dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Di rumah sakit dokter segera memeriksa tubuh Raya, di tengah-tengah pemeriksaan Ruben yang cemas tak kuasa untuk menahan rasa keingintahuan nya tentang penyakit yang sedang di derita oleh istrinya.


" Dok, istri saya sakit apa? kenapa dia tiba-tiba pingsan?"


" Anda tidak perlu khawatir karena istri anda baik-baik saja, dia pingsan karena tubuhnya kurang mendapatkan asupan makanan padahal di saat dia hamil seperti ini makanan sangatlah penting untuknya, terutama makanan yang bergizi." jelas dokter


Mendengar penjelasan bahwa istrinya tengah hamil anaknya, Ruben merasakan hormon endorfin menjalar ke seluruh sistem syarafnya yang membuat suasana hatinya merasakan kebahagiaan yang amat sangat, hal itu terlihat di senyuman Ruben yang mulai merekah.

__ADS_1


__ADS_2