
Laju motor Asep yang lumayan kencang membuat tubuh Raya ikut terguncang jika motor itu menerjang jalan yang penuh dengan bebatuan, Dion yang merasa tidak senang jika dada Raya menyentuh punggung Asep akhirnya terbesit sebuah ide.
" Sep, berhenti sebentar" Teriak Dion dari belakang
Mendengar Dion berteriak Asep seketika menghentikan motornya, Tubuh Raya yang menghadap depan kini oleh Dion di balik ke arah belakang sehingga berhadapan dengan dirinya.
" Nah kalau seperti ini baru aman, sudah lanjut lagi." perintah Dion
Asep hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dion yang begitu sangat overprotective terhadap istrinya, dengan sabar Asep pun menuruti perintah Dion untuk melajukan kembali motornya.
Setelah mereka melakukan perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di jalan besar dimana mobil Dion terakhir terparkir disana. Dengan cepat Dion membopong Raya lalu memasukkannya ke dalam mobil, ketika Dion hendak menghidupkan mesin mobilnya dia melihat ke arah Asep yang duduk di atas motor sambil terus memandang ke arahnya membuat hati Dion merasa tidak tega jika harus meninggalkannya sendiri.
" Hai bocah mau ikut tidak?" teriak Dion dengan posisi kepala yang keluar dari jendela mobil.
" Memangnya boleh ya kak? " sembari mendekat
" Cepatlah masuk sebelum aku berubah pikiran." ucap Dion
Dengan hati yang senang segera Asep membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya, dia membiarkan motornya begitu saja di pinggir jalan, karena dia sudah biasa melakukan hal seperti itu. Merekapun pergi menuju rumah sakit terdekat sesuai dengan petunjuk dari Asep. Di dalam perjalanan mereka tidak banyak berbicara sehingga suasana sangat hening hanya terdengar rintihan sesekali yang keluar dari mulut Raya. Dion yang semakin khawatir dengan kondisi istrinya mencoba menenangkannya dengan cara mengusap kepalanya dengan lembut, Raya yang di usap kepalanya nampak lebih tenang sekarang.
" Mas Terima kasih ya" Ucap Raya lirih
" Bagaimana sayang perutnya masih sakit?" Dion bertanya sambil sesekali menengok ke arah istrinya.
" Iya masih terasa mual kayaknya aku masuk angin karena kemarin aku tidur di dalam gua." jelas Raya
" Di gua?" tanya Dion sedikit syok
" Iya di gua, aku tidur di gua bersama dengan Asep dan baby Athala untuk menghindari para preman yang mau menangkap aku."
" Kenapa harus di gua? memangnya tidak ada tempat lain? kayaknya aku harus mengusut tuntas preman itu, Asep aku dengar kamu pernah melihat preman itu bagaimana ciri-cirinya?" tanya Dion tiba-tiba yang membuat Asep sedikit blepetan ketika menjawab
__ADS_1
" Itu kak anu mereka itu ada lima orang sedangkan yang sempat mengobrol sama aku dia itu badannya besar tinggi punya tahi lalat di dekat hidungnya kalau yang lain aku tidak begitu spesifik melihat nya." jawab Asep dengan keringat dingin yang mengalir di punggungnya.
" Tahi lalat di hidung, sepertinya aku tidak asing" sejenak Dion mencoba mengingat-ingat "Aku ingat sekarang yang punya tahi lalat di hidung kan si Darwin pacarnya Maya, mau apa dia mencari kamu."
" Darwin pacar Maya? mas tahu darimana kalau Maya punya pacar?" Raya merasa bingung dengan ucapan suaminya itu
" Ceritanya panjang sayang, lain kali aku akan cerita semuanya untuk sekarang yang terpenting kamu tahu intinya saja yaitu Maya ada di dalam penjara sedangkan pacarnya masih buron, apa mungkin kalau Darwin mencari kamu untuk balas dendam?" Dion menebak-nebak sebuah kemungkinan
" Oh gitu masuk akal sih kalau Darwin ingin menangkapku, tapi kalau menurut ku dia tidak semata-mata ingin balas dendam, terlihat sangat konyol jika dia hanya mau balas dendam padahal pacarnya ada di balik jeruji besi." Raya mencoba menganalisa lebih mendalam motif Darwin
" Maksud kamu dia punya motif lain? "
" Iya mas, aku yakin sekali dia bermaksud menukarkanku dengan kebebasan Maya, menurut kamu benar engga analisaku ini?" tanya Raya
" Waaah... istriku cerdas juga ya, aku bangga punya istri seperti kamu sayang" sambil mengelus-elus dahi istrinya
Asep yang sedari tadi mendengarkan obrolan pasangan suami istri di depannya merasa agak risih, ingin rasanya dia segera kabur dari sana. Tapi apa daya rumah sakit yang di tuju masih sedikit jauh. Asep hanya bisa memusatkan matanya ke luar jendela mobil agar dia bisa mengetahui sudah sampai dimana dirinya berada. Selang beberapa lama Asep melihat SPBU yang barusan dia lewati.
Dion agak kaget mendengar Asep berkata secara tiba-tiba tapi Dion mematuhi apa yang di ucapkan Asep, di pelankannya laju mobilnya.
" Kak depan belok kanan" Asep mengarahkan Dion
Di beloknya mobil ke arah kanan hingga memasuki halaman rumah sakit. Segera Dion membukakan pintu untuk istrinya lalu dia menggendong istrinya sampai ke dalam rumah sakit.
" Permisi.....,dimana aku bisa menemui dokter yang bisa memeriksa istriku" tanya Dion kepada salah satu wanita yang menjadi resepsionis di rumah sakit itu.
Wanita itu terus memandangi Dion dengan tatapan kagumnya sampai dia tidak mendengarkan perkataan Dion.
" Hai kamu tuli? diajak ngomong malah bengong saja." hardik Dion
" Mas kamu sabar dong jangan berbicara seperti itu" sambil mengusap dada Dion " Mbak maafkan suami saya, kalau membuat mbak jadi kaget dan takut" imbuh Raya
__ADS_1
" Mmmaaff... saya tidak konsen tadi, ehmm ada yang bisa saya bantu" ucap wanita resepsionis itu dengan sedikit terbata-bata
" Aku tadi nanya ada dokter yang bisa memeriksa istriku tidak?" Kata Dion dengan nada suara yang masih tinggi
" Maaf apa yang di keluhkan istri anda saat ini?" tanya wanita itu lagi
" Aku merasa pusing dan mual" jawab Raya dengan lemah
" Kapan anda terakhir mengalami datang bulan?"
Sejenak Raya mengingat kembali kapan dia mengalami menstruasi.
" Kayaknya saya sudah telat tiga mingguan" terang Raya
" Kalau begitu silahkan anda masuk ke poli kandungan yang berada di pojok sebelah kiri." sambil menunjuk ke suatu arah.
Tanpa berkata lagi Dion dengan cepat membawa Raya ke ruangan yang sudah di tunjukkan, Asep yang merasa lelah kali ini tidak lagi mengikuti Dion dan Raya justru sekarang Asep merebahkan tubuhnya di kursi yang di khususkan untuk para pengunjung rumah sakit.
Di dalam ruangan dokter memeriksa perut Raya.
" Oh ini sih bukan masuk angin Bu, tapi ibunya lagi mengandung dua minggu." ucap Dokter sambil tangannya masih memegang alat untuk USG.
" Maksud dokter saya hamil?" tanya Raya memastikan
" Iya bu, anda hamil dua minggu tolong di jaga kandungannya karena kandungan ibu sedikit lemah dan rawan, jadi saya akan memberikan resep untuk ibu konsumsi setiap harinya dan satu lagi ibu tidak boleh stres ya!" Dokter itu memberikan saran yang oleh Raya benar-benar di perhatikan.
Selesai melakukan pemeriksaan Raya dan dokter pun menemui Dion yang berada di ruang tengah.
" Bagaimana dok? istri saya sakit apa?" tanya Dion cemas
" Anda tidak perlu khawatir istri anda tidak sakit justru istri anda sekarang sedang hamil dua minggu." jelas dokter
__ADS_1
Mendengar kata HAMIL membuat Dion serasa tersambar petir, dia tidak percaya akan hasil yang di sebutkan oleh dokter itu akhirnya Dion memaksa dokter itu mengulang lagi pemeriksaan, tapi Raya tidak mau lagi melakukan pemeriksaan justru Raya pergi meninggalkan ruangan dengan segala pikirannya.