
Seakan mendapatkan titik terang Dion segera mengerahkan beberapa anak buahnya untuk memeriksa tempat itu, sedangkan dirinya bersiap-siap membersihkan diri maklum selama di tinggal istrinya Raya, Dion jadi seseorang yang hidupnya berantakan setiap hari hanya di habiskan berada di depan laptop untuk bekerja dan bekerja sampai dia lupa makan bahkan mandi. Itu dia lakukan hanya untuk meminimalisir otaknya memikirkan Raya sang istri tercinta.
Tanpa berlama-lama Dion segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan semua kotoran yang melekat pada tubuhnya, sementara itu Sophia yang menunggu di luar menelepon Rian untuk memberitahu bahwa Raya telah di temukan di sebuah desa terpencil yang berada di Jawa Barat. Rian yang mendapatkan kabar bahwa Raya di temukan merasa sangat gembira bukan kepalang, dengan reflek dimatikan nya panggilan telepon Sophia tanpa pamitan terlebih dahulu kemudian dia berlari ke arah garasi mobilnya dan memilih salah satu mobil yang ada di situ, setelah itu dia pergi menuju rumah Dion.
Dion yang sudah membersihkan badannya sekarang nampak bingung memilih pakaian yang cocok dia kenakan untuk menemui kekasih hatinya yang amat sangat dia rindukan, tanpa terasa mereka sudah tidak bertemu hampir tiga minggu lamanya tapi bagi Dion waktu yang sudah dia lewati hampir 30 tahun lamanya. Dengan hati yang terus berdebar-debar bagaikan orang yang sedang kasmaran di waktu sekolah menengah membuat Dion menjadi tidak bisa fokus di dalam memilih pakaiannya.
" Sophia... Sophia.... " Dion berteriak yang membuat sang pemilik nama langsung berhamburan ke arahnya.
" Ada apa? kamu dalam masalah? " tanya Sophia cemas dengan napas yang masih tersengal-sengal karena habis berlari.
" Iya Sophia, aku dalam masalah besar banget jadi aku butuh kamu buat memecahkannya." jawab Dion dengan mimik seriusnya
" Apa itu? " Sophia bersiap-siap mendengarkan keluhan Dion
" Aku bingung memilih baju untuk bertemu dengan Raya, aku ingin dia langsung terpana ketika melihat kehadiranku." jawab Dion masih dengan mimik serius nya
Mendengar keluhan dari Dion membuat Sophia tidak lagi bisa menahan ketawanya.
" Ngapain kamu ketawa aku lagi serius" ucap Dion tidak senang
" Oke.. oke aku akan berusaha mengontrol diri aku" Sophia segera menarik napas nya dan menghembuskannya perlahan itu dia lakukan agar bisa mengontrol dirinya untuk tidak ketawa di hadapan Dion. Setelah di rasa sudah tenang Sophia lanjut mencarikan pakaian yang cocok buat Dion.
" Nah ini kayak nya cocok deh buat kamu" seru Sophia sambil menyerahkan setelan baju
" Kamu yakin Raya suka dengan outfit seperti ini?" tanya Dion memastikan
" Aku yakin seratus persen" ucap Sophia dengan percaya diri.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu, dengan cepat Raya membuka pintu itu.
__ADS_1
" Hai Sophia apa kau sudah siap? kalau sudah ayo kita berangkat sekarang, aku sudah tidak sabar lagi." ucap Rian
" Tunggu!!! Dion masih ada di ruang ganti sebaiknya kita tunggu dia dulu.
" Yasudah kita tunggu dia di lantai bawah saja." ajak Rian
" Oke" jawab Sophia singkat
Rian yang sudah tidak sabaran ingin segera bertemu dengan mantan terindah nya nampak begitu gelisah menunggu Dion yang tidak kunjung menuruni anak tangga.
" Sophia kenapa Dion lama sekali? kalau kayak gini kita bisa kehilangan Raya lagi." ujar Rian
" Sabar Rian insyaAllah lima menit lagi dia akan segera turun menemui kita." Baru saja Sophia menenangkan Rian Dion sudah terlihat sedang menuruni anak tangga dan menemui mereka.
" Ngapain kamu berada di rumahku?" tanya Dion dengan ketus kepada Rian yang sudah terlihat di samping Sophia
Tanpa banyak bicara lagi mereka segera masuk ke dalam mobil milik Dion dan berjalan menuju Jawa Barat. Di sepanjang jalan mereka tidak banyak bicara itu membuat Sophia menjadi gemas di buatnya.
" Kenapa kalian diam saja? kata Raya kalian ini dulu sahabatan iya kan?!" tanya Sophia mencoba mencairkan suasana yang beku.
" Buat apa aku sahabatan sama orang macam dia" sindir Dion
" Aku juga enggak butuh sahabat yang bisanya melukai hati perempuan" sindir Rian balik
" Cukup!!! enggak usah di teruskan, kalian ini persis seperti anak SD, bisa enggak sih akur sehari aja?" Sophia mulai kesal dengan tingkah dua cowok yang berada di sampingnya
" Bagaimana bisa akur kalau laki-laki yang ada di sampingmu itu batu." ucap Rian dengan nada sinis
" Apa kamu bilang, kamu sudah bosan hidup ya"
__ADS_1
" Sudah hentikan!!! kalau kalian masih seperti ini lagi aku tidak segan-segan untuk menghajar kalian berdua." ancam Sophia dengan nada yang tinggi.
Seketika suasana di dalam mobil itu kembali hening, Sophia yang kesal hanya bisa bermain dengan ponselnya, Rian memilih untuk memejamkan matanya sedangkan Dion melihat keluar jendela mobilnya sambil membayangkan wajah istrinya. Perjalanan yang mereka lalui kurang lebih menghabiskan waktu tiga jam, dalam waktu tiga jam itu mereka putuskan melaluinya dengan kegiatan mereka masing-masing tanpa adanya tegur sapa di antara mereka.
Ketika melewati jalan yang sulit untuk di lalui oleh sebuah mobil maka mereka putuskan untuk berjalan kaki menuju perkampungan.
Dion yang merasa enggan berdekatan dengan Rian berjalan di depan lebih cepat. Rian hanya bisa tersenyum melihat tingkah Dion yang kekanak-kanakan.
Dion... Dion, sifatmu yang selalu ingin jadi pemenang tidak pernah berubah, bahkan sekarang malah semakin menjadi-jadi.
" Hai apa yang kamu pikirkan? sampe senyum-senyum sendiri gitu?" sapa Sophia sambil menepuk pundak Rian
" Enggak ada kok, hanya aku merasa geli lihat manusia yang ada di depan sana." sambil menunjuk ke arah Dion
" Sifat Dion itu emang sangat unik, susah di tebak, kadang dia seperti singa kadang seperti anak anjing yang imut pantas saja kalau Raya terus bertahan di samping laki-laki itu lawong sifat suaminya saja selalu membuat dia penasaran, betul tidak?" celoteh Sophia
" Apaan sih, cowok punya sifat labil seperti itu harusnya di hindari kalau tidak orang di dekatnya akan selalu terluka." bantah Rian
" Kamu memang ada benarnya, tapi kalau menurut aku nih ya si Raya ataupun Dion mereka itu tidak bisa terpisahkan secara mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.
Dion yang keras bisa di lunakkan dengan sifat Raya yang penyabar, begitu sebaliknya Raya yang monoton bisa berwarna dengan sifat Dion yang variatif itu." jelas Sophia panjang lebar
" Pemikiran macam apa itu tidak masuk akal"
" Sudahlah sebaiknya kamu relakan Raya hidup bahagia dengan Dion, dan kamu cobalah membuka hati untuk wanita lain."
" Menurutmu aku tidak mencoba nya? ini juga sedang aku lakukan, sudahlah jangan di bahas lagi sebaiknya kita berjalan lebih cepat untuk menyusul Dion nanti malah ketinggalan lebih jauh kalau kita asyik mengobrol disini."
Setelah berjalan kaki selama dua jam lamanya akhirnya mereka sampai juga di perkampungan, disana mereka sudah di sambut oleh semua warga beserta anak buah Dion yang sudah datang duluan dan tidak lupa orang yang selama ini mereka cari dan mereka rindukan yaitu Raya.
__ADS_1