Dendam Di Balik Pernikahan

Dendam Di Balik Pernikahan
Merasa di khianati


__ADS_3

Di restauran khusus makanan Indonesia Dion dan Raya menikmati momen kebersamaan mereka yang dulu sempat hilang sembari menyantap makanan khas dari negara mereka sendiri.


" Aku senang banget mas bisa makan nasi rendang di sini, soalnya aku kurang cocok dengan masakan Korea" sambil tersenyum


" Syukurlah kalau kamu suka, Biar puas setiap hari aku akan suruh Ruben membelikanmu makanan disini" ucap Dion


" Apa tidak terlalu berlebihan? "


" kalau buat Raya tidak ada kata berlebihan, yang ada semua serba pantas untuk di berikan because you are my everything" terangnya


Raya memeluk lengan Dion "Kamu jadi pintar menggombal ya mas? tapi aku suka daripada Dion yang suka mengumpat" lanjutnya


" Kalau kamu suka aku bisa belajar lebih banyak lagi tentang dunia pergombalan" balas Dion sambil mencium kening Raya


Chemistry yang mereka ciptakan mampu membuat sekeliling merasakan cinta yang bergelora di antara mereka, tak sedikit pengunjung yang merasa takjub dengan hubungan mereka berdua, bahkan ada yang sampai berani bertanya mengenai status mereka. Dengan lantang dan penuh percaya diri Dion mengatakan jika Raya adalah calon istrinya, Raya yang mendengarnya nampak malu.


" Sudahlah mas jangan terlalu di ladeni, aku jadi malu nih" bisik Raya


" Maaf ya kalau bikin kamu tidak nyaman, tapi jujur setiap aku berada di restauran ini aku merasa bertemu dengan saudara jauh, karena yang makan di restauran ini kebanyakan warga Indonesia yang sedang bekerja atau belajar di negara ini, makanya aku bisa cepat akrab dengan mereka, bahkan yang mengajari aku cara memberi rayuan mereka adalah anak Indonesia yang sedang kuliah disini " jelas Dion penuh semangat

__ADS_1


Selagi Dion bersemangat di dalam bercerita tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat di angkatnya.


Entah dari siapa telepon itu berasal tapi yang jelas Raya merasa kalau saat ini Dion sedang kesal.


" Bagaimana bisa jadi seperti itu? siapa yang berani mengusik Dion Perkasa? pokoknya aku tidak mau tahu kamu harus segera menemukan dalang semua ini, oke sebentar lagi aku akan menemuimu" sambil memutus saluran teleponnya


Selesai dengan telepon nya Dion menghampiri Raya.


" Sayang apa kamu sudah selesai makannya? kalau sudah aku akan mengantarkanmu ke apartemen " ujar Dion


" Iya sudah" jawab nya


" Kalau begitu tunggu disini sebentar!, aku mau membayar ke kasir dulu"


Tidak lama akhirnya Dion dan Raya sampai di apartemen, dengan agak terburu-buru Dion berpamitan kepada Raya, tapi sebelum pergi meninggalkannya Dion menyempatkan mencium kening Raya sambil mengucapkan kata "I love you", Raya dengan cekatan meraih tangan Dion sebelum kekasih hatinya itu meninggalkannya. " Mas apapun masalah yang kamu hadapi tolong selesaikan dengan kepala dingin jangan terburu-buru mengambil keputusan, aku disini akan selalu mendoakanmu agar di beri kemudahan di dalam menyelesaikan nya" ucap Raya sambil tersenyum, Dion baru tersadar jika Raya merasakan kalau dirinya sedang menghadapi sebuah masalah, merasa mendapat dukungan dari sang kekasih Dion tak kuasa lagi menahan gejolak di dalam hatinya, dengan segera di dongakkannya wajah Raya lalu di ciuminya bibir indah itu dengan penuh gairah sambil tangan kanannya memngelus-elus pipi dan telinga Raya. Setelah puas sebelum Dion pergi dia sempatkan untuk membisikkan ucapan terima kasih di telinga Raya dan itu cukup membuat Raya menjadi malu di buatnya.


Dion yang penuh semangat karena seluruh aliran darahnya tercampur oleh hormon endorfin mengendarai mobilnya dengan sedikit ugal-ugalan, oleh karenanya dia tidak memerlukan banyak waktu untuk sampai di tempat yang telah dia janjikan.


" Ruben bagaimana apa kamu sudah bisa menanganinya?" Dion bertanya sambil duduk di dekat Ruben yang sedang sibuk bermain dengan laptopnya.

__ADS_1


" Tuan lihatlah, nilai saham Central Group saat ini turun sampai 1,7% jika terus begini saya yakin para pemegang saham akan banyak yang komplain " jelas Ruben sambil mengarahkan laptopnya ke Dion


" Kenapa bisa tiba-tiba seperti ini? memangnya ada apa?" Dion semakin penasaran


" Coba anda lihat ini " Ruben menyerahkan ponselnya kepada Dion


Dion melihat artikel yang ada di ponsel Ruben langsung berubah mimik mukannya menjadi sangat kesal dan di selimuti amarah


" Siapa yang berani membuat rumor rendahan seperti ini? benar-benar keterlaluan! aku tidak habis pikir jika sosial media bisa dengan mudahnya menggiring opini publik untuk menghujat Raya, sebenarnya siapa dalang dari semua ini?" sambil menggebrak meja


" Tenang tuan! saya sudah tahu siapa dalangnya" ucap Ruben


" Siapa? " tanya Dion sambil mencengkeram pundak Ruben saking semangatnya


" Dia adalah Sophia" jawab Ruben singkat


" Sophia? sahabat Raya? bagaimana mungkin dia membuat sahabatnya sendiri di hujat banyak orang di sosmed" Dion tambah kesal


" Saya akan menceritakan semuanya tapi sebelum itu sebaiknya anda duduk dulu dengan tenang! jadi begini sebelum Raya dan saya terbang kemari kami sudah membuat kesepakatan dengan Sophia untuk menikah setelah kami selesai liburan di Korea Selatan, hal itu terpaksa kami lakukan atas dasar permintaan Sophia yang dia berkata kalau dirinya sudah tidak bisa lagi menjaga dan menemani Raya dan juga anaknya karena dia mau terbang ke Singapore guna merawat papinya yang sedang sakit, dia ingin ada seseorang yang bisa menjaga Raya di kala dia pergi oleh sebab itu dia menyuruh Raya untuk mencari pendamping hidup dan singkat cerita Raya pun memilih saya. Awalnya Sophia bahagia dengan rencana itu sampai pada akhirnya anda bertemu dengan Raya kemudian Raya meminta saya untuk membatalkan rencana kami, saya dengan senang hati membatalkannya tapi Sophia murka setelah saya memberitahu bahwa saya dan Raya tidak jadi menikah, saya benar-benar tidak tahu kalau dia nekat untuk mendaftarkan nama saya dan Raya di KUA sampai dia memesan gedung untuk acara pernikahan kami, bukan hanya itu dia juga sudah menyebar undangan. Dia tidak tahu jika perbuatannya berdampak negatif bagi Raya, karena dia lupa kalau sahabatnya itu mantan istri CEO yang terkenal di negaranya" Selesai bercerita Ruben melihat ke arah bosnya alangkah terkejutnya dia tatkala melihat tatapan mata Dion yang penuh amarah.

__ADS_1


" Kamu benar-benar kurang ajar Ruben" sambil menonjok pipinya "Kenapa kamu bisa menerima permintaan bodoh yang di ajukan oleh Sophia? kamu kan tahu kalau Raya adalah nyawaku, bisa-bisanya kamu mau merebutnya dariku?" sambil berteriak


Ruben hanya terdiam dia pasrah jika dirinya harus di bunuh sekalipun oleh bosnya karena bagaimana pun juga ini adalah kesalahannya.


__ADS_2