
Rian yang sudah terlanjur emosi segera berlari menemui Dion yang masih terduduk lesu selepas kepergian istrinya, tanpa basa basi di pukulnya pipi Dion bertubi-tubi, Dion yang di pukuli mencoba melawan tapi belum sempat dia membalas Asep sudah datang melerai keduanya.
" Sudah jangan berantem lagi ini tempat umum tidak enak jika di lihat orang." seru Asep sambil menghalangi Rian memukul Dion
" Apa yang kamu lakukan Rian? bosan hidup kamu ya?" sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya
" Perlakuan macam apa yang kamu lakukan kepada Raya? sehingga dia sesedih itu, bukannya kamu sudah berjanji akan memperlakukan dia dengan baik." tanya Rian dengan nada suara yang cukup tinggi
" Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan rumah tangga ku" jawab Dion dengan mimik muka kesalnya
" Apa kamu bilang jangan ikut campur, ingat ya Raya itu mantanku kita bisa putus karena kamu sudah menidurinya brengsek!!! " Rian mulai tidak terkendali
" Meniduri Raya? " Dion pun teringat akan visual yang ada di otaknya yang dulu pernah muncul, pada saat itu otaknya menggambarkan jika Raya menangis sesegukan di bawah tubuhnya.
Apa jangan-jangan visual itu merupakan ingatanku waktu aku meniduri Raya? tidak itu tidak mungkin, aku tidak pernah berbuat kejam seperti itu kepada Raya itu tidak mungkin.
Dion terus melangkah kebelakang dengan perlahan sambil memegangi kepalanya.
Rian yang melihat seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan diri Dion akhirnya berusaha mendekat.
" Kamu kenapa? apa kepalamu sakit lagi?"
Mendengar pertanyaan itu Dion mencengkram baju Rian dengan kedua tangannya.
" Katakan dengan jelas sebenarnya apa yang terjadi di malam Raya mengantarkan aku pulang? katakan cepat!!!" Dion pun mulai menggila
__ADS_1
Rian tidak menjawab pertanyaan Dion, dia diam seribu bahasa seperti biasanya tatkala Dion menanyakan pertanyaan yang sama.
" Kenapa kamu tidak menjawabnya pecundang" Dion mengatakan dengan suara lantangnya
" Tutup mulutmu! aku bukan pecundang hanya saja aku sudah berjanji kepada Raya untuk tidak menceritakannya jadi aku ingin berusaha untuk menepati nya." bantah Rian
" Percuma kamu menyangkalnya karena di mataku kamu tetaplah seorang pecundang Rian" Dion pun tersenyum dengan senyuman yang penuh ejekan
" Kamu benar-benar brengsek Dion! dengan mengatasnamakan persahabatan kamu berani menyimpan rasa cinta terhadap Raya bahkan kamu tega merenggut kesuciannya dengan paksa, dasar cowok munafik!!" Rian yang terpancing pun akhirnya melayangkan bogem mentahnya untuk kedua kalinya dan itu mampu membuat Dion jatuh tersungkur.
Dion yang bergelut dengan pikirannya sendiri berusaha untuk bangkit kembali lalu pergi begitu saja meninggalkan Rian yang masih menatapnya dengan lekat.
Asep melihat Rian yang termenung melihat Dion pergi berjalan mendekat.
" Kak sebaiknya kita kembali ke tempat teh Raya" ajak Asep sambil menepuk pundak Rian
" Baik kak" Asep pun mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengerti dengan apa yang sudah Rian ucapkan.
Mereka berdua berjalan menuju tempat dimana Raya dan Sophia berada. Sesampainya disana Raya nampak khawatir melihat tangan Rian yang mengeluarkan darah akibat memukuli Dion.
" Apa yang Dion lakukan terhadapmu? sehingga tanganmu terluka seperti itu?" tanya Raya
Dengan cepat Rian menyembunyikan luka yang ada di tangannya ke dalam saku jaketnya.
" Ah ini bukan apa-apa kok, Dion juga tidak melakukan hal yang buruk jadi tidak ada yang perlu di bahas, sebaiknya kita sekarang pergi ke rumah Sophia." Rian mencoba mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
Sebenarnya Raya sedikit tersinggung karena pertanyaannya tidak di jawab dengan serius oleh Rian tapi dia mencoba untuk memahami posisi Rian saat ini.
Mungkin ada sesuatu yang di sembunyikan Rian dariku tapi apapun itu mungkin Rian berniat agar aku tidak terlalu memikirkan nya.
" Baiklah kita pergi ke rumah Sophia, oh ya Sep sebaiknya kamu ikut kami saja dulu kalau kondisinya sudah kondusif aku akan mengantarkanmu kembali ke rumah orang tuamu, bagaimana?" tanya Raya
" Baik teh aku nurut saja, tapi jika teteh mau mengantar aku pulang lebih baik antar saja aku ke rumah nenek karena aku tidak mau meninggalkan rumah itu sampai kapanpun lagipula kak Dion sudah berjanji akan merenovasi semua rumah warga jadi aku yakin rumah nenek akan nampak lebih bagus dari sebelumnya." ucap Asep dengan senyuman getir
" Maafkan aku Sep membuat kamu harus kehilangan nenek yang paling kamu cintai" sambil memegang pundak Asep
" Ga papa teh semua sudah takdir"
" Sudah-sudah jangan mengobrol disini lebih baik kita sekarang pergi ke rumahku" ajak Sophia
Mendengar ajakan dari sahabatnya Raya pun mengangguk kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan pergi menuju rumah Sophia.
Di dalam mobil Raya yang sedang menyusui anaknya sambil pandangannya dia arahkan ke luar jendela nampak sedang memikirkan sesuatu, itu sangat jelas terlihat dari raut wajahnya yang nampak tegang. Menyadari hal itu Sophia pun bertanya kepadanya.
" Apa yang sedang kamu pikirkan Raya?" tanya Sophia sambil mengelus tangan Raya
Raya menengok ke arah Sophia sambil tersenyum " Tidak ada" jawab Raya singkat.
" Jangan berbohong, aku sangat tahu kamu Raya jika sedang menyimpan kepedihan di dalam hati, raut wajahmu akan nampak sangat jelas, jadi please cerita walau aku tidak bisa memberi solusi setidaknya bebanmu sedikit berkurang." Sophia berusaha meyakinkan Raya
" Aku hanya bingung semua seperti terulang kembali, persis di saat aku mengandung Athala dulu, kenapa Dion tidak bisa mempercayaiku padahal aku orang satu-satunya yang selalu ada di sampingnya dari sejak kecil. Di saat semua orang menjauh darinya hanya aku yang bersedia dengan tulus menemaninya, Sophia kamu lihat jari manis ini?" sambil menunjukkan jari manisnya di depan wajah Sophia "Cincin yang mengikat hubungan kami kini sudah tak ada lagi disana, apa mungkin sebentar lagi hubungan kami akan berakhir di meja hijau, seakan-akan semua usaha serta pengorbananku sia-sia, apa yang harus aku lakukan Sophia?" Raya berusaha menahan bulir-bulir bening keluar dari sudut matanya dengan cara menggigit atas bibirnya.
__ADS_1
Sophia memeluk sahabatnya sambil mengusap-usap punggungnya " Kamu harus kuat demi Athala dan juga bayi yang kamu kandung" bisik Sophia perlahan
" Kamu benar Sophia aku harus kuat dan bertahan walau sebenarnya hatiku sangat sakit jika harus melihat wajahnya yang menatap penuh dengan kecurigaan, aku tidak habis pikir kenapa dia begitu sangat yakin jika anak yang aku kandung ini bukan darah dagingnya sebenarnya apa yang terjadi ketika dia berada di Padang tempo hari lalu" Pertanyaan demi pertanyaan menggelayut di pikirannya tanpa tahu jawabannya.