Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Hancur


__ADS_3

Tanpa basa basi lagi Ricard langsung menghajar Bagas dengan membabi buta hingga Bagas tidak sempat untuk menghindar.


Pukulan demi pukulan Bagas terima dengan sangat keras dan membuat luka di beberapa bagian wajah nya terutama di bagian bibir dan hidung sehingga mengeluarkan noda berwarna merah.


"Bajingan kamu, sudah saya peringatkan dari awal, kamu jangan mengganggu dia lagi, saya sudah memberikan kesempatan kamu untuk masih bekerja di perusahaan itu, tapi mulai sekarang saya ngga akan memberikan kesempatan lagi, rasakan ini bangsat." teriak Ricard sambil menarik kedua tangan nya dan menempatkan Bagas di punggung Ricard lalu Ricard mem banting kan tubuh Bagas dengan keras ke dinding sampai tulang punggung Bagas retak.


"Bugh, krek." Suara tubuh Bagas begitu mengenai dinding tembok.


"Ampun pak Ricard, saya khilaf." Ucap Bagas sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya.


"Khilaf? Kamu bilang khilaf? Bugh." Teriak Ricard sambil menendang dengan keras tubuh Bagas yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


"Kemana hati nurani kamu sebelum kamu membawa nya kesini? Kemana hati nurani kamu sebelum kamu melakukan semua ini, kurang apa saya sama kamu, saya masih memberikan pekerjaan buat kamu tapi apa balasan kamu sama saya." Lagi-lagi Bagas berteriak sambil terus menendang tubuh Bagas tanpa rasa kasihan sedikit pun.


Ricard jongkok lalu meraih tangan Bagas dengan kasar dan menggenggam nya dengan keras.


"Tangan ini, tangan ini yang sudah berani menyentuh calon istri ku tadi kan?" Ucap Ricard sambil mematahkan salah satu tangan Bagas hingga membuat tangan Bagas patah seketika.


"Tidak!" Teriak Bagas sambil merasakan sakit yang luar biasa pada tangan nya.


Ricard menarik sebelah kaki nya dan menyimpan di atas paha nya.


"Dan kaki ini, kaki ini kan yang melangkah untuk membawa calon istriku sehingga dia berada di sini." Ucap Ricard sambil mematahkan kaki nya Bagas.


"Aw, ku mohon maaf kan saya pak Ricard, ini semua tidak adil kalau hanya saya yang mendapatkan hukuman nya." Teriak Bagas sambil menahan rasa sakit nya.


"Tidak adil? Menurut mu saya tidak adil? Tidak adil dengan siapa? Sudah jelas-jelas kamu yang melakukan semua ini, dan hanya ada kamu, cuma kamu." Ucap Ricard lalu tangan nya kembali meraih kaki Bagas yang sebelah nya lagi dan hendak mematahkan nya.


"Saya melakukan semua ini karena hasutan dari Caca, Caca lah yang menyuruh saya menculik Yola." Ucapan Bagas membuat Ricard melepaskan kaki nya.


Ricard tidak menyangka kalau Caca juga ikut andil dalam penculikan calon istri nya.

__ADS_1


"Jadi kalian berdua sudah bersekongkol? Jadi semua ini sudah di rencanakan, dasar ba ji ngan." Teriak Ricard sambil terus menendang tubuh Bagas yang sudah tidak berdaya.


Ricard tidak perduli dengan Bagas yang sudah memohon meminta maaf dan kesakitan.


Ricard kalaf dan di penuhi dengan emosi hingga membuat Ricard hilang akal sehat nya.


Leo yang baru kembali kaget melihat Ricard yang terus menerus menendang tubuh Bagas yang sudah berlumuran darah dan tidak berdaya.


"Bos, sudah cukup, dia bisa mati." Teriak Leo sambil menarik tubuh Ricard.


"Lepaskan Leo, saya akan membunuh nya, saya tidak akan membiarkan nya hidup." Teriak Ricard sambil berontak.


"Baik! Kalau memang bos ingin membunuh nya, bunuh saja dia, tapi ingat! Apa Yola akan menerima seorang pembunuh? Apa Yola tidak akan sedih melihat bos di dalam penjara? Bukankah bos sudah berjanji tidak akan membuat Yola sedih? kalau memang bos siap kehilangan Yola untuk selama-lama nya silahkan bunuh dia." Ucap Leo sambil menatap tajam Ricard.


Ricard terdiam dan mencerna semua ucapan dari Leo, nafas nya memburu karena amarah nya belum mereda.


"Bugh!" Kembali Ricard menendang Bagas lalu pergi meninggalkan Bagas dan Leo.


Bagas menangis meratapi nasib nya, tangan dan kaki nya yang sudah patah, luka lebam di sekujur tubuh nya serta kehidupan nya yang hancur membuat Bagas menyesali semua perbuatan nya.


Ricard melangkah keluar dengan langkah sedikit cepat dan lebar, emosi nya belum hilang semua mengingat ucapan Bagas tentang Caca yang ikut andil dalam penculikan calon istri nya.


Pak Anwar dan om Bimo yang melihat Ricard keluar dari gedung itu wajah nya menampak kan raut bahagia nya.


Ingin sekali mereka bertanya tentang kejadian di dalam, tapi melihat raut wajah Ricard yang seperti nya masih menahan amarah, mereka pun mengurungkan niat nya.


Tidak lama Leo pun keluar dari gedung itu dan menghampiri mereka.


Ricard tanpa menoleh ke arah siapa pun langsung masuk ke dalam mobil.


"Leo, gimana? Kenapa Ricard sepert nya masih menahan amarah?" Tanya pak Anwar yang penasaran.

__ADS_1


"Nanti saja pak, sekarang kita bawa pulang Yola dulu." Jawab Leo.


"Leo cepat." Teriak Ricard dari dalam mobil.


"Kakak saja yang duduk di depan, aku duduk di belakang." Ucap om Bimo.


Akhir nya mereka pun masuk ke dalam mobil, terlihat kepala Yola kini sudah berada di atas ke dua paha Ricard, Tangan Ricard terus membelai kepala nya dengan lembut dan berusaha membangunkan nya.


Leo melajukan mobil nya membawa mereka pulang kembali ke rumah nya.


"Leo cari toko pakaian dulu, saya tidak mau dia pulang dengan kondisi seperti ini." Ucap Ricard tanpa mengalihkan tatapan nya kepada Yola.


"Baik bos." Leo pun mencari toko pakaian yang masih buka, hari memang sudah menjelang malam jadi toko sebagian sudah pada tutup.


Terlihat oleh Leo ada salah satu toko pakaian yang baru saja di tutup oleh salah satu pemilik nya membuat Leo langsung menghentikan mobil nya.


Leo keluar dari mobil lalu berlari menghampiri orang itu yang hendak pergi dari toko nya.


"Pak maaf saya mau tanya? Apa ini toko milik bapak?" Tanya Leo sambil menatap pria yang usia nya tdak jauh dengan nya, tapi yang pasti nya lebih muda Leo dari pada pemilik toko itu.


"Iya, kenapa?"


"Saya mau minta tolong pak, saya butuh sebuah gaun sekarang juga, berapa pun harga nya akan saya bayar." Ucap Leo.


"Tapi saya tidak menjual gaun, saya hanya menjual pakaian khusus laki-laki." Jawab pemilik toko itu.


Leo terdiam, dia bingung antara membeli nya atau tidak, tapi kalau dia tidak membeli nya pasti tidak ada toko yang buka lagi, sementara jarak ke rumah nya semakin dekat.


"Ya sudah ngga apa-apa pak, kalau begitu saya minta kemeja tangan panjang dan celana pendek saja." Ucap Leo.


"Dari pada Yola hanya di tutupi dengan gaun yang sudah sobek mending pakai kemeja saja lebih tertutup." Gumam bathin Leo.

__ADS_1


__ADS_2