Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Masa Bodo


__ADS_3

Pagi menjelang, aku merasakan pergerakan dari sampingku, rupanya mas Bagas sudah bangun dari tidur nya.


Aku yang memang sedang duduk dan bersandar ke kepala ranjang pun melirik nya dan menampilkan sebuah senyuman yang ku paksakan.


"Pagi mas." Ucap ku dengan senyuman yang di paksa kan, sebenar nya aku merasa jijik melihat nya, apalagi melihat dia yang sedang bergulat dengan wanita itu dan memanggil-manggil nama ku, tapi aku mencoba bersabar untuk menyelesaikan balas dendam ku.


"Pagi juga sayang, kamu kok sudah mandi sih." Ucap mas Bagas sambil memeluk perut ku.


Aku sedikit melirik ke arah kamera yang masih di nyalakan oleh mas Ricard.


Aku berharap mas Ricard masih tertidur dan tidak melihat nya sekarang, karena aku takut mas Ricard berbuat nekad dan menggagalkan rencanaku.


"Aku harus pergi ke kantor mas, memang nya mas tidak akan ke kantor." Ucap ku.


"Mas ke kantor nya siang saja, mas harus pulang dulu ke rumah untuk berganti pakaian."


"Bagus, dan aku yakin perang dunia di pagi hari pun akan terjadi." Gumam ku di dalam hati, bibir ku tersenyum membayangkan mereka yang bertengkar pagi ini.


"Ya sudah kalau begitu aku berangkat duluan ya mas, soalnya takut kesiangan." Ucap ku sengaja menghindar.


"Kamu ngga nunggu mas dulu, biar nanti mas antar ke kantor nya." Ucap mas Bagas sambil bangun dari tidur nya dan melepaskan pelukan nya.


"Kalau aku nunggu mas, aku pasti kesiangan, aku pergi naik taksi saja sekalian mau sarapan di kantin kantor."


"Ya sudah kalau memang itu mau kamu, ini kamu pakai saja sesuka kamu." Ucap mas Bagas sambil memberikan kartu atm nya.


"Kenapa di kasih aku mas, kalau istri kamu bertanya bagaimana?"


"Itu uang simpanan mas yang dia tidak tahu, pin nya xxxxxx, jadi kamu tenang saja."


"Tapi aku ngga bawa uang cash sekarang mas, memang nya bisa bayar taksi pakai atm." Ucap ku yang belum puas untuk membuat mas Bagas menderita.


Kulihat mas Bagas kembali membuka dompet nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang berwarna merah.


"Ini di mas cuma ada segini, cukup kan." Ucap mas Bagas sambil memberikan uang nya.

__ADS_1


"Terima kasih mas Bagas sayang." Ucap ku sambil mencium pipi nya.


"Ya sudah aku pergi ya mas." Aku pergi meninggalkan mas Bagas yang sedang tersenyum menatap ku.


Aku merasa aku sudah seperti wanita bayaran saja, habis nginap di hotel lalu pergi setelah mendapatkan bayaran.


******


[ Pov Bagas ]


Setelah kepergian Yola Bagas turun dari tempat tidur nya lalu menyingkapkan selimut.


"Kok ngga ada darah nya, bukan kah dia belum ada yang menyentuh nya sama sekali." Gumam Bagas sambil menatap sprey putih di depan nya.


"Masa bodo lah, yang penting malam ini kamu sudah memuaskan aku sayang, kamu memang pintar membuat aku melayang, tahu begini dari dulu aku akan melakukan nya." Gumam Bagas sambil menyentuh adik kecil nya yang sudah bangun kembali dengan hanya membayangkan apa yang sudah dia lakukan semalam dengan Yola.


"****! Kenapa dengan membayangkan nya saja kamu kembali berdiri, mana dia nya juga sudah pergi lagi, kalau sudah begini aku harus menyelesaikan nya sendiri." Bagas langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan apa yang dia ingin kembal lakukan.


*******


Setelah aku memastikan kalau mas Bagas tidak melihat atau mengintip kepergianku, aku langsung masuk ke kamar sebelah yang di tempati oleh mas Ricard.


Sebelum aku mengetuk pintu nya, mas Ricard sudah membuka nya dan langsung memeluk ku dengan sangat erat.


"Kenapa kamu di peluk sama dia lagi sih sayang." Ucap mas Ricard sambil memeluk ku.


"Sebenar nya aku juga merasa jijik mas, tapi mau bagaimana lagi ini semua kulakukan demi balas dendam yang sempurna." Ucap ku lalu melepaskan pelukan nya.


"Ya sudah sekarang kamu mandi dan ganti pakaian kamu, aku ngga mau melihat kamu memakai baju itu lagi."


"Iya calon suami yang tampan." Aku sedikit menggoda nya.


"Mulai kamu menggoda mas."


"Sebentar mas, aku mau lihat apa yang sedang dia lakukan setelah aku keluar dari kamar nya." Aku langsung mengambil ponsel mas Ricard dan melihat mas Bagas di kamar nya.

__ADS_1


Aku melihat dia menatap sprey di depan nya mungkin dia mencari darah kesucianku di sana, aku melihat tangan nya yang menyentuh adik kecil nya membuat aku merasa jijik.


"Ini kamu saja yang lihat mas, aku jijik." Aku memberikan ponsel nya kepada mas Ricard lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ricard menatap ponsel nya dengan penuh amarah, "Tunggu kehancuran kamu bajingan, berani-berani nya kamu membayangkan calon istri saya hingga burung mu berdiri seperti itu." Gumam Ricard lalu menyimpan kembali ponsel nya.


Sambil menunggu Yola keluar dari kamar mandi, Ricard menghubungi Leo untuk memberitahukan semua yang sudah terjadi.


Tidak berapa lama Yola keluar dari kamar mandi sudah memakai baju lengkap yang di beli Ricard.


Aku keluar dari kamar mandi dan melihat mas Ricard sedang menghubungi seseorang.


"Telepon dari siapa mas?" Tanya ku sambil menatap nya.


"Mas habis telepon kantor tempat mu bekerja untuk meminta izin." Jawab mas Ricard sambil menyimpan ponsel nya.


"Jadi aku ngga masuk kantor hari ini?" Tanya ku heran.


"Ya, mas tahu kamu semalam kurang tidur, jadi mas barusan menghubungi kantor kamu untuk meminta izin, biar seharian ini kamu bisa beristirahat." ucap nya dengan bibir tersenyum.


Ini yang aku suka dari mas Ricard, aku ngga perduli walau dia hanya sebagai asisten ku, yang terpenting mas Ricard selalu perhatian dan selalu menjaga ku dengan baik.


"Terimakasih ya mas, kamu sudah sangat perhatian sama aku."


"Aku akan membuat kamu selalu bahagia dan aku akan selalu menjaga kamu."


"Ya sudah sekarang kita pulang, aku mau istirahat di rumah."


"Sebentar, aku lihat dulu laki-laki bajingan itu sudah pergi atau belum." Mas Ricard mengambil ponsel nya, dan aku pun ikut melihat nya.


Terlihat mas Bagas sudah rapih dan bersiap untuk keluar dari kamar nya.


"Dia sudah mau pergi mas." Ucap ku.


"Kita tunggu lima menit setelah kepergian nya, kita harus mengambil hasil rekaman nya." Ucap mas Ricard dengan serius.

__ADS_1


Setelah lima menit kita menunggu, mas Ricard pergi keluar sendiri untuk memastikan kalau kamar itu sudah kosong.


Dengan perlahan mas Ricard masuk ke kamar itu dan mengambil rekaman yang dia simpan di sudut kamar.


__ADS_2