
[ Pov Ricard ]
"Mah, apa semua ya sudah siap?" Tanya Ricard yang kini sudah berada di rumah nya.
"Sudah nak, semua nya sudah mamah siapkan, oh iya jas dan sepatu nya sudah mamah siapkan di kamar, awas cincin nya jangan sampai ketinggalan." Ucap bu Mesty.
"Siap mamah sayang." Ucap Ricard lalu masuk ke dalam kamar nya.
Ricard menatap baju yang sudah mamah nya siapkan, bibir nya tersenyum lebar mengingat malam ini dirinya akan melamar sang pujaan hati nya.
Ricard mengambil ponsel dan menghubungi no Yola, tapi sudah beberapa kali dia memanggil no Yola tetap saja tidak ada jawaban, akhir nya Ricard memutuskan untuk menghubungi Leo.
Leo mengatakan kalau Yola lagi tidak memegang ponsel, soalnya lagi mempersiapkan untuk acara lamaran nya.
Ricard yang mengerti pun kembali menutup panggilan nya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.
Sementara bu Mesty kini sudah menata barang-barang yang akan di bawa untuk acara lamaran malam ini, dan bahkan bu Mesty dan suami nya sudah siap dengan pakaian couple mereka.
"Mah, Bimo dan Dori belum sampai?" Tanya pak Anwar.
"Tadi sih bilang nya masih di jalan pah."
"Oh iyah, terus Caca sudah siap juga belum?"
"Sudah dong pah." Ucap Caca sambil tersenyum.
"Kamu cantik sekali nak, kapan kamu akan mengenalkan calon suami kamu?" Tanya pak Anwar.
"Tenang pah, sebentar lagi aku akan mengenalkan nya sama papah dan mamah." Caca terlihat riang sekali malam ini.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikum salam." Jawab mereka bertiga.
"Akhir nya yang kita tunggu sudah datang juga." Ucap pak Anwar begitu melihat adik dan adik ipar nya sudah berdiri di ambang pintu.
Memang pak Anwar mengajak mereka berdua untuk melamar Yola sekaligus akan menjadi saksi atas lamaran malam ini.
"Maaf kita terlambat, tadi lagi banyak kerjaan di kantor jadi agak melar berangkat nya." Ucap pak Bimo.
"Ngga apa-apa, kita juga masih siap-siap ini." Ucap bu Mesty.
"Bagaimana kabar kamu sayang? gimana dengan kerjaan nya? Sudah paham kan? kalau sudah paham benar nanti kamu pindah saja ke perusahaan papah, kelola perusahaan papah sama kamu, karena siapa lagi yang akan mengelola nya selain kamu." Ucap pak Bimo.
"Iya pah."
"Kapan ya ada seorang pria yang datang melamar kamu ke mamah dan papah." Ucap bu Dori sambil menatap Caca.
"Tenang mah, sebentar lagi juga akan aku perkenalkan."
"Wah ternyata sudah pada siap semua nya." Teriak Ricard yang sudah terlihat rapih dan tampan.
"Kak Ricard tampan sekali, ah andai saja malam ini aku yang dilamar kak Ricard, betapa aku sangat bahagia sekali." Gumam bathin Caca sambil menatap penuh damba kepada Ricard.
"Wah anak mamah tampan sekali, sudah dong nak, ini kan malam bahagia kamu, cincin nya tidak lupa kan?"
"Tidak dong mah, ini sudah aku masukan ke saku jas." Jawab Ricard sambil menyentuh kotak cincin nya yang dia simpan di saku jas.
"Kamu sangat tampan dan berwibawa nak, Yola sangat beruntung mendapatkan kamu." Ucap bu Dori dengan senyuman bangga nya.
"Justru aku yang sangat beruntung mendapatkan Yola tan, dia itu wanita yang lembut dan menerima aku apa ada nya." Ucap Ricard.
"Beruntung apa nya, dia itu sudah tidak suci lagi dan juga status nya janda, mana ada orang yang beruntung nikah sama janda." Gumam bathin Caca yang belum ikhlas melepas kan Ricard untuk Yola.
__ADS_1
"Kok bisa begitu?" Tanya tante Dori heran.
"Dia itu wanita yang sangat tulus mencintai aku, dia menerima aku apa adanya, pertama kita bertemu dia tahu nya kalau aku ini seorang pelayan, tapi dia tetap selalu ada di samping aku, dan bahkan kalau aku seorang pengangguran pun dia akan tetap berada di samping aku dan mencintai aku, karena kata Yola, harta bisa di cari tapi cinta sejati susah di dapati." Ucap Ricard dengan bibir tersenyum, dia mengingat saat awal pertemuan nya dengan Yola di restoran milik nya dan Yola menganggap kalau dirinya itu seorang pelayan.
"Wow, memang Yola patut untuk di perjuangkan, di zaman sekarang sudah jarang ada wanita yang mau menerima laki-laki dengan apa ada nya, kebanyakan mereka menginginkan harta nya saja." Ucap pak Bimo penuh dengan kekaguman akan sosok diri Yola.
"Ngga salah dong kalau begitu papah dan mamah punya menantu seperti dia." Ucap bu Mesty dengan bibir tersenyum.
"Tapi kan status dia itu seorang janda, sedangkan kakak masih perjaka, kalau menurut aku tetap saja kakak tidak beruntung." Ucap Caca dengan wajah tidak suka nya.
Caca merasa kesal karena mereka semua mengagumi Yola.
"Status bukan suatu ukuran untuk kedua insan saling mencintai dan menyayangi, status masih lajang saja kalau kelakuan nya nol buat apa, dan kebanyakan wanita lajang di zaman sekarang itu hanya mengandalkan ambisi bukan rasa sayang yang tulus dari hati." Ucap Ricard dengan tegas.
"Tapi tetap saja akan terasa beda dan tidak serasi kalau yang satu masih lajang dan yang satu nya sudah pernah berpasangan."
"Menurut ku tetap sama, mau yang masih lajang atau pun yang pernah berpasangan, yang penting dia itu seorang wanita yang punya harga diri." Ucap Ricard dengan menekan kan kata-kata harga diri nya.
"Sudah-sudah jangan berdebat, sekarang kita siap-siap untuk berangkat." Ucap pak Anwar.
"Apa kelebihan si janda gatel itu sih, bisa-bisa nya mereka semuanya menyukai nya, padahal sudah jelas-jelas dia itu seorang janda." Gumam bathin Caca.
Mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing, Ricard masuk ke dalam mobil kedua orang tua nya, sedangkan Caca masuk ke dalam mobil kedua orang tua angkat nya.
Sepanjang perjalanan bibir Ricard terus tersenyum, dia merasa sangat bahagia sekali malam ini, dan dirinya sudah ngga sabar ingin segera bertemu dengan calon istri nya itu.
"Pah, mah, kalau bisa pernikahan nya jangan lama-lama ya? Kalau bisa minggu depan saja." Ucap Ricard.
"Kita lihat saja nanti, apa Yola nya mau kalau kalian menikah minggu depan? Kita juga harus cari waktu, apa minggu depan mamah dan papah bisa meninggalkan pekerjaan kita, atau apa minggu depan semua yang di perlukan untuk acara pernikahan bisa selesai." Ucap pak Anwar.
"Kalau kita sudah niat, kita pasti bisa, tinggal papah dan mamah nya bisa atau ngga."
__ADS_1
"Ya sudah besok mamah mulai mengajukan cuti, seperti nya anak kita ini sudah kebelet pah, jadi kita ikuti saja kemauan nya." Ucap bu Mesty sambil tersenyum.