
"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya, aku ke toilet dulu " Ucap Ricard kepada ku.
"Oke," aku mengangguk sambil mengangkat jari jempol kanan ku.
Ricard tersenyum lalu pergi meninggalkan aku sendirian.
Jenuh, itu yang aku rasakan di saat harus menunggu sendirian tanpa ada nya sebuah ponsel.
"Mas Ricard kemana sih, kok lama sekali sih " Gumam ku sambil melirik ke arah sekitar.
Aku kesal dengan nya, dia meninggalkan aku dengan alasan ke toilet, tapi sudah hampir tiga puluh menit belum kembali juga
.
"Maaf sayang aku lama." Ucap Ricard sambil duduk kembali di depan ku dengan paper bag di tangan nya
"Sebenar nya kamu dari mana sih mas, masa ke toilet lama banget, aku sampai jenuh nunggu nya." Ucapku sedikit kesal.
"Jangan marah, coba kamu buka, aku sebenar nya tidak pergi ke toilet, tapi aku pergi membeli ini buat kamu." Ucap Ricard sambil memberikan paper bag nya.
"Apa nih mas." Ucap ku sambil mengambil paper bag nya.
"Buka saja, aku pastikan kamu menyukai nya "
Tanpa bertanya lagi aku langsung membuka paper bag nya.
Dengan mata berbinar aku membuka nya, ternyata Ricard membelikan aku sebuah ponsel keluaran terbaru.
"Sayang, jadi kamu pergi itu untuk membelikan aku ponsel? memang nya uang kamu masih ada?" Aku senang tapi aku juga berpikir kalau Ricard sudah kehabisan dengan uang nya.
"Ya, aku pergi membelikan ini untuk kamu, kartu nya sudah ada dan no aku sudah aku simpan." Ucap Ricard dengan senyuman manis nya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak melakukan nya sayang, aku sudah terlalu banyak memakai uang kamu, aku ngga mau kamu merasa terbebani dengan kehadiran aku." Aku langsung terdiam di kala sebuah jari menyentuh bibir ku
"Sudah sering aku bilang kalau kamu bukan beban ku, kamu adalah calon istriku berarti kamu adalah tanggung jawab ku mulai sekarang." Ucap nya yang membuat kupu-kupu yang ada di hati ku langsung berterbangan.
"Makasih sayang, suatu saat nanti aku akan membayar uang yang sudah kamu keluarkan untuk aku." Aku masih merasa ngga enak dengan Ricard, aku ngga mau kalau aku di bilang hanya memanfaatkan kebaikan nya saja.
"Cukup kamu membayar nya dengan hati kamu." Ucap Ricard sambil menggenggam kedua tangan ku.
Ricard mencium tangan ku sehingga membuat aku malu di buat nya, apa lagi sebagian pengunjung yang lagi makan menatap aku.
Aku tersenyum lalu melepaskan tangan nya karena aku mau mencoba ponsel baru, aku kaget sekaligus ingin tertawa melihat kontak yang baru ada satu di ponsel ku
Bukan masalah kontak nya yang baru satu, tapi nama yang Ricard simpan di ponsel ku yang membuat aku ingin tertawa.
"Suami ku?" Ujar ku pelan, tapi rupanya Ricard mendengar ucapan ku itu
"Iya istriku."
"Kenapa kamu tertawa sayang?" Tanya Ricard sambil menatap ku heran.
"Sayang, panggilan mu bikin aku tertawa, sumpah." Ucapku di sela-sela tertawa ku.
"Ya kan kamu calon istri ku, jadi wajar saja kan kalau aku memanggil nya seperti itu."
"Tapi kita belum bisa di bilang sebagai calon istri dan calon suami sebelum ada restu dari keluarga kamu, terutama kedua orang tua kamu, aku ngga mau hidup tanpa restu orang tua."
"Nanti kita jadwalkan untuk bertemu dengan keluarga ku." Ucap Ricard.
"Semoga keluarga kamu mau menerima aku dengan segala kekurangan dan status ku." Aku merasa takut untuk meminta restu kepada keluarga Ricard karena status ku yang sekarang.
"Kamu jangan khawatir, kita pasti akan mendapatkan restu mereka." Ricard menenangkan aku.
__ADS_1
"Sayang, sebenar nya aku malu sama kamu, aku terlalu sering meminta pertolongan sama kamu, aku selalu menjadi beban kamu, tapi aku mau minta tolong sekali lagi sama kamu." Aku mengutarakan perasaanku
"Apa pun untuk kamu, aku akan selalu siap, memang nya kamu butuh pertolongan apa?" Tanya Ricard sambil menatap ku.
"Tolong carikan aku pekerjaan, aku ingin bekerja sebelum menjadi istri kamu, jadi pelayan restoran pun juga ngga apa-apa."
"Serius kamu ingin kerja?" Ricard bukan nya menjawab tapi malah balik bertanya kepada ku.
"Serius sayang, aku tidak ingin terlalu menjadi beban kamu, dan aku ingin mencari kesibukan, please ya hunny." Segala rayuan akan aku berikan asal mas Ricard mau mencarikan aku pekerjaan.
Sebenar nya bisa saja aku meminta tolong kepada kak Leo, tapi aku ngga mau masuk kerja karena aku adik angkat nya, aku ingin di perlakukan sama seperti yang lain nya.
"Baiklah kalau memang kamu sungguh-sungguh ingin bekerja, kamu bisa masuk bekerja besok pagi di perusahaan xxxx sebagai sekertaris " Ucapan Ricard membuat aku kaget dan tidak percaya.
"Sayang, aku tidak bercanda, tolong serius dong, aku ini ingin kerja dan aku minta izin sama kamu sebagai calon suami aku." Lagi-lagi aku harus sedikit merayu nya untuk mendapatkan izin dari Ricard.
"Aku serius sayang, aku kenal baik dengan Presdir nya, dan aku sudah menghubungi nya di kala kita masih ada di Singapoera kemarin, dan dia minta seorang wanita untuk menjadi sekertaris nya.
"Kalau kamu kenal dengan bos nya, lalu kenapa kamu tidak kerja di perusahaan itu? kenapa harus jadi pelayan di restoran nya kak Leo?"
"Apa kamu malu mempunyai calon suami seorang pelayan restoran?" Seperti nya Ricard marah dengan ucapan aku barusan.
"Bukan begitu maksud nya sayang, aku cuma heran saja, kata kamu tadi Presdir nya itu teman kamu, kan kamu bisa minta tolong ke teman kamu untuk kamu bisa bekerja di perusahaan nya."
"Benar yang kamu ucapkan barusan, aku bisa saja meminta bantuan dia untuk bekerja di perusahaan nya, tapi untuk sekarang aku hanya ingin menjadi diri sendiri dulu, aku ingin kerja yang santai, kalau kerja di kantoran kan pasti akan selalu sibuk dan akhir nya aku ngga bisa membuat kamu seperti sekarang, kita ngga akan bisa menghabiskan waktu seperti kemarin karena di sibuk kan nya dengan kerjaan kantor."
Aku tersenyum menatap Ricard, dia benar-benar sangat mengutamakan aku.
"Sayang, tapi kalau aku kerja jadi sekertaris terus selalu sibuk, apa kamu mau memakluminya?" Aku takut karena aku sibuk Ricard akan selalu salah paham dan akan membuat hubungan kita menjadi retak.
"Aku pastikan kita akan selalu bersama setiap waktu."
__ADS_1
Aku terdiam dan mencerna semua ucapan Ricard, aku bingung dengan jawaban nya yang mengatakan akan selalu bersama, sedangkan tempat kerja kita aja berbeda, dia yang di restoran sedangkan aku di kantoran.