
Mas Ricard sedang membereskan barang-barang aku dan bayi ku karena hari ini kita akan pulang ke rumah.
"Akhir nya kita akan bertemu dengan kakak-kakak kamu sayang." Ucap ku sambil menatap bayi perempuan ku yang sangat cantik dan imut.
"Iya mamah aku juga ingin cepat-cepat ketemu sama mereka." Ucap Ricard dengan nada yang seperti anak kecil.
Aku tersenyum mendengar mas Ricard yang bicara seperti anak kecil itu.
"Mas, kita kasih nama siapa?" Tanya ku pada mas Ricard.
"Biar aku yang memberikan nama ya sayang, kamu kan yang memberikan nama kepada ketiga jagoan kita, jadi giliran aku yang memberikan nama kepada tuan puteri kita ini." Jawab mas Ricard.
"Ya sudah mas saja yang kasih nama."
"Karena ketiga jagoan kita kamu kasih nama dengan awalan yang sama dengan nama aku, jadi tuan puteri kita aku beri nama dari awalan nama kamu bagaimana?" Ucap mas Ricard sambil tersenyum.
"Terserah kamu saja mas."
"Baiklah, bagaimana kalau kita beri nama tuan puteri kita ini Yasmin Putri Anthoni Syaputra." Ucap mas Ricard sambil menatap dalam bayi perempuan kita.
"Bagus mas, ya sudah Yasmin saja, aku suka."
Mas Ricard tersenyum, "Makasih ya sayang sudah mau menemani mas dan juga sudah mau melahirkan anak-anak mas." Ucap Mas Ricard lalu mencium seluruh wajah ku.
**********
Kini kita sudah berada di depan rumah, terlihat ke tiga jagoanku sedang berada bersama para kakek dan nenek nya.
Begitu aku turun dari mobil, mereka langsung menyerbu aku.
"Mana cucu ku." Ucap mereka semua dengan serempak.
"Papah, mamah, kalian sabar dulu, biarkan Yola dan puteri kita masuk dulu." Ucap mas Ricard.
"Puteri? Maksud kamu?" Mereka begitu serempak seperti yang lagi paduan suara, sedangkan aku memanfaatkan untuk segera masuk karena aku tahu mereka pasti akan berebut kembali seperti yang sudah-sudah.
"Ya, yang ke empat ini anak kita seorang perempuan." Ucap mas Ricard.
__ADS_1
"Perempuan? Aku dulu yang gendong." Teriak mamah Mesti dan mamah Dori lalu mereka masuk ke dalam rumah dengan langkah yang setengah berlari.
Mereka lupa kepada kedua cucu nya yang sejak kemarin selalu berada did dekat mereka.
"Lihat lah kelakuan istri kita, padahal kemarin sudah adem tidak berebut, sekarang mulai lagi." Ucap papah Anwar.
"Berarti kamu harus membuat satu anak perempuan lagi Card, biar ke dua nenek nya tidak saling berebut." Ucap papah Bimo.
"Tidak, Yasmin adalah anak terakhir kita, sudah cukup empat saja, aku kasihan dengan Yola." Ucap Ricard sambil menggendong Revzan.
"Sudah sekarang kita masuk saja, kamu jangan serakah Bim, benar kata Ricard, kita harus kasihan kepada Yola." Ucap papah Anwar.
"Ya sudah kita masuk saja, kita lihat para nenek yang pasti nya merebutkan Yasmin Sekarang." Ucap Ricard sambil tersenyum.
Ketiga pria dewasa masuk ke dalam sambil menggendong masing-masing jagoan nya.
Benar yang di katakan Ricard, ke dua nenek itu sekarang sedang ribut memperebutkan Yasmin.
"Sayang sini mamah gendong, mamah kangen kalian." Ucap Yola sambil menggendong Rafandra dan mencium nya.
"Kakak ipar gantian dong gendong nya." Ucap mamah Dori yang merengek seperti anak kecil yang minta di belikan permen.
"Sabar dong Dor, nanti juga kamu kebagian gendong." Jawab mamah Mesti tanpa menghiraukan rengekan dari adik ipar nya.
"Dasar pelit, kalian berempat harus tahu kalau omah kalian ini pelit, jadi kalian harus dekat-dekat dengan nenek." Ucap mamah Dori.
Mamah Mesti dan mamah Dori memang sengaja membedakan panggilan nya agar anak-anak dan termasuk mereka ngga bingung pas di panggil oleh cucu-cucu mereka.
"Enak saja kamu bilang aku pelit, yang pelit itu kamu, buktinya kamu tidak mau memberikan kesempatan kepada aku untuk menggendong nya." Ucap mamah Mesti.
"Hai kakak, dari tadi kakak itu menggendong nya, dan aku belum merasakan menggendong nya, jadi yang pelit di sini siapa."
Mereka berdua pun terus berdebat memperebutkan Yasmin.
"Sayang, kita pindah rumah yuk, nanti mas beli rumah di luar kota." Ucap mas Ricard sambil memberikan sedikit kode lewat mata nya.
"Aku sih terserah mas saja."Aku tahu mas Ricard hanya sandiwara karena pusing mendengar mamah Mesti dan mamah Dori yang terus berdebat memperebutkan Yasmin.
__ADS_1
"Apa! Mau pindah rumah? Tidak-tidak, kalian semua tidak boleh pindah rumah, kalian tetap di sini." Ucap mamah Mesti sambil menatap mas Ricard dan aku bergantian.
"Kenapa kamu punya pikiran untuk pindah rumah? Kalian mau memisahkan kita dengan cucu-cucu kita." Ucap mamah Dori.
"Kalau omah dan nenek terus saja memperebutkan cucu kalian, maka aku akan membawa anak-anak dan istri ku pergi dari rumah ini." Ucap mas Ricard mengancam mereka.
Mamah Mesti dan mamah Dori saling menatap lalu mereka pun berjanji tidak akan saling berebut lagi.
"Baiklah kita berdua janji tidak akan berdebat lagi, tapi kalian jangan pindah ya." Ucap mamah Mesti.
"Ya kalau hidup tenang ngga bakal kita pindah."
Mas Ricard pun berhasil membuat mamah Mesti dan mama Dori terdiam dan akhir nya mereka mau berbagi.
"Adek, adek." Ucap Izan yang memang sudah mulai bisa bicara walau pun tidak begitu jelas.
"Iya sayang itu adik perempuan kakak satu-satu nya, jadi mamah minta kepada ketiga jagoan mamah ini kalian harus saling menyayangi apalagi sama adik perempuan kalian, kalian bertiga harus bisa menjaga dan melindungi nya." Ucap ku sambil menatap ke tiga anak ku yang masih pada balita.
Mereka terdiam seolah-olah mereka mengerti dengan apa yang barusan aku sampaikan.
"Ya sudah kalau begitu kita istirahat dulu ya, kita titip ke epat anak kita." Ucap mas Ricard dengan wajah lelah nya.
"Ya sudah istirahat sana, kalian berdua pasti kurang tidur, mereka biar kita yang jaga." Ucap mamah Mesti.
Aku dan mas Ricard pun masuk ke dalam kamar meninggalkan ke empat anak kita bersama para kakek dan nenek nya.
"Mas, akhirnya aku sudah memberikan empat anak untuk keluarga kamu." Ucap ku sambil duduk di sisi tempat tidur.
"Iya sayang, makasih ya kamu sudah selalu berjuang untuk keluarga ku." Ucap mas Ricard lalu mencium seluruh wajah ku.
"Aku harap ke empat anak kiat akan selalu menyayangi dan menjaga satu sama lain nya."
"Itu pasti sayang, dan karena kita sudah punya ke tiga jagoan dan satu tuan puteri, maka dari itu sudah cukup, aku ngga sanggup lagi melihat kamu yang harus selalu berjuang."
"Makasih mas pengertian nya."
Kita berdua pun tertidur karena memang sangat lelah dan kurang tidur sewaktu di rumah sakit.
__ADS_1