
Kini aku sudah sampai di rumah kak Leo, rumah kak Leo terlihat sepi mungkin karena kakak sudah berangkat kerja.
Terlihat bi Narsih sedang membersihkan kaca jendela rumah dengan serius, dengan langkah perlahan aku mendekati nya.
"Hai bibi." Ucap ku sambil menepuk bahu nya.
"Hai kodok, eh kodok berubah jerapah, ah ampun kodok eh non, maaf bibi kaget." Teriak bi Narsih yang membuat aku tertawa terpingkal-pingkal.
Ku lihat Ricard juga tertawa dengan teriakan bi Narsih.
"Kodok nya kok berubah jadi jerapah sih bi?" Aku bertanya sambil tertawa.
"Ini kodok kan, eh ampun deh ini bibir, maksud bibi, ini non Yola kan? Kok bisa berubah seperti ini sih non, non kelihatan tinggi dan tambah cantik." Ucap bi Narsih sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh ku.
"Kok calon istri saya di bilang kodok sih bi." Ucap Ricard sambil menepuk tangan bi Narsih yang sedang menyentuh pundak ku.
"Eh nyamuk, jangan ganggu." Teriak bi Narsih sambil menatap kearah Ricard.
Aku dan Ricard tertawa sampai pipi dan perut kita sakit dengan kelakuan bibi.
"Maaf den, bukan maksud bibi tidak sopan, tapi aden sudah mengagetkan bibi." Ucap bi Narsih merasa tidak enak.
"Ngga apa-apa bi, tapi kenapa pas bagian saya jadi nyamuk bi?" Ricard rupanya penasaran dengan kalimat yang diucapkan bi Narsih tadi.
"Ngga tahu den, bibi refleks bicara aja." Ucap bi Narsih.
"Ya sudah bi, maafkan kita berdua ya, sudah mengganggu kerjaan bibi, kalau begitu kita masuk dulu ya bi."
"Mau dibuatkan makanan atau minuman ngga non."
"Ngga usah bi, kalau saya mau saya buat sendiri saja."
Aku dan mas Ricard masuk dan kita memilih duduk di ruang keluarga.
"Ah, capek sekali." Ucap ku sambil duduk di sofa.
Ricard ikut duduk di samping aku, tangan nya menarik pundak ku hingga aku tertidur di atas paha nya.
__ADS_1
"Kalau capek tidur saja, aku akan menemani kamu di sini." Ucap Ricard sambil mengelus lembut kepala ku.
Aku tatap wajah tampan Ricard, bibir ku tersenyum melihat kelembutan Ricard kepada ku, perlakuan nya membuat aku semakin mencintai nya.
Entah memang capek atau karena nyaman dengan sentuhan Ricard, ke dua mata ku lambat laun terpejam dan akhir nya aku tertidur di atas ke dua paha Ricard.
******
[ Pov Leo ]
"Le, mau ketemu sama Yola ngga?" Tanya Leo.
"Memang nya mbak Yola sudah pulang?" Tanya Lea sambil menatap ke arah Leo.
"Sudah tadi, dan sekarang mungkin mereka sudah ada di rumah."
Semenjak kejadian Leo yang pernah menolong Lea, hubungan mereka kini semakin dekat.
"Di rumah bapak?" Tanya Lea ingin memastikan.
"Ya memang nya di rumah siapa lagi." Jawab Leo ketus.
"Kenapa pak Leo seperti marah, padahal aku kan cuma bertanya saja." Gumam bathin Lea sambil menatap raut wajah Leo yang berubah dari sebelum nya.
"Maaf pak, apa ada yang salah dengan pertanyaan saya? Bapak seperti nya tidak suka dengan pertanyaan saya tadi." Lea masih menatap Leo sambil menunggu jawaban dari Leo.
"Pertanyaan nya tidak salah, tapi panggilan nya yang salah, aku tanya sekarang sama kamu, apa aku ini bapak kamu?" Kini Leo yang menatap dan menunggu jawaban dari Lea.
Lea terdiam dengan pertanyaan dari Leo yang menurut nya sedikit aneh.
"Pertanyaan itu di jawab Lea, bukan di anggurin." Ucap Leo dengan wajah kesal nya.
"Ya lagian saya heran sama bapak, sudah tahu bapak ini atasan saya masa iya bapak saya masih muda seperti ini." Ucap Lea yang masih belum menyadari nya.
Leo kesal dengan jawaban dari Lea, "Ya sudah terserah kamu saja lah, ayo sekarang kita berangkat." Ucap Leo dengan nada yang ketus.
Lea heran dengan sikap Leo saat ini, dengan banyak pertanyaan di benak nya Lea mengikuti langkah Leo menuju mobil Leo.
__ADS_1
"Kamu pikir saya ini sopir kamu." Ucap Leo ketika melihat Lea membuka pintu belakang mobil.
"Salah lagi." Gumam Lea pelan.
"Duduk di depan." Ucap Leo sambil membuka pintu mobil nya.
Lea masuk dan duduk di samping Leo, "Kenapa sih pak Leo ini, seperti yang lagi pms saja." Gumam Lea yang masih bisa di dengar oleh Leo.
"Jangan banyak komen, kamu duduk manis saja di situ, dan satu hal yang harus kamu ingat, jangan panggil saya dengan panggilan bapak karena saya bukan bapak kamu." Ucap Leo lalu melajukan mobil nya.
"Oh, jadi dia marah karena aku memanggil nya bapak, tapi kan biasa nya juga aku manggil nya bapak, kok sekarang dia protes sih." Gumam bathin Lea.
"Tapi kan bapak atasan saya, masa iya saya harus memanggil nama saja." Ucap Lea.
Leo benar-benar emosi di buat nya hingga tanpa sadar Leo membuka jati diri nya."Saya bukan atasan kamu, atasan kamu yang sesungguh nya adalah pak Ricard."
"Maksud bapak?" Lea kaget dan masih belum mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Leo.
"Mampus, keceplosan kan aku jadi nya." Gumam bathin Leo lalu menghentikan mobil nya.
"Le, aku mohon kamu bisa merahasiakan nya, sebenar nya pemilik restoran tempat kita bekerja itu pak Ricard bukan aku." Mau tidak mau Leo akhir nya harus jujur mengatakan nya.
"Apa! Maksud bapak Ricard yang sekarang menjadi pacar nya mbak Yola?" Tanya Lea dengan wajah kaget nya.
Leo mengangguk, "Iya."
"Bapak tidak bohong kan? Mana mungkin Ricard yang seorang pelayan bisa menjadi pemilik restoran itu." Sungguh Lea tidak percaya dengan semua yang sudah di ucapkan Leo kepada dirinya.
"Bukan hanya restoran mewah itu saja, tapi dia juga pemilik perusahaan xxxx dan beberapa perusahaan lain nya.
Lea shock mendengar semua nya, "Ja_jadi Ricard yang pelayan itu ternyata seorang ceo?" sungguh ini bagaikan sebuah mimpi bagi Lea, Ricard yang ia kenal ternyata seorang yang berpengaruh di kota ini.
"Aku mohon Le, kamu harus merahasiakan nya dari semua orang termasuk Yola, aku ngga mau aku di pecat hanya karena masalah ini." Ucap Leo sambil menggenggam tangan Lea.
Lea melirik ke arah tangan nya yang sedang di genggam Leo.
"Aku hanya asisten nya pak Ricard, karena pak Ricard ingin menemukan perempuan yang menerima dia apa ada nya, pak Ricard menyembunyikan identitas nya, jadi mulai sekarang kamu jangan panggil aku bapak." Ucap Leo sambil menatap kedua mata Lea.
__ADS_1
Dua mata saling menatap, debaran jantung mereka berdua sedang berdisko di dalam, aliran yang mengalir di dalam tubuh mereka lewat dari sentuhan sangat kuat hingga membuat mereka terpana sejenak.