
Dengan sedikit gemetar ku langkah kan kaki ku masuk ke rumah besar keluarga nya mas Ricard, tangan ku terasa dingin dan berkeringat, mas Ricard menyadari akan keadaan ku maka dari itu tangan ku terus di genggam nya.
Sumpah aku sangat gugup malam ini, tanpa persiapan dan hadiah di tangan ku, aku merasa tidak percaya diri bertemu dengan keluarga mas Ricard.
"Kamu tenang saja jangan gugup seperti ini, ada aku di sini." Bisik mas Ricard.
Aku hanya diam dan mengangguk saja, aku percaya kalau mas Ricard akan selalu berada di samping ku.
"Assalamualaikum." Ucap ku dengan mas Ricard bersamaan, ku lihat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sedang bercengkerama.
"Waalaikum salam." Jawab mereka sambil menatap aku dan mas Ricard.
"Deg." Jantung ku semakin berdetak ketika mereka semua menatap ku, dan aku hanya bisa menunduk kan kepala ku dan tidak berani menatap mereka.
"Ini dia yang kita tunggu-tunggu, selamat datang nak." Ucap seorang wanita paruh baya sambil berdiri dan menghampiri kita berdua.
Aku menatap nya dan aku merasa kalau aku pernah bertemu dengan beliau tapi entah dimana aku tidak mengingat nya sama sekali.
"Perasaan aku mengenali nya, tapi dimana ya." Gumam ku di dalam hati.
"Selamat malam mah, selamat anniversary." Ucap mas Ricard lalu mencium telapak tangan nya dan mencium ke dua pipi nya.
"Terima kasih sayang, ini teman kamu nak?" Tanya beliau sambil menatap ku.
"Iya mah, kenalkan ini Yolanda." Mas Ricard mengenalkan aku kepada mamah nya.
"Yolanda? Bukan kah Yolanda itu?"
__ADS_1
Pertanyaan mamah nya mas Ricard membuat aku yakin kalau mamah nya Ricard ini memang pernah bertemu dengan ku.
"Nanti aku ceritakan sambil duduk." Ucap mas Ricard.
"Ya sudah ayo kita duduk, dan kenalkan teman mu ini kepada papah dan yang lain nya." Ucap mamah nya mas Ricard dengan ramah.
Aku sedikit menghembuskan nafas ku dengan pelan karena mamah nya Ricard nampak nya tidak begitu buruk, tapi aku belum bisa tenang karena di sana masih ada ayah dan saudara nya mas Ricard.
Aku pun diajak nya untuk duduk bergabung bersama keluarga mas Ricard, aku mencium telapak tangan ayah, om dan tante nya mas Ricard.
Semua terlihat ramah dan seperti nya mereka menerima ku dengan baik, tapi ada seorang wanita yang usia nya tidak jauh beda dengan ku menatap ku dengan penuh sinis dan terlihat tidak suka dengan ku, seperti seorang perempuan yang cemburu kekasih nya di rebut.
"Siapa wanita ini? apa wanita ini pacar nya mas Ricard atau mungkin wanita ini tunangan nya atau mungkin mereka di jodohkan nya." Aku sedikit melamun memikirkan wanita itu.
"Sayang kenalkan ini Caca, dia putri nya om Bimo dan tante Dori." Suara mas Ricard membuyarkan lamunan ku.
"Oh maaf aku sedikit melamun, saya Yola." Ucap ku dengan bibir tersenyum.
Aku merasa kalau Caca ini tidak menyukai ku, tapi melihat kedua orang tua mas Ricard mereka menerima ku dengan senyuman yang tulus dan akhir nya aku mengabaikan sikap Caca kepada ku.
"Jadi ini wanita yang membuat anak mamah tidak pernah pulang ke rumah." Ucap mamah nya Ricard sambil tersenyum.
"Iya mah, kan mamah tahu sendiri dulu dan sekarang jauh berbeda, sekarang lebih rawan mah, apalagi dengan penampilan nya yang sekarang ini." Ucap mas Ricard sambil melirik ke arah ku dengan lirikan genit nya.
"Dulu juga cantik kok, mata laki-laki itu saja yang bilang kalau nak Yola jelek." Ucap mamah nya Ricard seakan-akan dia tahu aku.
"Maaf tante, memang nya kita pernah bertemu ya?" Tanya ku dengan penasaran.
__ADS_1
"Kamu lupa sama tante sayang." Ucap nya, dan aku hanya mengangguk saja.
Selagi aku dan mamah Ricard bicara, mereka yang ada di ruang keluarga hanya menjadi pendengar saja sambil menikmati cemilan yang tersedia di meja.
"Baiklah tante akan mengingat kan kamu, apa kamu masih ingat sewaktu kamu datang bersama teman mu sewaktu kamu di siram sama kopi panas?"
Aku terdiam dan mengingat lagi kejadian waktu itu, dimana wajah ku di siram kopi panas sama Elena, aku mengingat kembali ketika Lea membawa ku ke sebuah rumah sakit dan ya, sekarang aku ingat, ibu yang ada di depan ku saat ini adalah bu dokter yang sudah mengobati ku waktu itu.
"Jadi tante? Bu dokter yang waktu itu mengobati luka saya?" Tanya ku sambil menatap mamah nya mas Ricard.
"Ya, itu adalah saya, saya seorang dokter yang mempunyai anak seorang laki-laki dan tidak mau mengenalkan nya kepada kamu waktu itu." Ucap nya sambil melirik ke arah mas Ricard.
Aku kembali teringat waktu itu mas Ricard datang dan memang tidak mengenalkan nya kepada ku dan bahkan mas Ricard seperti yang tidak mengenali bu dokter.
"Bukan ngga mau mengenalkan mamah sama Yola, tapi waktu itu mamah kan tahu alasan nya kenapa." Ucap mas Ricard.
"Alasan? Memang nya kamu punya alasan apa mas?" Tanya ku penasaran.
"Ricard hanya ingin mencari calon pendamping yang tulus yang menerima dia apa adanya, makanya dia ngga mau kalau kamu mengetahui status nya, tapi ngomong-ngomong apa sekarang nak Yola sudah tahu siapa Ricard ini sebenar nya?"
"Ya tante, aku sudah tahu semua nya, makanya sekarang mas Ricard mengajak aku bertemu dengan om dan tante, oh iya om tante selamat anniversary, maaf saya tidak membawa apa-apa, karena mas Ricard tadi ngajak nya mendadak dan saya juga di kasih tahu nya barusan pas lagi dalam perjalanan." Ucap ku yang merasa ngga enak dengan kedua orang tua mas Ricard.
"Ngga apa-apa nak, justru anniversary kali ini Ricard memberikan hadiah yang sangat kami tunggu-tunggu." Ucap papah nya mas Ricard yang sejak tadi hanya jadi pendengar perbincangan kita.
Aku menatap mas Ricard dengan tatapan yang bingung, aku belum mengerti dengan ucapan dari papah nya mas Ricard.
"Benar kata papah, hadiah kali ini sangat berarti bagi kita semua, om dan tante tidak menginginkan apa-apa dari kalian berdua, yang om dan tante inginkan kamu memanggil om dan tante dengan panggilan papah dan mamah seperti Ricard." Ucap mamah Ricard dengan bibir tersenyum penuh ketulusan.
__ADS_1
Aku terharu mendengar nya, aku yang dari kecil tidak pernah mengenal kedua orang tua ku merasa sangat bahagia ketika aku di suruh memanggil mereka dengan panggilan papah dan mamah.
Tidak terasa air mata ku berlinang membuat kedua orang tua mas Ricard menatap ku dengan penuh tanda tanya, sedangkan mas Ricard yang sudah mengetahui kehidupan ku hanya memeluk dan menghapus air mata ku.